Demam 2 Hari dan Monosit Tinggi: Apakah Menandakan Infeksi Virus?
Demam 2 hari dengan monosit tinggi TIDAK secara spesifik menandakan infeksi virus, terutama pada pasien dengan batu ginjal kecil—evaluasi harus fokus pada kemungkinan infeksi bakteri obstruktif yang merupakan keadaan darurat urologis. 1
Prioritas Evaluasi Klinis
Pada pasien dengan batu ginjal dan demam, pertimbangan utama adalah obstructive pyelonephritis yang dapat berkembang menjadi sepsis dan kematian jika tidak ditangani segera. 1
Langkah Diagnostik Segera
Ambil minimal 2 set kultur darah dari lokasi anatomis berbeda sebelum pemberian antibiotik apapun, karena ini adalah tes dengan hasil tertinggi untuk mengidentifikasi bakteremia. 2
Periksa complete blood count dengan diferensial segera untuk mengevaluasi pola leukosit yang dapat membedakan etiologi bakteri versus viral. 2
Hitung absolute band count dan persentase neutrofil: band count >1,500/mm³ memiliki likelihood ratio 14.5 untuk infeksi bakteri, dan persentase neutrofil >90% memiliki likelihood ratio 7.5 untuk infeksi bakteri. 2
Interpretasi Monosit Tinggi
Monosit tinggi memiliki beberapa interpretasi klinis yang penting:
Monosit count >0.35×10³/μL dapat mengindikasikan infeksi viral seperti COVID-19 dengan sensitivitas 0.992 dan spesifisitas 0.368. 3
Predominansi monosit dapat menunjukkan patogen intraseluler seperti Salmonella, bukan hanya infeksi viral. 4
Pada pasien neutropenia, absolute monocyte count ≥100 cells/mm³ adalah faktor yang mengindikasikan risiko rendah untuk infeksi berat, bukan penanda spesifik infeksi viral. 4
Konteks Batu Ginjal Mengubah Interpretasi
Pada pasien dengan batu ginjal kecil dan demam:
Batu ginjal yang mengobstruksi saluran kemih dan menyebabkan pyelonephritis adalah keadaan darurat urologis yang memerlukan intervensi segera. 1
Infeksi bakteri pada batu ginjal (infection stones) lebih sering terjadi pada wanita, batu rekuren, stone burden besar, kultur urin positif, dan pH urin tinggi—bukan berdasarkan monosit tinggi. 5
Algoritma Evaluasi Berdasarkan Probabilitas Infeksi Bakteri
Jika Probabilitas Infeksi Bakteri Rendah-Sedang:
Ukur procalcitonin (PCT) atau C-reactive protein (CRP) sebagai tambahan evaluasi klinis untuk membantu menyingkirkan infeksi bakteri. 4
Pertimbangkan testing viral pathogen menggunakan nucleic acid amplification test panels jika ada gejala respiratorik (batuk) atau suspek pneumonia. 4
Jika Probabilitas Infeksi Bakteri Tinggi:
JANGAN mengukur PCT atau CRP untuk menyingkirkan infeksi bakteri—langsung mulai terapi empiris. 4
Mulai antibiotik spektrum luas segera jika ada tanda instabilitas hemodinamik, syok septik, perubahan status mental, distress respiratorik, atau suspek kolangitis. 2
Peringatan Penting
Jangan menunda konsultasi bedah atau pemberian antibiotik sambil menunggu hasil kultur jika ada kecurigaan obstructive pyelonephritis—diagnosis klinis lebih diutamakan. 6
Jangan terlalu bergantung pada ada/tidaknya demam atau leukositosis untuk menentukan tingkat keparahan infeksi, karena tanda-tanda ini dapat tidak muncul pada infeksi berat. 6
Dokumentasikan semua obat yang dimulai dalam 3 minggu terakhir, karena drug-induced fever memiliki lag time rata-rata 21 hari dan merupakan penyebab umum demam pada pasien dengan terapi imunosupresif. 2
Tanyakan riwayat perjalanan dalam 3 minggu terakhir dan paparan tick, karena enteric fever dan rickettsial infections dapat muncul dengan demam non-spesifik dan jumlah WBC normal atau rendah. 2