Ramosetron pada Gangguan Liver
Ramosetron dapat diberikan pada pasien dengan gangguan liver ringan hingga sedang tanpa penyesuaian dosis, tetapi harus digunakan dengan sangat hati-hati pada gangguan liver berat (Child-Pugh C) karena data keamanan terbatas dan risiko akumulasi obat.
Prinsip Umum Penggunaan Obat pada Gangguan Liver
Obat-obatan yang dimetabolisme terutama oleh hati memerlukan pertimbangan khusus pada pasien dengan disfungsi hepatik karena:
- Penurunan klirens hepatik dapat menyebabkan akumulasi obat dan peningkatan risiko efek samping 1, 2
- Penurunan efek first-pass pada sirosis lanjut meningkatkan bioavailabilitas oral obat secara signifikan 1, 3
- Gangguan ikatan protein plasma dapat mengubah distribusi dan eliminasi obat 1, 2
- Shunting portal-sistemik mengurangi eliminasi presistemik obat dengan ekstraksi tinggi 2, 3
Posisi Ramosetron dalam Terapi IBS-D
Ramosetron adalah antagonis reseptor 5-HT3 yang sangat efektif untuk IBS dengan diare:
- Ramosetron 2,5 mcg sekali sehari menempati peringkat pertama dalam efikasi untuk mengurangi nyeri abdomen persisten pada IBS-D, lebih unggul dari alosetron dan eluxadoline 4
- Ramosetron 5 mcg sekali sehari menempati peringkat kedua dalam meta-analisis jaringan untuk IBS-D 4
- Ramosetron hanya tersedia di Asia 4
Rekomendasi Spesifik untuk Gangguan Liver
Gangguan Liver Ringan hingga Sedang (Child-Pugh A-B)
- Tidak diperlukan penyesuaian dosis untuk antagonis reseptor 5-HT3 pada gangguan liver ringan hingga sedang 4
- Obat-obatan dalam kelas yang sama (seperti ondansetron) menunjukkan peningkatan bioavailabilitas pada gangguan liver tetapi tetap dapat ditoleransi dengan baik 5
Gangguan Liver Berat (Child-Pugh C)
- Gunakan dengan sangat hati-hati karena protease inhibitor dan integrase strand transfer inhibitor harus digunakan dengan kehati-hatian pada gangguan liver berat 4
- Meskipun rekomendasi ini untuk antiretroviral, prinsip yang sama berlaku untuk obat yang dimetabolisme hepatik 4
- Pertimbangkan pengurangan dosis atau pemantauan ketat mengingat ondansetron (obat serupa) menunjukkan penurunan klirens yang signifikan dan bioavailabilitas mendekati 100% pada gangguan liver berat 5
Alternatif yang Lebih Aman pada Gangguan Liver Berat
Jika ramosetron perlu dihindari pada sirosis lanjut, pertimbangkan:
- Rifaximin 550 mg tiga kali sehari selama 14 hari - antibiotik non-absorbable yang efektif untuk IBS-D dengan profil keamanan yang baik, meskipun dampaknya pada nyeri abdomen terbatas 4
- Ondansetron dimulai dari 4 mg sekali sehari dengan titrasi maksimal 8 mg tiga kali sehari, tetapi batasi dosis harian menjadi 8 mg pada gangguan liver berat (skor Pugh >9) 5
Peringatan Penting dan Jebakan Umum
Kontraindikasi Absolut untuk Obat Lain dalam Kelas IBS-D
- Eluxadoline dikontraindikasikan pada gangguan liver berat karena risiko pankreatitis yang tinggi 4, 6
- Eluxadoline juga dikontraindikasikan pada pasien dengan riwayat disfungsi sfingter Oddi, kolesistektomi, ketergantungan alkohol, atau pankreatitis 4, 6
Pemantauan yang Diperlukan
- Periksa fungsi liver dasar sebelum memulai terapi dan pantau pada interval yang sering selama pengobatan 7, 8
- Sesuaikan dosis secara individual berdasarkan status nutrisi, fungsi ginjal (karena sindrom hepatorenal sering terjadi), dan interaksi obat 8
- Hindari hepatotoksin potensial karena pasien sirosis dapat mentoleransi cedera liver tambahan dengan buruk 3, 8
Pertimbangan Farmakodinamik
- Pasien dengan sirosis menunjukkan peningkatan sensitivitas terhadap efek samping SSP dari banyak obat psikoaktif 3
- Gangguan fungsi ginjal sering terjadi pada sirosis lanjut dan dapat memerlukan penyesuaian dosis tambahan 1, 8
Algoritma Keputusan Klinis
Tentukan tingkat keparahan gangguan liver menggunakan skor Child-Pugh:
Jika Child-Pugh C, evaluasi alternatif:
Jika ramosetron dipilih pada Child-Pugh C:
Evaluasi respons setelah 3 bulan dan hentikan jika tidak efektif 6