Penyebab Dispepsia Selain Infeksi H. pylori dan Alergi/Hipersensitivitas Makanan
Sebagian besar (sekitar 80%) pasien dispepsia memiliki dispepsia fungsional sebagai penyebab utama setelah penyakit organik disingkirkan melalui endoskopi. 1, 2
Penyebab Organik yang Harus Disingkirkan Terlebih Dahulu
Penyakit Refluks Gastroesofageal (GERD)
- GERD menyebabkan sekitar 13-20% kasus dispepsia pada pasien yang menjalani endoskopi, ditandai dengan heartburn (sensasi terbakar yang dimulai dari epigastrium dan menjalar ke dada) atau regurgitasi asam yang terjadi lebih dari sekali seminggu 1
- Lebih dari 50% pasien GERD memiliki endoskopi normal (non-erosive reflux disease), sehingga tidak adanya esofagitis tidak menyingkirkan diagnosis GERD 1
- Terdapat overlap gejala yang signifikan, dengan 63-66% pasien yang mengalami heartburn juga melaporkan nyeri epigastrium bersamaan 3
Penyakit Ulkus Peptikum
- Ulkus peptikum menyumbang sekitar 8-10% dari semua gejala saluran cerna atas pada populasi dispepsia 1, 2
- Nyeri ulkus duodenum khas muncul 2-5 jam setelah makan atau pada malam hari saat lambung kosong 3
- Penggunaan NSAID (obat anti-inflamasi non-steroid) merupakan penyebab utama ulkus peptikum selain infeksi H. pylori 1
Gastritis
- Gastritis dapat disebabkan oleh infeksi H. pylori atau penggunaan NSAID 3
- Tampilan endoskopi menunjukkan areae gastricae yang membesar, gangguan pola poligonal normal, penebalan lipatan lambung, atau erosi 1
Keganasan Gastroesofageal
- Kanker lambung atau esofagus menyumbang kurang dari 0,5% kasus dispepsia, namun harus disingkirkan pada pasien ≥55-60 tahun dengan gejala baru 1, 4
Dispepsia Fungsional: Penyebab Paling Umum
Definisi dan Prevalensi
- Dispepsia fungsional adalah gangguan interaksi usus-otak yang ditandai dengan nyeri epigastrium, rasa terbakar, cepat kenyang, atau rasa penuh pascamakan yang berlangsung >8 minggu tanpa kelainan struktural pada pemeriksaan 1, 5
- Mempengaruhi sekitar 7% populasi menggunakan kriteria Rome IV, dengan prevalensi dispepsia secara umum mencapai 25-30% 1, 5
- Menyumbang sekitar 80% dari semua kasus dispepsia di komunitas setelah penyakit organik disingkirkan 1
Mekanisme Patofisiologi
- Gangguan motilitas lambung: pengosongan lambung yang tertunda dan gangguan akomodasi fundus 1, 2, 6
- Hipersensitivitas viseral: sensitivitas berlebihan terhadap distensi lambung dan stimulus fisik/kimia 1, 2, 7
- Perubahan mikrobioma: alterasi mikrobiota lambung dan usus halus 1, 2, 8
- Disfungsi sistem saraf pusat: gangguan pemrosesan sinyal nyeri di otak 1, 7, 9
- Inflamasi mukosa ringan: perubahan fungsi imun dan permeabilitas epitel 1, 2, 8
Faktor Risiko Dispepsia Fungsional
- Jenis kelamin perempuan, usia muda, dan tingkat somatisasi yang tinggi 1
- Komorbiditas psikologis: riwayat kecemasan atau depresi meningkatkan risiko onset gejala baru 1
- Infeksi gastroenteritis akut: risiko hampir tiga kali lipat untuk mengembangkan dispepsia fungsional 6 bulan atau lebih setelah gastroenteritis akut (postinfection FD) 1
- Merokok dan penggunaan NSAID 1
- Overlap dengan IBS (irritable bowel syndrome) terjadi pada hingga 50% pasien dispepsia fungsional 1
Subtipe Dispepsia Fungsional (Rome IV)
- Epigastric Pain Syndrome (EPS): nyeri atau rasa terbakar epigastrium yang mengganggu, terjadi minimal 1 hari per minggu 1, 5
- Postprandial Distress Syndrome (PDS): rasa penuh pascamakan atau cepat kenyang yang mengganggu, terjadi minimal 3 hari per minggu 1, 5
- Overlap antara kedua subtipe terjadi pada sepertiga pasien 1
Penyebab Non-Gastrointestinal yang Harus Dipertimbangkan
Sindrom Koroner Akut
- Infark miokard dapat bermanifestasi sebagai nyeri epigastrium, terutama pada wanita, pasien diabetes, dan lansia 3
- EKG harus diperoleh segera pada pasien dengan nyeri epigastrium disertai gejala eksersional, dispnea, atau faktor risiko kardiovaskular 3
Pankreatitis Akut
- Nyeri yang menjalar ke punggung disertai mual dan muntah mengarah ke pankreatitis 3
- Amilase serum (≥4x normal) atau lipase (≥2x normal) harus diperiksa untuk menyingkirkan pankreatitis akut 3
Penyakit Bilier
- Nyeri dinding abdomen dan nyeri bilier harus disingkirkan melalui evaluasi klinis yang cermat 1
Pendekatan Diagnostik Berdasarkan Fitur Alarm
Fitur Alarm yang Memerlukan Endoskopi Mendesak (dalam 2 minggu)
- Usia ≥55-60 tahun dengan gejala dispepsia baru 1, 4
- Penurunan berat badan yang tidak disengaja 1, 3, 4
- Anemia pada pemeriksaan darah lengkap 1, 3, 4
- Disfagia (makanan tersangkut) 1, 4
- Muntah persisten 1, 4
- Hematemesis atau melena 1
- Nyeri tekan epigastrium pada pemeriksaan fisik 3, 4
- Riwayat keluarga kanker gastroesofageal 4
Pasien Tanpa Fitur Alarm (<55 tahun)
- Lakukan tes H. pylori non-invasif menggunakan urea breath test C-13 atau stool antigen (serologi tidak direkomendasikan) 1, 4
- Jika H. pylori positif: berikan terapi eradikasi 1, 4
- Jika H. pylori negatif atau gejala menetap setelah eradikasi: mulai terapi PPI empiris (omeprazol 20-40 mg sekali sehari sebelum makan) selama 4-8 minggu 3, 4
Kesalahan Klinis yang Harus Dihindari
- Jangan menunda endoskopi pada pasien ≥55 tahun dengan gejala baru, karena usia saja merupakan fitur alarm 1, 4
- Jangan mengabaikan muntah persisten sebagai dispepsia fungsional, karena ini merupakan tanda bahaya yang menunjukkan penyakit organik 1
- Jangan melewatkan penyebab kardiak, terutama pada pasien dengan faktor risiko dan nyeri epigastrium disertai dispnea 3
- Jangan mengabaikan tes H. pylori, karena eradikasi memberikan manfaat dan mencegah penyakit ulkus peptikum dan kanker lambung di masa depan 4, 5
- Jangan memesan gastric emptying study atau pH monitoring 24 jam secara rutin pada dispepsia fungsional tipikal, karena hasil diagnostik rendah dan menunda terapi yang tepat 4