Penanganan Anak Sehat 5 Tahun dengan Kejang Tonik-Klonik Saat Tidur
Anak ini tidak memerlukan aktivasi layanan gawat darurat atau pencitraan otak segera, tetapi memerlukan evaluasi medis terjadwal untuk menentukan apakah terapi antikonvulsan diperlukan. 1
Tindakan Segera yang Sudah Tepat
Kejang yang berhenti sendiri dalam 3 menit tanpa intervensi adalah hal yang menguntungkan. 1 Pedoman American Heart Association menyatakan bahwa aktivasi layanan gawat darurat tidak diperlukan untuk kejang pertama kali yang:
- Berhenti dalam <5 menit 1
- Anak kembali ke kondisi baseline dalam 5-10 menit setelah kejang berhenti 1
- Tidak ada trauma, kesulitan bernapas, atau tersedak 1
- Bukan bayi <6 bulan 1
Evaluasi Medis Terjadwal yang Diperlukan
Penilaian Klinis Penting
Anak ini memerlukan evaluasi medis untuk menentukan apakah ini merupakan kejang demam (meskipun tidak disebutkan demam) atau epilepsi generalisata primer. 1
Faktor risiko untuk temuan abnormal pada pencitraan yang perlu dinilai:
- Adanya kondisi predisposisi neurologis 1
- Apakah kejang benar-benar generalisata atau ada onset fokal 1
- Status neurologis anak (pemeriksaan neurologis normal vs abnormal) 1
Pencitraan Otak: Kapan Diperlukan?
MRI jarang diindikasikan untuk anak neurologis normal dengan kejang generalisata primer karena tingkat temuan intrakranial positif sangat rendah pada kelompok ini. 1
Studi Sharma dkk menunjukkan hanya 2% pasien risiko rendah (tanpa kondisi predisposisi, kejang generalisata) memiliki temuan MRI abnormal. 1 Young dkk melaporkan hanya 6% CT positif untuk kejang generalisata, kontras dengan hampir 50% pada epilepsi fokal. 1
Pencitraan TIDAK diperlukan jika:
- Anak neurologis normal 1
- Kejang benar-benar generalisata (bukan fokal dengan generalisasi sekunder) 1
- Tidak ada tanda trauma atau kondisi predisposisi 1
Pencitraan (MRI lebih disukai daripada CT) dipertimbangkan jika:
- Ada defisit neurologis atau pemeriksaan neurologis abnormal 1
- Kejang memiliki onset fokal 1
- Usia onset sangat dini atau ada riwayat perkembangan abnormal 1
EEG: Investigasi Kunci
EEG harus dilakukan karena memiliki yield diagnostik 51% jika dilakukan dalam 24 jam setelah kejang. 2 EEG dapat membedakan antara kejang generalisata primer (yang mungkin memiliki prognosis lebih baik) versus kejang fokal dengan generalisasi sekunder. 1
Pertimbangan Terapi Antikonvulsan
Prognosis dan Keputusan Terapi
Banyak anak dengan kejang tonik-klonik generalisata memiliki "benign childhood epilepsy" yang akan hilang dengan atau tanpa pengobatan. 3 Namun, data terbaru menunjukkan manfaat pengobatan yang jelas:
Tingkat rekurensi kejang:
- 14% pada pasien yang diobati dengan antikonvulsan 4
- 73% pada pasien yang tidak diobati (p < 0.00001) 4
Temuan ini mendukung inisiasi terapi antikonvulsan setelah diagnosis epilepsy with generalized tonic-clonic seizures alone (EGTCA) dikonfirmasi. 4
Pilihan Antikonvulsan Lini Pertama
Untuk anak laki-laki atau tanpa masalah berat badan:
- Asam valproat adalah pilihan pertama 5, 6
- 19 dari 26 pasien dalam satu studi merespons baik terhadap asam valproat atau levetiracetam 5
Alternatif yang viable:
- Levetiracetam dapat menjadi pilihan pertama yang setara 5, 6
- Lamotrigine juga merupakan alternatif lini pertama 6
Catatan penting: Asam valproat tidak direkomendasikan pada anak perempuan usia subur karena risiko teratogenik dan potensi masalah kognitif. 6
Durasi Terapi
Pengobatan seumur hidup tidak selalu diperlukan. 4 Studi prospektif menunjukkan:
- Penghentian antikonvulsan dapat dicoba setelah bebas kejang minimal 2 tahun 4
- 44% mengalami rekurensi setelah penghentian obat 4
- Penghentian yang dipandu dokter memiliki hasil lebih baik daripada penghentian yang diprakarsai pasien 4
- Tidak adanya generalized spike-wave discharges pada EEG meningkatkan kemungkinan tetap bebas kejang setelah penghentian obat 4
Peringatan Penting
Jangan meremehkan kejang nokturnal: Meskipun terjadi saat tidur, kejang ini tetap memerlukan evaluasi yang sama seperti kejang diurnal. 5, 4
Suara tenggorokan yang disebutkan kemungkinan adalah "ictal cry" (udara yang dipaksa keluar melalui pita suara yang tertutup sebagian) atau pernapasan stertorous, yang merupakan fitur khas kejang tonik-klonik generalisata. 7
Jangan memberikan antipiretik dengan harapan mencegah kejang demam berulang—acetaminophen, ibuprofen, atau paracetamol tidak efektif untuk menghentikan atau mencegah kejang demam. 1
95% pasien dengan kejang tonik generalisata primer bebas kejang pada follow-up jangka panjang (rata-rata 7.6 tahun), menunjukkan prognosis yang sangat baik. 8