Terapi untuk Produksi ASI yang Berkurang
Tingkatkan frekuensi menyusui atau memompa ASI menjadi minimal 8-12 kali per 24 jam sebagai langkah pertama, dan jika intervensi non-farmakologis gagal, pertimbangkan domperidone atau metoclopramide sebagai galaktagog farmakologis.
Langkah 1: Optimalisasi Intervensi Non-Farmakologis Terlebih Dahulu
Sebelum mempertimbangkan obat-obatan, pastikan semua faktor non-farmakologis telah dioptimalkan:
Frekuensi Menyusui/Memompa
- Tingkatkan frekuensi menyusui atau memompa menjadi minimal 8-12 kali per 24 jam untuk mengoptimalkan produksi ASI 1
- Mulai memompa 3-6 jam setelah persalinan jika bayi tidak dapat menyusu langsung 2
- Gunakan pompa ASI elektrik hospital-grade dengan teknik simultan (kedua payudara bersamaan) minimal 5 kali per hari 2
Teknik Menyusui yang Benar
- Pastikan pelekatan (latch) yang tepat untuk memastikan pengosongan payudara yang efektif 1
- Tambahkan teknik komplementer seperti hand expression, hands-on-pumping, pijat payudara, dan kompres hangat untuk meningkatkan volume ASI 2
Faktor Maternal
- Pastikan hidrasi dan nutrisi ibu yang adekuat untuk mendukung laktasi 1
- Lakukan kontak kulit-ke-kulit (skin-to-skin care) dengan bayi 2
- Ibu sebaiknya memompa ASI di dekat bayinya, karena dapat meningkatkan volume ASI 2
Akses ke Pompa ASI
- Pastikan tersedia pompa ASI jika ada penundaan dalam menyusui bayi, untuk mengelola peningkatan produksi ASI 1
Langkah 2: Identifikasi Penyebab yang Mendasari
Sebelum memulai terapi farmakologis, evaluasi kemungkinan penyebab:
- Faktor maternal: perdarahan postpartum, operasi reduksi payudara, atau kondisi medis lainnya 3
- Faktor bayi: tongue-tie, penyakit pada bayi, atau masalah kesehatan lainnya 3
- Hipoplasia mammae: kondisi langka di mana ibu tidak memiliki jaringan kelenjar yang cukup untuk memproduksi ASI yang adekuat, ditandai dengan payudara yang berjarak lebar (≥1,5 inci), asimetris, atau tubular 4
- Fungsi tiroid: periksa fungsi tiroid karena dapat mempengaruhi produksi ASI 5
Langkah 3: Pertimbangkan Intervensi Farmakologis
Jika intervensi non-farmakologis gagal, galaktagog farmakologis dapat dipertimbangkan:
Pilihan Utama: Metoclopramide atau Domperidone
Metoclopramide:
- Dapat meningkatkan produksi ASI dan secara eksplisit kompatibel dengan ibu menyusui 6, 1
- Kadar dalam ASI rendah karena metabolisme first-pass hepatik 6
- Peringatan: metoclopramide memiliki black box warning untuk efek samping serius yang potensial 7
Domperidone:
- Digunakan sebagai galaktagog dan dapat meningkatkan produksi ASI 6
- Kadar dalam ASI rendah karena metabolisme first-pass hepatik dan intestinal 6
- Lebih disukai dibandingkan metoclopramide karena profil keamanan yang lebih baik 7, 3
- Pastikan ibu memiliki akses ke pompa ASI jika ada penundaan dalam menyusui bayi 6
- Catatan penting: Domperidone tidak disetujui FDA, namun diidentifikasi sebagai obat utama untuk induksi laktasi 1
Peringatan Penting
- Hindari obat-obatan yang dapat menghambat laktasi, seperti atropin (dapat menghambat laktasi meskipun kompatibel dengan menyusui) 6, 8
- Hindari antihistamin (seperti dalam NyQuil) untuk penggunaan rutin atau berkepanjangan, terutama pada periode postpartum awal saat laktasi sedang terbentuk, karena dapat menghambat laktasi 8
- Merokok atau penggunaan produk nikotin dikaitkan dengan penurunan produksi ASI dan durasi laktasi yang lebih pendek 6
Pertimbangan Khusus
Untuk Ibu dengan Bayi Prematur di Rumah Sakit
- Ibu dari bayi prematur yang dirawat di rumah sakit memiliki risiko lebih tinggi untuk produksi ASI yang tidak adekuat 7
- Protokol pengobatan domperidone khusus telah dikembangkan untuk populasi ini dengan koordinasi tim obstetri, neonatal, laktasi, dan farmakologi 7
Dukungan Tambahan
- Staf terlatih dalam dukungan menyusui harus tersedia untuk membantu jika diperlukan, termasuk bantuan memompa ASI jika terjadi pemisahan yang berkepanjangan 6
- Pompa ASI harus tersedia untuk mengurangi risiko mastitis 6