Menyusui Aman untuk Bayi dari Ibu HBsAg Positif
Ya, bayi boleh menyusu langsung setelah lahir dari ibu dengan HBsAg positif, asalkan bayi menerima vaksin hepatitis B dan HBIG dalam 12 jam pertama setelah lahir. 1
Manajemen Segera Setelah Lahir (Dalam 12 Jam)
Langkah kritis yang harus dilakukan:
- Berikan vaksin hepatitis B dosis tunggal DAN HBIG (0,5 mL) dalam waktu <12 jam setelah lahir, di tempat suntikan yang berbeda 1
- Profilaksis ganda ini wajib diberikan untuk mencegah infeksi kronis dan komplikasi serius seperti sirosis dan karsinoma hepatoseluler 2
- Menyusui dapat dimulai segera setelah lahir, tidak perlu menunggu sampai bayi diimunisasi 3
Keamanan Menyusui Berdasarkan Bukti Terkuat
Pedoman dari Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) dan European Association for the Study of the Liver (EASL) dengan tegas menyatakan:
- Menyusui tidak meningkatkan risiko penularan HBV pada bayi yang telah menerima imunoprofilaksis yang tepat 1, 3
- Manfaat menyusui (nutrisi, imunologi, dan perkembangan) jauh melebihi risiko minimal penularan HBV ketika profilaksis yang tepat diberikan 3
- Ibu yang sedang dalam terapi tenofovir untuk HBV tetap aman untuk menyusui 3, 4
Bukti penelitian mendukung keamanan ini:
- Studi dengan 546 anak menunjukkan prevalensi HBsAg pada bayi yang disusui adalah 1,5% dibandingkan 4,7% pada bayi yang diberi susu formula (P=0,063), dan analisis regresi logistik mengkonfirmasi bahwa menyusui bukan faktor risiko untuk penularan HBV 5
- Penelitian dengan 369 bayi menunjukkan tidak ada satupun dari 101 bayi yang disusui menjadi HBsAg positif, dibandingkan dengan 9 dari 268 bayi yang diberi susu formula (3%) yang terinfeksi (P=0,063) 6
- Studi lain dengan 230 bayi menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dalam tingkat kegagalan imunoprofilaksis antara bayi yang disusui dan yang diberi susu formula 7
Jadwal Vaksinasi Lengkap
Untuk bayi dengan berat lahir ≥2.000 gram:
- Dosis lahir dihitung sebagai dosis pertama dari seri vaksin 2
- Lengkapi seri 3 dosis sesuai jadwal untuk bayi dari ibu HBsAg-positif 1
- Dosis terakhir tidak boleh diberikan sebelum usia 24 minggu (164 hari) 1, 2
Untuk bayi prematur dengan berat lahir <2.000 gram:
- Dosis lahir TIDAK dihitung sebagai bagian dari seri vaksin karena imunogenisitas yang berpotensi berkurang 1, 2
- Berikan 3 dosis tambahan (total 4 dosis) dimulai saat bayi berusia 1 bulan 1, 2
Pemeriksaan Serologis Pasca-Vaksinasi
Waktu dan metode pemeriksaan:
- Lakukan pemeriksaan anti-HBs dan HBsAg setelah seri vaksin selesai, pada usia 9-12 bulan (umumnya pada kunjungan well-child berikutnya) 1, 2
- Jangan melakukan pemeriksaan sebelum usia 9 bulan untuk menghindari deteksi anti-HBs pasif dari HBIG yang diberikan saat lahir 1, 2
- Gunakan metode yang dapat mendeteksi konsentrasi protektif anti-HBs (≥10 mIU/mL) 1, 2
Interpretasi hasil dan tindak lanjut:
- HBsAg-negatif dengan anti-HBs ≥10 mIU/mL: Bayi terlindungi, tidak perlu manajemen lebih lanjut 1, 2
- HBsAg-negatif dengan anti-HBs <10 mIU/mL: Vaksinasi ulang dengan dosis tunggal vaksin HepB dan uji ulang 1-2 bulan kemudian 1, 2
- HBsAg-positif: Bayi memiliki infeksi HBV kronis meskipun sudah mendapat profilaksis; rujuk segera untuk tindak lanjut hepatologi 1, 2
Peringatan Penting dan Pertimbangan Khusus
Kondisi yang memerlukan perhatian:
- Pantau dan obati kondisi payudara seperti puting pecah-pecah yang dapat meningkatkan paparan virus 3
- Pedoman EASL 2023 menyatakan dengan konsensus 100% bahwa menyusui tidak boleh dihalangi kecuali ibu memiliki puting pecah-pecah dengan HBV DNA yang terdeteksi atau bayi memiliki ulkus oral 4
Kesalahan umum yang harus dihindari:
- Menunda atau melarang menyusui berdasarkan panduan yang sudah usang—bukti terkini menunjukkan keamanan dengan imunoprofilaksis bayi yang tepat 3, 4
- Gagal memberikan HBIG dan vaksin dalam 12 jam pertama—ini adalah jendela kritis untuk pencegahan 1, 2
- Tidak melakukan pemeriksaan serologis tindak lanjut pada usia 9-12 bulan—ini penting untuk memastikan perlindungan 1, 2
Komunikasi antar fasilitas:
- Untuk bayi yang dipindahkan ke fasilitas lain setelah lahir (misalnya, rumah sakit dengan tingkat perawatan neonatal yang lebih tinggi), staf di fasilitas pengirim dan penerima harus berkomunikasi mengenai status vaksinasi HepB dan penerimaan HBIG bayi untuk memastikan profilaksis diberikan tepat waktu 1, 2