Manajemen Pasien dengan Suspek Sindrom Stevens-Johnson
Rekomendasi Utama
Pasien ini memerlukan transfer segera ke unit perawatan intensif atau pusat luka bakar dengan tim multidisiplin yang berpengalaman menangani SJS/TEN, hentikan semua obat yang dicurigai sebagai penyebab, dan mulai perawatan suportif intensif dengan monitoring ketat. 1, 2
Langkah Segera yang Harus Dilakukan
1. Hentikan Semua Obat yang Dicurigai
- Identifikasi dan hentikan segera semua obat yang dimulai dalam 4-28 hari sebelum onset ruam, terutama antibiotik, antikonvulsan, allopurinol, NSAID, atau obat lain yang diberikan selama rawat inap sebelumnya di RS 1, 2, 3
- Dokumentasikan semua obat yang telah dihentikan untuk laporan farmakologivigilans 1
2. Transfer ke Fasilitas Spesialis
- Transfer segera ke ICU atau unit luka bakar dengan tim multidisiplin (dermatologi, intensivis, oftalmologi, perawat spesialis perawatan kulit) karena keterlambatan transfer meningkatkan risiko mortalitas secara signifikan 1, 2, 4
- Jangan menunda transfer sambil menunggu konfirmasi diagnosis histopatologi 4, 3
3. Hitung Skor SCORTEN dalam 24 Jam Pertama
- Hitung SCORTEN untuk memprediksi risiko mortalitas berdasarkan 7 parameter: usia >40 tahun, takikardia >120x/menit, kanker/keganasan, luas permukaan tubuh terlibat >10%, ureum >10 mmol/L, bikarbonat <20 mmol/L, glukosa >14 mmol/L 1, 2, 5
- Pasien ini memiliki beberapa faktor risiko: takikardia (104x/menit), hipotensi (93/60 mmHg), dan hiperglikemia (GDS 152 mg/dL) 1
Perawatan Suportif Intensif
Manajemen Cairan dan Hemodinamik
- Lanjutkan resusitasi cairan dengan hati-hati menggunakan RL, tetapi hindari resusitasi cairan yang terlalu agresif karena dapat menyebabkan edema paru, kutaneus, dan intestinal 2
- Monitor tanda vital setiap 15 menit pada fase awal, termasuk tekanan darah, nadi, laju pernapasan, dan suhu untuk mendeteksi komplikasi seperti sepsis atau TACO 1, 2
- Pertimbangkan pemasangan kateter vena sentral untuk monitoring CVP jika diperlukan 1
Perawatan Kulit
- Tangani kulit dengan sangat lembut untuk meminimalkan gaya geser yang menyebabkan detasemen epidermis lebih lanjut 1, 2
- Bersihkan luka secara teratur dengan irigasi lembut menggunakan air steril hangat, saline, atau chlorhexidine (1/5000) 1, 2
- Oleskan emolien berminyak (white soft paraffin) ke seluruh epidermis setiap 4 jam, termasuk area yang terkelupas 1, 2
- Biarkan epidermis yang terlepas tetap in situ untuk bertindak sebagai biological dressing 1, 2
Manajemen Mukosa Oral (Bibir Bengkak)
- Oleskan white soft paraffin ointment ke bibir segera dan kemudian setiap 2 jam sepanjang penyakit akut 1, 2
- Gunakan obat kumur mukoprotektan (misalnya Gelclair) tiga kali sehari untuk melindungi permukaan mukosa yang mengalami ulserasi 1
- Bersihkan mulut setiap hari dengan obat kumur saline hangat atau spons oral, menyapu dengan lembut di sulkus labial dan bukal untuk mengurangi risiko jaringan parut fibrotik 1
- Gunakan obat kumur atau spray anti-inflamasi yang mengandung benzydamine hydrochloride setiap 3 jam, terutama sebelum makan 1
- Jika nyeri tidak terkontrol dengan benzydamine, gunakan preparat anestesi topikal seperti viscous lidocaine 2%, 15 mL per aplikasi 1
- Gunakan obat kumur antiseptik dua kali sehari untuk mengurangi kolonisasi bakteri pada mukosa: hydrogen peroxide 1,5% atau chlorhexidine digluconate 0,2% 1
- Ambil swab oral dan bibir secara teratur jika dicurigai infeksi bakteri atau kandida sekunder 1
Pemeriksaan Oftalmologi Darurat
- Atur pemeriksaan oftalmologi dalam 24 jam sejak diagnosis dengan review harian sepanjang penyakit akut untuk mencegah gangguan penglihatan permanen 1, 2
- Aplikasikan tetes mata pelumas bebas pengawet setiap 2 jam sepanjang penyakit akut 1, 2
- Lakukan kebersihan okular harian oleh oftalmologis atau perawat terlatih oftalmologi untuk menghilangkan debris inflamasi dan memecah adhesi konjungtiva 1, 2
Manajemen Muntah dan Nutrisi
- Pasang nasogastric tube halus dan lembut untuk nutrisi enteral karena pasien mengalami muntah 2 hari dan kemungkinan tidak dapat makan per oral 1
- Berikan nutrisi enteral dini untuk mempertahankan integritas mukosa gastrointestinal 1
Pemeriksaan Laboratorium Tambahan yang Diperlukan
- Segera lengkapi: Hb (kosong pada hasil lab), fungsi ginjal (ureum, kreatinin), elektrolit, fungsi hati, albumin, bikarbonat, analisis gas darah 1, 2
- Kultur: Ambil swab kulit dari lesi untuk kultur bakteri dan kandida, kultur darah jika dicurigai sepsis 1, 2
- Biopsi kulit: Untuk konfirmasi histopatologi menunjukkan nekrolisis epidermal full-thickness akibat apoptosis keratinosit yang ekstensif 1, 6
Terapi Imunomodulator Sistemik
Pilihan Utama: Kortikosteroid Sistemik
- Berikan IV methylprednisolone 0,5-1 mg/kg/hari jika dimulai dalam 72 jam sejak onset, dengan konversi ke kortikosteroid oral saat respons tercapai dan tapering minimal 4 minggu 1, 2
- Bukti menunjukkan manfaat pada beberapa studi jika diberikan dini 1, 2
Pilihan Alternatif: Siklosporin
- Pertimbangkan siklosporin 3 mg/kg/hari selama 10 hari, ditaper selama 1 bulan, yang telah menunjukkan manfaat dengan penurunan mortalitas dibandingkan angka prediksi 1, 2
- Idealnya diberikan di bawah supervisi tim MDT spesialis skin failure dalam konteks penelitian klinis atau registri kasus 1, 2
Manajemen Infeksi
Prinsip Penting: JANGAN Berikan Antibiotik Profilaksis
- JANGAN berikan antibiotik sistemik profilaksis karena ini meningkatkan kolonisasi kulit, terutama dengan Candida albicans dan organisme resisten 1, 2
- Monitor dengan cermat tanda klinis infeksi dan lakukan swab kulit reguler untuk kultur bakteri dan kandida dari kulit lesi 1, 2
- Berikan terapi antimikroba yang ditargetkan HANYA ketika tanda klinis infeksi hadir 1, 2
- Waspadai monokultur organisme pada swab kultur dari beberapa situs, yang menunjukkan kemungkinan infeksi invasif yang lebih tinggi 1, 2
Monitoring Infeksi Sekunder
- Sepsis adalah penyebab utama morbiditas dan fatalitas pada fase akut 5, 3
- Periksa tanda vital termasuk suhu secara ketat untuk deteksi dini sepsis 1, 2
Kesalahan yang Harus Dihindari
- Jangan tunda pengenalan dan transfer ke perawatan spesialis karena secara signifikan meningkatkan risiko mortalitas 2, 4
- Jangan gagal melibatkan oftalmologi dalam 24 jam karena menyebabkan gangguan penglihatan permanen 1, 2
- Jangan gunakan antibiotik profilaksis secara sembarangan karena meningkatkan kolonisasi organisme resisten 1, 2
- Jangan lakukan resusitasi cairan yang terlalu agresif karena menyebabkan edema paru, kutaneus, dan intestinal 2
Dokumentasi dan Pelaporan
- Dokumentasikan alergi obat di catatan medis pasien dan informasikan semua penyedia layanan kesehatan yang terlibat dalam perawatan mereka 1, 2
- Laporkan reaksi obat merugikan ke otoritas farmakologivigilans (di Indonesia: BPOM) 1, 2
- Berikan informasi tertulis tentang obat penyebab yang harus dihindari dan obat yang berpotensi bereaksi silang 1, 2
Rencana Follow-up Jangka Panjang
- Atur janji klinik rawat jalan dermatologi dan oftalmologi dalam beberapa minggu setelah pulang 1, 2
- Anjurkan pasien untuk memakai gelang MedicAlert yang mencantumkan nama obat penyebab 1, 2
- Komplikasi kronis dapat berkembang minggu hingga bulan setelah episode akut dan berhubungan dengan morbiditas signifikan dan penurunan kualitas hidup 1, 3