Terapi Eradikasi Helicobacter pylori Terbaik di Indonesia
Terapi kuadrupel berbasis bismut selama 14 hari adalah pilihan lini pertama terbaik untuk eradikasi H. pylori di Indonesia, mencapai tingkat eradikasi 80–90% bahkan di wilayah dengan resistensi tinggi terhadap klaritromisin dan metronidazol. 1, 2, 3
Mengapa Terapi Kuadrupel Bismut adalah Pilihan Terbaik
- Resistensi antibiotik di Indonesia sangat tinggi: Prevalensi resistensi terhadap metronidazol dan klaritromisin tinggi di Indonesia, dengan resistensi klaritromisin yang bervariasi antar wilayah dan etnis 4, 5
- Bismut mengatasi resistensi: Tidak ada resistensi bakteri yang dilaporkan terhadap bismut, dan efek sinergisnya dapat mengatasi resistensi metronidazol secara in vitro 1, 2, 3
- Terapi triple standar tidak lagi efektif: Di sebagian besar wilayah dunia termasuk Asia, resistensi klaritromisin telah melebihi 15–20%, menurunkan tingkat eradikasi terapi triple menjadi hanya ~70% 1, 2, 3
Regimen Lini Pertama yang Direkomendasikan
Terapi kuadrupel bismut selama 14 hari:
- PPI dosis tinggi 2 kali sehari (esomeprazol atau rabeprazol 40 mg lebih disukai karena meningkatkan angka kesembuhan 8–12%) 1, 2, 3
- Bismut subsalisilat 262 mg (2 tablet) 4 kali sehari 1, 2, 3
- Metronidazol 500 mg 3–4 kali sehari (total 1,5–2 g/hari) 1, 2, 3
- Tetrasiklin 500 mg 4 kali sehari 1, 2, 3
Cara Pemberian yang Benar:
- PPI diminum 30 menit sebelum makan dalam keadaan perut kosong, tanpa antasida bersamaan 1, 2, 3
- Bismut diminum 30 menit sebelum makan dan sebelum tidur 3
- Metronidazol diminum 30 menit setelah makan 3
- Durasi 14 hari adalah wajib—memperpanjang terapi dari 7 ke 14 hari meningkatkan keberhasilan eradikasi sekitar 5% 1, 2, 3
Alternatif Jika Bismut Tidak Tersedia
Terapi kuadrupel konkomitan non-bismut selama 14 hari (hanya jika resistensi klaritromisin lokal terdokumentasi <15%):
- PPI dosis tinggi 2 kali sehari 1, 2
- Amoksisilin 1000 mg 2 kali sehari 1, 2
- Klaritromisin 500 mg 2 kali sehari 1, 2
- Metronidazol 500 mg 2 kali sehari 1, 2
PERINGATAN: Terapi triple berbasis klaritromisin tidak boleh digunakan secara empiris di Indonesia karena tingginya resistensi klaritromisin 1, 2, 3
Alternatif Antibiotik untuk Indonesia
Berdasarkan penelitian terbaru di Indonesia, antibiotik alternatif yang menunjukkan sensitivitas tinggi:
- Furazolidon: Tidak ada resistensi yang ditemukan (0%) 4, 5
- Rifabutin: Semua strain sensitif 4, 5
- Sitafloksasin: Semua strain sensitif, efektif bahkan untuk strain resisten levofloksasin 4, 5
Rifabutin dan furazolidon dapat dipertimbangkan sebagai regimen alternatif di wilayah Indonesia dengan resistensi tinggi terhadap metronidazol dan klaritromisin 4, 5
Terapi Lini Kedua Setelah Kegagalan Lini Pertama
Setelah kegagalan terapi kuadrupel bismut:
- Terapi triple berbasis levofloksasin selama 14 hari (hanya jika pasien tidak pernah terpapar fluorokuinolon sebelumnya): 1, 2, 3
- PPI dosis tinggi 2 kali sehari
- Amoksisilin 1000 mg 2 kali sehari
- Levofloksasin 500 mg sekali sehari
CATATAN PENTING: Resistensi levofloksasin meningkat secara global (primer 11–30%, sekunder 19–30%), sehingga tidak boleh digunakan sebagai lini pertama 1, 2, 3
Setelah kegagalan terapi berbasis klaritromisin:
- Beralih ke terapi kuadrupel bismut selama 14 hari 1, 2, 3
- Jangan pernah mengulangi klaritromisin karena resistensi berkembang cepat dan eradikasi turun dari ~90% menjadi ~20% 1, 2, 3
Terapi Lini Ketiga dan Penyelamatan
Setelah dua kegagalan terapi yang terdokumentasi:
- Uji sensitivitas antibiotik harus memandu terapi selanjutnya 1, 2, 3
- Terapi triple rifabutin selama 14 hari (resistensi rifabutin jarang terjadi): 1, 2, 3
- Rifabutin 150 mg 2 kali sehari
- Amoksisilin 1000 mg 2 kali sehari
- PPI dosis tinggi 2 kali sehari
Populasi Khusus
Pasien dengan alergi penisilin:
- Terapi kuadrupel bismut adalah pilihan pertama (mengandung tetrasiklin, bukan amoksisilin) 1, 2, 3
- Pertimbangkan tes alergi penisilin setelah kegagalan lini pertama karena sebagian besar alergi yang dilaporkan bukan alergi sejati 1, 2, 3
Konfirmasi Eradikasi (Test-of-Cure)
- Lakukan urea breath test atau tes antigen tinja monoklonal ≥4 minggu setelah terapi selesai 1, 2, 3
- Hentikan PPI minimal 2 minggu sebelum tes untuk menghindari hasil negatif palsu 1, 2, 3
- Jangan gunakan serologi untuk konfirmasi karena antibodi bertahan lama setelah eradikasi berhasil 1, 2, 3
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
- Jangan gunakan PPI dosis sekali sehari—ini adalah penyebab utama kegagalan terapi 1, 2, 3
- Jangan perpendek terapi di bawah 14 hari—ini mengurangi keberhasilan eradikasi ~5% 1, 2, 3
- Jangan ulangi klaritromisin atau levofloksasin jika sudah pernah gagal 1, 2, 3
- Hindari pantoprazol karena potensi supresi asam yang lebih rendah (setara ~9 mg omeprazol) 1, 3
- Jangan asumsikan resistensi klaritromisin rendah tanpa data surveilans lokal—sebagian besar wilayah sekarang melebihi 15–20% 1, 2, 3
Faktor Pasien yang Mempengaruhi Keberhasilan
- Merokok meningkatkan risiko kegagalan hampir 2 kali lipat (OR ~1,95)—anjurkan berhenti merokok selama terapi 1, 2
- BMI tinggi/obesitas dapat menurunkan konsentrasi obat di mukosa lambung 1, 2
- Kepatuhan buruk adalah penyebab utama kegagalan—berikan instruksi tertulis yang jelas dan tekankan pentingnya menyelesaikan 14 hari penuh 1, 2, 3