Can Fluconazole be used to treat a patient with Myasthenia Gravis?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: February 1, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Fluconazole Sebaiknya Dihindari pada Pasien Myasthenia Gravis

Fluconazole tidak direkomendasikan untuk pasien dengan myasthenia gravis karena dapat memperburuk kelemahan neuromuskular dan meningkatkan risiko krisis myasthenic yang mengancam jiwa. 1

Mekanisme Risiko dan Pertimbangan Keamanan

  • American Academy of Neurology merekomendasikan untuk menghindari fluconazole pada pasien myasthenia gravis karena potensi eksaserbasi gejala, dengan peringatan yang berlaku luas untuk obat-obatan yang dapat mengganggu transmisi neuromuskular 1

  • Risiko eksaserbasi yang diinduksi obat dapat memicu krisis myasthenic yang memerlukan intubasi (MGFA Class V), dengan risiko signifikan gagal napas 1

  • Sekitar 50-80% pasien dengan myasthenia gravis dapat berkembang dari penyakit okular menjadi generalisata, dan eksaserbasi yang diinduksi obat dapat memperburuk progresivitas ini 1

Alternatif Antijamur yang Lebih Aman

Untuk infeksi kandidiasis sistemik, echinocandin (caspofungin, micafungin, anidulafungin) direkomendasikan sebagai terapi awal pada pasien myasthenia gravis:

  • Caspofungin: 70 mg loading dose, kemudian 50 mg harian 1

  • Anidulafungin: 200 mg loading dose, kemudian 100 mg harian 1

  • Micafungin: 100 mg harian 1

  • Infectious Diseases Society of America merekomendasikan echinocandin sebagai terapi awal untuk kandidiasis invasif pada pasien myasthenia gravis karena profil keamanan neuromuskular yang lebih baik 1

  • Untuk infeksi jamur yang kurang berat, itraconazole dapat dipertimbangkan dengan hati-hati, meskipun interaksi azole dengan obat imunosupresif yang digunakan dalam myasthenia gravis harus dievaluasi dengan cermat 1

  • Amphotericin B deoxycholate (1 mg/kg IV harian) tetap menjadi pilihan paling aman ketika terapi antijamur sistemik diperlukan 1

Situasi Khusus: Meningitis Coccidioidal

  • Untuk meningitis coccidioidal, diperlukan konsultasi dengan spesialis penyakit infeksi dan neurologi untuk menimbang risiko infeksi yang tidak diobati versus eksaserbasi neuromuskular 1

  • Dalam kasus ini, pertimbangkan perawatan alternatif selain fluconazole, meskipun fluconazole adalah standar untuk infeksi CNS coccidioidal 2

Obat-Obat Kritis yang Harus Dihindari

Selain fluconazole, obat-obat berikut juga harus dihindari pada myasthenia gravis karena dapat memperburuk transmisi neuromuskular:

  • β-blocker 1
  • Magnesium IV 1
  • Fluoroquinolone 1
  • Aminoglikosida 1
  • Antibiotik makrolida 1

Persyaratan Monitoring Jika Terapi Antijamur Diperlukan

Setiap pasien myasthenia gravis yang memerlukan terapi antijamur harus memiliki:

  • Penilaian neurologis harian untuk kelemahan yang memburuk 1
  • Tes fungsi paru yang sering 1
  • Kemampuan monitoring tingkat ICU jika penyakit sedang hingga berat 1
  • Akses segera ke ventilasi mekanis jika terjadi kompromi pernapasan 1

Peringatan Klinis Penting

  • Pasien dengan myasthenia gravis simptomatik yang memiliki penyakit generalisata sangat rentan terhadap eksaserbasi yang diinduksi obat 3

  • Pasien myasthenia gravis yang stabil dengan sedikit gejala lebih jarang mengalami eksaserbasi, tetapi tetap memerlukan monitoring ketat saat memulai obat baru 3

  • Jika pasien memburuk setelah memulai obat baru, pengobatan harus dihentikan atau dosis dikurangi 3

References

Guideline

Management of Myasthenia Gravis with Antifungal Therapy

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2026

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Research

[Drugs that may trigger or exacerbate myasthenia gravis].

Tidsskrift for den Norske laegeforening : tidsskrift for praktisk medicin, ny raekke, 2013

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.