Saraf Kejepit (Neuropati Kompresi)
Saraf kejepit adalah kondisi di mana saraf perifer mengalami kompresi atau jepitan di lokasi anatomis tertentu, menyebabkan nyeri, kelemahan otot, kesemutan, atau parestesia pada area yang dipersarafi. 1, 2
Definisi dan Mekanisme
Neuropati kompresi terjadi ketika saraf perifer tertekan di terowongan fibro-oseus atau oleh struktur anatomis di sekitarnya 2, 3. Kondisi ini dapat disebabkan oleh:
- Jepitan di terowongan anatomis seperti carpal tunnel (saraf kejepit paling sering di ekstremitas atas) 2
- Kompresi eksternal seperti pada nervus peroneus di kepala fibula 2
- Massa tumor (jinak atau ganas) yang menekan saraf 1, 2
- Pembuluh darah yang berdenyut dapat menekan segmen saraf secara mekanis ("punching vessel syndrome") 4
- Hematoma, abses, aneurisma, atau endometriosis yang melibatkan pleksus saraf 1
Gambaran Klinis yang Membedakan
Karakteristik Saraf Kejepit vs Radikulopati
Perbedaan kunci: Distribusi nyeri pada saraf kejepit melintasi beberapa dermatom, berbeda dengan radikulopati yang mengikuti satu dermatom tunggal 1, 5:
- Nyeri menyebar di area yang dipersarafi oleh beberapa saraf dari pleksus yang terkena 1
- Kelemahan terjadi di region yang dipersarafi oleh beberapa saraf 1
- Gangguan sensorik melintasi distribusi beberapa saraf 1
Gejala Spesifik Berdasarkan Lokasi
- Ekstremitas atas: Carpal tunnel syndrome dan neuropati ulnaris di siku adalah manifestasi tersering 2, 6
- Ekstremitas bawah: Nervus peroneus paling sering terkena, biasanya di kepala fibula akibat kompresi eksternal 2
- Sindrom piriformis: Nervus iskiadikus terjepit oleh otot piriformis karena variasi anatomis 1
Faktor Risiko yang Harus Diidentifikasi
- Diabetes mellitus meningkatkan risiko neuropati kompresi secara signifikan 7
- Posisi bedah yang tidak tepat terutama untuk neuropati peroneus dan femoralis 7
- Deformitas anatomis yang menciptakan titik kompresi 7
- Riwayat pembedahan sebelumnya meningkatkan risiko hingga 30% untuk cedera saraf berulang 8
Pendekatan Diagnostik Algoritmik
Langkah 1: Evaluasi Klinis Terstruktur
Lakukan pemeriksaan neurologis lengkap yang mencakup 8, 1:
- Sensasi termal dan nyeri tusuk untuk fungsi serabut kecil
- Persepsi vibrasi menggunakan garpu tala 128-Hz untuk fungsi serabut besar 8
- Sensasi tekanan dengan monofilamen 10-g untuk identifikasi risiko ulkus 8
- Refleks pergelangan kaki 8
- Pola distribusi kelemahan dan sensorik yang melintasi beberapa dermatom 1
Langkah 2: Pemeriksaan Elektrodiagnostik
Konfirmasi abnormalitas di distribusi beberapa saraf dengan EMG dan studi konduksi saraf 1, 3. Pemeriksaan ini membantu membedakan pleksopati dari radikulopati ketika gambaran klinis tumpang tindih 1.
Langkah 3: Pencitraan Definitif
MRI adalah modalitas utama karena kontras jaringan lunak superior dan kemampuan visualisasi anatomi intraneural 1:
- MRI dengan dan tanpa kontras IV untuk mendeteksi dan mengkarakterisasi berbagai etiologi 1
- Protokol khusus pleksus dengan sekuens T1, T2, fat-saturated T2 atau STIR, dan post-kontras T1 fat-saturated 1
- MRI 3 Tesla memberikan rasio signal-to-noise dan resolusi spasial superior dibanding 1.5 Tesla 1
- CT dengan kontras IV jika MRI kontraindikasi 1
Peringatan penting: MRI pelvis standar TIDAK cukup untuk evaluasi pleksopati—harus menggunakan protokol neurografi MR khusus 1.
Langkah 4: Timing Pencitraan
- Cedera traumatik: Tunda pencitraan sekitar 1 bulan pasca-trauma untuk resolusi edema darah dan jaringan lunak 1
- Kasus non-traumatik: Lakukan segera jika dicurigai massa atau kompresi struktural 1
Jebakan Diagnostik yang Harus Dihindari
- Gagal membedakan pleksopati dari radikulopati yang biasanya mengikuti distribusi dermatom tunggal 1
- Tidak mengenali herniasi diskus lateral yang dapat menyebabkan pleksopati tetapi tidak terdeteksi pada MRI lumbal standar 1
- Memesan "MRI pelvis standar" untuk neuropati pudendal—tidak memiliki sekuens khusus saraf 1
- Mengandalkan MRI lumbal standar untuk visualisasi nervus pudendal yang berada di bawah pleksus lumbosakral 1
- Mengaitkan temuan pencitraan secara otomatis dengan gejala—perubahan degeneratif pada MRI berkorelasi buruk dengan presentasi klinis 5
Manajemen Berdasarkan Etiologi
Cedera Penetrasi dan Terbuka
Eksplorasi bedah dini sering diperlukan untuk cedera penetrasi pada pleksus 1.
Cedera Tumpul dan Tertutup
Manajemen dapat non-operatif atau bedah tergantung lokasi dan keparahan 1. Krusial menentukan apakah saraf benar-benar ruptur (memerlukan manajemen operatif dini) atau teregang tetapi masih intak 1.
Kompresi Struktural
- Dekompresi bedah diindikasikan ketika ada bukti lesi struktural (massa atau pita fibrosa) yang menyebabkan kompresi 1
- Injeksi terpandu pencitraan seperti toksin botulinum untuk sindrom piriformis 1
Terapi Simptomatik untuk Nyeri Neuropatik
Medikasi yang terbukti efektif 8:
- Antikonvulsan: Pregabalin, gabapentin, karbamazepin, lamotrigin 8
- Antidepresan: Duloxetine, amitriptyline, imipramine 8
- Opioid: Tramadol, oxycodone (untuk kasus refrakter) 8
- Terapi lain: Methylcobalamin, asam lipoat, prostaglandin E1 8
Kontrol Glikemik pada Diabetes
Kontrol glukosa darah yang baik dapat menunda progresivitas neuropati diabetik 8. Evaluasi neurologis lengkap harus dimulai saat diagnosis diabetes tipe 2 dan diulang minimal setahun sekali 8.
Pencegahan Perioperatif
Berdasarkan rekomendasi American Society of Anesthesiologists 8, 7:
- Hindari ekstensi atau fleksi pinggul berlebihan untuk menurunkan risiko neuropati femoralis 7
- Gunakan padding protektif untuk mencegah tekanan pada nervus peroneus di kepala fibula 7
- Hindari kontak nervus peroneus dengan permukaan keras 7
- Dokumentasikan tindakan positioning spesifik dalam rekam medis anestesi 7
Prognosis
Sekitar 71% pasien dengan pleksopati lumbosakral mengalami perubahan manajemen berdasarkan temuan MRI, menekankan pentingnya diagnosis akurat 1. Pemulihan fungsi saraf lebih mungkin dengan cedera ringan, durasi kompresi lebih pendek, dan penghentian aktivitas repetitif yang memperburuk 9.