Tatalaksana Hiperbilirubinemia Terkonjugasi pada Pasien Dengue
Pada pasien dengue dengan hiperbilirubinemia terkonjugasi (bilirubin total ~5 mg/dL, bilirubin direk ~4.8 mg/dL), lakukan pemeriksaan fungsi hati lengkap segera, ultrasonografi abdomen dalam 24-48 jam untuk menyingkirkan obstruksi bilier, dan monitor ketat fungsi sintetik hati karena peningkatan bilirubin dan transaminase merupakan prediktor mortalitas independen pada dengue. 1, 2
Evaluasi Laboratorium Awal yang Harus Dilakukan
Panel fungsi hati komprehensif harus segera diperiksa, meliputi ALT, AST, alkalin fosfatase, GGT, albumin, dan INR/PT untuk membedakan cedera hepatoseluler dari kolestasis dan menilai fungsi sintetik hati. 3, 1
Verifikasi bahwa alkalin fosfatase berasal dari hepar dengan memeriksa GGT atau isoenzim alkalin fosfatase, karena GGT meningkat lebih awal dan bertahan lebih lama pada gangguan kolestasis. 3
Hitung darah lengkap dengan apusan perifer, hitung retikulosit, haptoglobin, dan LDH untuk menyingkirkan hemolisis sebagai penyebab hiperbilirubinemia, meskipun pola terkonjugasi membuat ini kurang mungkin. 3
Periksa albumin dan INR/PT untuk menilai fungsi sintetik hati—parameter kritis karena pada pasien dengue yang meninggal, rata-rata INR adalah 3.5 vs 1.1 pada yang bertahan hidup. 2
Penilaian Pencitraan yang Diperlukan
Ultrasonografi abdomen harus dilakukan dalam 24-48 jam untuk hiperbilirubinemia terkonjugasi, dengan nilai prediksi positif 98% untuk penyakit parenkim hati dan sensitivitas 65-95% untuk obstruksi bilier. 3, 4
Ultrasonografi penting untuk menyingkirkan obstruksi bilier struktural, meskipun pada dengue penyebab utama adalah cedera hepatoseluler langsung oleh virus, bukan obstruksi mekanis. 1, 4
Jika ultrasonografi menunjukkan dilatasi bilier atau kecurigaan klinis tetap tinggi, lanjutkan ke MRI dengan MRCP yang memiliki akurasi 90.7% untuk etiologi obstruksi bilier. 3
Interpretasi Pola Hepatik pada Dengue
Pada infeksi dengue, peningkatan transaminase sangat umum (85-88% pasien), dengan AST biasanya meningkat lebih tinggi daripada ALT—pola yang dapat berfungsi sebagai indikator awal infeksi dengue. 1, 2
Hiperbilirubinemia terkonjugasi dengan bilirubin total ~5 mg/dL pada dengue menunjukkan cedera hepatoseluler signifikan, karena pada dengue klasik tanpa komplikasi, bilirubin jarang melebihi 2 mg/dL. 1
Bilirubin serum ≥2.2 mg/dL merupakan prediktor mortalitas independen (OR 4.8) pada pasien dengue, sehingga level ~5 mg/dL memerlukan monitoring intensif. 2
Strategi Monitoring yang Diperlukan
Untuk elevasi bilirubin yang lebih tinggi atau bilirubin yang terus meningkat, monitoring 2-3 kali per minggu direkomendasikan untuk mendeteksi perburukan fungsi hati atau perkembangan ke dengue shock syndrome. 3
Periksa ulang fungsi hati dalam 7-10 hari jika bilirubin total ≥2× baseline atau bilirubin direk >2× baseline (ketika baseline >0.5 mg/dL) untuk memverifikasi tren dan menilai pemulihan. 3
Monitor tanda-tanda disfungsi sintetik (albumin menurun, INR meningkat) karena pada pasien dengue yang meninggal, albumin serum secara signifikan lebih rendah dan INR lebih tinggi dibandingkan yang bertahan hidup. 2
Pertimbangan Khusus untuk Dengue
Derajat peningkatan ALT dan AST secara signifikan lebih tinggi pada DHF dan DSS dibandingkan dengue fever klasik, sehingga transaminase yang sangat tinggi dengan hiperbilirubinemia menunjukkan risiko progresivitas penyakit. 1
Pasien dengan perdarahan memiliki nilai ALT, AST, dan bilirubin serum yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan yang tanpa perdarahan, sehingga hiperbilirubinemia terkonjugasi harus meningkatkan kewaspadaan terhadap komplikasi hemoragik. 1
Konsentrasi albumin serum secara signifikan lebih rendah pada DSS dibandingkan DHF atau DF, sehingga albumin rendah dengan hiperbilirubinemia merupakan tanda prognostik buruk. 1
Perangkap Diagnostik yang Harus Dihindari
Jangan menyamakan "bilirubin direk" dengan "bilirubin terkonjugasi" tanpa memperhitungkan delta-bilirubin, yang memiliki waktu paruh ~21 hari dan dapat menyebabkan hiperbilirubinemia persisten bahkan setelah penyebab yang mendasari teratasi. 3
Jangan mengabaikan kemungkinan vitamin K deficiency pada pasien dengan penyakit kolestasis—periksa status vitamin K sebelum mengaitkan INR yang memanjang dengan disfungsi hati, karena defisiensi vitamin larut lemak umum terjadi dan dapat dikoreksi dengan suplementasi. 3
Jangan menunda pencitraan jika ada tanda-tanda kolestasis (alkalin fosfatase atau GGT meningkat) karena meskipun dengue biasanya menyebabkan cedera hepatoseluler, obstruksi bilier sekunder atau komplikasi lain harus disingkirkan. 3, 4
Metode laboratorium untuk fraksinasi bilirubin dapat bervariasi secara signifikan pada serum dengan bilirubin total <5 mg/dL, sehingga hasil yang bertentangan dari laboratorium berbeda harus diinterpretasikan dengan hati-hati dalam konteks klinis. 5