Kapan Bicarbonate Intravena Diberikan pada CKD dengan Asidosis Metabolik?
Bikarbonat intravena pada pasien CKD dengan asidosis metabolik hanya diberikan dalam situasi akut yang mengancam jiwa dengan pH <7.1, bukan untuk asidosis metabolik kronik—terapi oral adalah pilihan untuk manajemen jangka panjang. 1, 2
Indikasi Spesifik untuk Bikarbonat Intravena
Situasi Akut yang Memerlukan IV Bikarbonat
- pH <7.1 dengan asidosis metabolik berat merupakan ambang batas utama untuk pemberian bikarbonat intravena pada pasien CKD 1, 2
- Hiperkalemia yang mengancam jiwa dengan perubahan EKG memerlukan bikarbonat IV sebagai terapi temporisasi sambil memulai terapi definitif 1
- Cardiac arrest dengan asidosis berat terdokumentasi (pH <7.1) setelah dosis epinefrin pertama tidak efektif 1
- Ketoasidosis diabetik dengan pH <6.9 pada pasien CKD yang mengalami DKA 3, 1
- Intoksikasi sodium channel blocker atau antidepresan trisiklik dengan toksisitas kardiak yang mengancam jiwa 1
Kontraindikasi Relatif untuk IV Bikarbonat
- Asidosis laktat akibat hipoperfusi dengan pH ≥7.15 tidak memerlukan bikarbonat, karena dua RCT menunjukkan tidak ada perbaikan hemodinamik atau kebutuhan vasopresor 1
- Asidosis terkait sepsis dengan pH ≥7.15 tidak mendapat manfaat dari bikarbonat dan berpotensi membahayakan 1
- Asidosis metabolik kronik CKD yang stabil harus dikelola dengan terapi oral, bukan IV 1, 4, 5
Algoritma Pengambilan Keputusan
Langkah 1: Evaluasi Kegawatan
- Periksa pH arteri atau vena (pH vena biasanya 0.03 unit lebih rendah dari arteri) 4
- Ukur bikarbonat serum dan hitung anion gap 3, 4
- Nilai status hemodinamik dan ada tidaknya syok 1
- Lakukan EKG untuk mendeteksi perubahan terkait hiperkalemia atau intoksikasi 3, 1
Langkah 2: Tentukan Penyebab Asidosis
- High anion gap acidosis: pertimbangkan ketoasidosis, asidosis laktat, uremia, atau intoksikasi 3, 4
- Normal anion gap acidosis: evaluasi kehilangan bikarbonat GI atau asidosis tubular renal 4
- Pada CKD lanjut: biasanya kombinasi peningkatan anion unmeasured dan hiperchloremia 6, 7
Langkah 3: Pilih Terapi Berdasarkan Situasi Klinis
Jika pH <7.1 DAN Asidosis Metabolik Berat:
- Berikan bikarbonat IV 1-2 mEq/kg (50-100 mEq atau 50-100 mL larutan 8.4%) secara perlahan selama beberapa menit 1
- Target pH 7.2-7.3, bukan normalisasi penuh 1
- Pastikan ventilasi adekuat sebelum pemberian untuk eliminasi CO2 yang dihasilkan 1
Jika pH 7.1-7.15:
- Fokus pada terapi penyebab dasar: resusitasi cairan, insulin untuk DKA, vasopresor untuk syok 1, 4
- Bikarbonat IV tidak direkomendasikan secara rutin pada rentang pH ini 1
- Pertimbangkan bikarbonat hanya jika ada indikasi spesifik (hiperkalemia, intoksikasi) 1
Jika pH ≥7.15:
- Jangan berikan bikarbonat IV untuk asidosis laktat atau terkait sepsis 1
- Terapi penyebab dasar adalah prioritas 1, 4
Langkah 4: Dosis dan Pemberian
- Dosis awal dewasa: 1-2 mEq/kg IV (50-100 mL larutan 8.4%) diberikan perlahan 1
- Untuk hiperkalemia: kombinasikan dengan glukosa/insulin untuk efek sinergis 1
- Untuk intoksikasi sodium channel blocker: bolus 50-150 mEq, diikuti infus 150 mEq/L dengan kecepatan 1-3 mL/kg/jam 1
- Jangan campur dengan larutan mengandung kalsium atau amin vasoaktif 1
Langkah 5: Monitoring Ketat
- Gas darah arteri/vena setiap 2-4 jam untuk menilai pH, PaCO2, dan respons bikarbonat 1, 4
- Elektrolit serum setiap 2-4 jam: natrium (target <150-155 mEq/L), kalium, kalsium terionisasi 1
- Hindari hipernatremia, alkalemia (pH >7.55), dan hipokalemia 1
Manajemen Jangka Panjang: Transisi ke Terapi Oral
Kapan Beralih ke Oral
- Setelah stabilisasi akut dan pH mencapai ≥7.2-7.3 1
- Pasien dapat mentoleransi asupan oral 4
- Tidak ada penyakit kritis aktif yang memerlukan monitoring intensif 4
Terapi Oral untuk CKD dengan Asidosis Kronik
- Target bikarbonat serum ≥22 mmol/L untuk mencegah katabolisme protein, penyakit tulang, dan progresi CKD 4, 5, 7
- Dosis natrium bikarbonat oral: 2-4 g/hari (25-50 mEq/hari) dibagi 2-3 dosis 5, 7
- Monitoring bikarbonat serum bulanan pada awalnya, kemudian minimal setiap 3-4 bulan setelah stabil 4, 5
- Alternatif diet: meningkatkan konsumsi buah dan sayuran dapat mengurangi produksi asam bersih dan meningkatkan bikarbonat 5, 7
Peringatan Penting dan Pitfall Umum
Efek Samping Bikarbonat IV
- Hipernatremia dan hiperosmolaritas dari beban natrium 1
- Hipokalemia karena pergeseran kalium intraseluler—monitor dan ganti kalium 1, 4
- Hipokalsemia terionisasi yang dapat memperburuk kontraktilitas jantung 1
- Peningkatan produksi CO2 yang memerlukan ventilasi adekuat untuk eliminasi 1
- Overload cairan dan natrium terutama pada CKD lanjut dengan oliguria 1
Kesalahan yang Harus Dihindari
- Jangan berikan bikarbonat tanpa memastikan ventilasi adekuat—dapat menyebabkan asidosis intraseluler paradoksal 1
- Jangan gunakan bikarbonat untuk asidosis respiratorik—terapi dengan ventilasi, bukan bikarbonat 1, 4
- Jangan normalisasi pH secara penuh—target pH 7.2-7.3 sudah cukup 1
- Jangan abaikan penyebab dasar—bikarbonat hanya membeli waktu, bukan mengobati penyakit 1, 4
- Jangan berikan bikarbonat rutin pada cardiac arrest—hanya setelah epinefrin pertama gagal atau dalam situasi spesifik 1
Pertimbangan Khusus pada CKD
- Pasien CKD dengan gagal jantung lanjut atau hipertensi berat: hati-hati dengan beban natrium dari bikarbonat 5, 7
- Pasien dialisis: gunakan dialisat berbasis bikarbonat (38 mmol/L) dikombinasi dengan suplementasi oral 5
- Hindari sitrat pada pasien CKD yang terpapar aluminium—dapat meningkatkan absorpsi aluminium 7
Kesimpulan Praktis
Bikarbonat intravena pada CKD dengan asidosis metabolik adalah terapi akut untuk situasi mengancam jiwa (pH <7.1), bukan manajemen rutin. Mayoritas pasien CKD dengan asidosis kronik memerlukan terapi oral jangka panjang dengan target bikarbonat ≥22 mmol/L untuk mencegah komplikasi dan memperlambat progresi penyakit. 1, 4, 5, 7