Obat Diabetes pada Sirosis Hepatis
Insulin adalah satu-satunya pilihan berbasis bukti untuk sirosis dekompensata dan harus dimulai di rumah sakit, sementara pada sirosis kompensata (Child-Pugh A) agonis reseptor GLP-1 menjadi lini pertama dengan metformin sebagai alternatif jika fungsi ginjal terpelihara (eGFR ≥30 mL/min). 1, 2
Algoritma Berdasarkan Stadium Sirosis
Sirosis Kompensata (Child-Pugh Kelas A)
Pilihan Lini Pertama:
- Agonis reseptor GLP-1 (semaglutide, liraglutide, dulaglutide) direkomendasikan sebagai terapi lini pertama untuk sirosis kompensata 1, 2, 3
- Metformin dapat digunakan dengan aman hanya jika eGFR ≥30 mL/min/1,73m² 1, 2
- Metformin harus segera dihentikan jika muncul tanda dekompensasi (asites, ensefalopati, perdarahan varises, ikterus) atau eGFR turun <30 mL/min 2, 3
Pilihan Alternatif:
- Inhibitor SGLT2 (empagliflozin, dapagliflozin) dapat digunakan pada Child-Pugh A 1, 2
- Dapagliflozin menunjukkan peningkatan AUC hingga 40% pada gangguan hati berat, namun tetap dapat dipertimbangkan 4
Sirosis Dekompensata atau Child-Pugh Kelas B/C
Satu-satunya Pilihan:
- Insulin adalah satu-satunya terapi berbasis bukti untuk sirosis dekompensata 1, 3
- Harus dimulai di rumah sakit karena fluktuasi glukosa yang ekstrem dan risiko hipoglikemia tinggi yang dapat disalahartikan sebagai ensefalopati hepatik 1, 3
- Target glukosa puasa optimal tidak boleh melebihi 10 mmol/L (180 mg/dL) untuk menghindari komplikasi hiperglikemia sambil meminimalkan risiko hipoglikemia 1, 3
Pengecualian untuk Child-Pugh B:
Obat yang Harus Dihindari
Kontraindikasi Absolut pada Dekompensasi:
- Metformin – risiko asidosis laktat sangat tinggi, terutama dengan gangguan ginjal bersamaan 1, 2
- Sulfonilurea (glipizide, glimepiride) – risiko hipoglikemia berat dan berkepanjangan 1, 3
- Agonis reseptor GLP-1 – tidak ada data keamanan atau efikasi pada dekompensasi, hanya disetujui untuk Child-Pugh A 1, 3, 5
Obat Lain yang Tidak Direkomendasikan:
- Thiazolidinedione, inhibitor alfa-glukosidase, dan inhibitor DPP-4 belum dipelajari secara mendalam pada sirosis dekompensata dan sebagian besar dieliminasi oleh hati atau ginjal 1
Pertimbangan Pemantauan Penting
Jangan Gunakan HbA1c:
- HbA1c tidak dapat diandalkan untuk diagnosis atau pemantauan pada sirosis dekompensata karena perubahan turnover sel darah merah dan anemia 1, 3
- Gunakan pemantauan glukosa point-of-care sebagai gantinya 3
Penilaian Fungsi Hati dan Ginjal:
- Tentukan klasifikasi Child-Pugh segera untuk menentukan jalur pengobatan terbaik 3
- Periksa eGFR untuk menilai risiko asidosis laktat terkait metformin 2, 3
- Pantau eGFR setidaknya setiap tahun pada semua pasien yang menggunakan metformin 2
Peringatan Klinis Penting
Risiko Hipoglikemia:
- Hipoglikemia pada sirosis dapat mengubah fungsi mental dan keliru didiagnosis sebagai ensefalopati hepatik, mempersulit manajemen 1, 3
- Terapi insulin memerlukan pemantauan ketat karena variabilitas glukosa yang tidak dapat diprediksi 1, 3
Dampak Diabetes pada Hasil Sirosis:
- Diabetes secara signifikan memperburuk hasil sirosis, meningkatkan risiko asites, disfungsi ginjal, ensefalopati hepatik, infeksi bakteri, dan karsinoma hepatoseluler 3, 6, 7
- Diabetes meningkatkan risiko ensefalopati hepatik overt pertama kali dengan hazard ratio 1,86 pada pasien sirosis dengan asites 7
Penurunan Berat Badan dengan Hati-hati:
- Jangan gunakan agonis GLP-1 untuk penurunan berat badan pada pasien sirosis, karena penurunan berat badan cepat dapat memicu dekompensasi bahkan pada sirosis yang sebelumnya kompensata 5