Krisis Myastenia Post Thymomectomy: Tanda, Gejala, dan Terapi
Krisis myastenia post thymomectomy memerlukan penanganan segera dengan monitoring fungsi respirasi ketat, terapi imunosupresif agresif (kortikosteroid, IVIG, atau plasmapheresis), dan penghindaran obat-obatan yang memperburuk blokade neuromuskular. 1
Tanda dan Gejala Klinis
Manifestasi Respirasi (Paling Kritis)
- Kelemahan otot respirasi merupakan tanda paling mengancam jiwa, memerlukan monitoring negative inspiratory force (NIF) dan vital capacity (VC) secara serial 1
- Dispnea dan gagal napas dapat terjadi, terutama pada pasien dengan forced vital capacity (FVC) preoperatif ≤65% dari prediksi 2
- Lebih dari 50% kasus krisis myastenia didahului oleh disfagia dan kelemahan bulbar, yang merupakan tanda peringatan dini untuk gagal napas 3
Manifestasi Bulbar dan Orofasial
- Disfagia (kesulitan menelan) - tanda peringatan kritis untuk krisis yang akan datang 3
- Disartria (kesulitan berbicara) dan kelemahan otot wajah 4
- Ptosis (kelopak mata turun) yang bervariasi dan memburuk dengan kelelahan 4
- Gangguan gerakan ekstraokular dengan diplopia (penglihatan ganda) 4, 3
Manifestasi Generalisata
- Kelemahan otot proksimal lebih berat dari distal, memburuk dengan aktivitas 3
- Kelemahan leher dan ekstremitas 4
- Gejala memburuk dengan kelelahan dan membaik dengan istirahat 4
Terapi Krisis Myastenia Post Thymomectomy
Manajemen Segera (Prioritas Tertinggi)
Monitoring Respirasi Intensif:
- Ukur NIF dan VC secara serial untuk deteksi dini insufisiensi respirasi 1
- Kriteria intubasi: VC <15-20 mL/kg, NIF <-30 cmH₂O, atau tanda klinis distress respirasi 1
- Pasien memerlukan monitoring tingkat ICU 4, 1
Hindari Obat-obatan yang Memperburuk:
- β-blocker, magnesium IV, fluoroquinolone, aminoglikosida, dan makrolida harus dihindari karena dapat memperburuk blokade neuromuskular 4, 1, 3
Terapi Farmakologis Bertahap
Grade 2 (Kelemahan Ringan-Sedang, MGFA Class I-II):
- Pyridostigmine: Mulai 30 mg oral 3x/hari, tingkatkan bertahap hingga maksimal 120 mg oral 4x/hari sesuai toleransi 4, 3
- Kortikosteroid: Prednison 1-1.5 mg/kg/hari oral jika gejala menetap atau Grade 2 4, 1
- Dapat melanjutkan thymectomy jika gejala membaik, namun harus konsultasi neurologi 4
Grade 3-4 (Kelemahan Berat hingga Krisis, MGFA Class III-V):
- Hentikan permanen immune checkpoint inhibitor jika ada 4
- Rawat inap dengan monitoring ICU 4, 1
- Konsultasi neurologi segera 4, 1
Terapi Imunosupresif Agresif:
- IVIG: 2 g/kg IV selama 5 hari (0.4 g/kg/hari) 4, 1
- ATAU Plasmapheresis: 5 siklus dalam 5 hari 4, 1
- Kortikosteroid: Methylprednisolone 1-2 mg/kg/hari IV, tapering berdasarkan perbaikan gejala 4, 1
- Pyridostigmine: Lanjutkan dan tapering berdasarkan perbaikan 4, 1
Perawatan Suportif
- Profilaksis trombosis vena dalam untuk pasien imobilisasi 1
- Dukungan nutrisi, sering memerlukan feeding enteral 1
- Monitor dan terapi disfungsi otonom 1
- Pemeriksaan neurologis harian 4
- Cardiac monitoring: Periksa troponin dan EKG untuk menyingkirkan myocarditis konkomitan 4
Weaning dari Ventilator
Kriteria Memulai Weaning:
- Perbaikan klinis dengan kekuatan otot membaik 1
- VC adekuat dan NIF membaik 1
- Status respirasi stabil >24 jam 1
Proses Ekstubasi:
- Mulai weaning trial bertahap 1
- Pneumonia postoperatif secara signifikan memperpanjang durasi ventilasi mekanik (P=0.012) 5
Manajemen Jangka Panjang Post-Krisis
- Sesuaikan terapi imunosupresif maintenance: Kortikosteroid dan azathioprine 1
- Edukasi pasien: Kenali tanda dini krisis dan trigger potensial (stress, infeksi, obat-obatan tertentu) 1
- Follow-up teratur: Monitor stabilitas penyakit dan efek samping obat 1
Faktor Risiko Krisis Post Thymomectomy
Faktor Preoperatif yang Meningkatkan Risiko:
- Riwayat krisis myastenia sebelumnya (OR 11.84, P=0.045) 6
- Myasthenia gravis tidak stabil sebelum operasi (OR 29.45, P=0.013) 6
- Osserman stage tinggi (IIb, III, IV) (P<0.001) 7, 5
- FVC preoperatif ≤65% dari prediksi (OR 0.916, sensitivitas 58.3%, spesifisitas 97.2%) 2
- Durasi gejala >12 bulan 5
- Thymoma (P<0.001) 7, 5
- Transsternal thymectomy (versus pendekatan minimal invasif) 5
Faktor Postoperatif:
- Komplikasi mayor postoperatif terutama pneumonia (P<0.001) 7, 5
- 67% pasien dengan krisis post thymomectomy mengalami gagal napas dalam 1-2 tahun pertama onset penyakit 2
Pitfall yang Harus Dihindari
- Kegagalan mengenali insufisiensi respirasi dini - monitor NIF dan VC secara proaktif, jangan tunggu distress klinis 1
- Pemberian obat-obatan kontraindikasi - selalu cek daftar obat yang memperburuk myasthenia sebelum prescribing 4, 1
- Follow-up jangka panjang tidak adekuat setelah resolusi krisis - pasien memerlukan monitoring berkelanjutan 1
- Optimisasi preoperatif tidak adekuat - pasien dengan myasthenia tidak stabil atau riwayat krisis memerlukan stabilisasi medis agresif sebelum thymectomy 6
Prognosis
- Dengan manajemen modern, krisis myastenia post thymomectomy dapat ditangani dengan aman dan outcome jangka panjang baik 8
- Semua pasien dalam studi berhasil di-weaning dari ventilator setelah median 5.6 hari (range 2-26 hari) 6
- Post thymectomy mengurangi frekuensi krisis myastenia dan kebutuhan medikasi secara signifikan 8
- Tingkat respons bedah tidak berbeda signifikan antara pasien dengan dan tanpa krisis postoperatif (66.7% vs 85.4%, P=0.334) 6