Can eating yellow pumpkin cause skin yellowing (carotenemia)?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: March 3, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Labu Kuning Dapat Menyebabkan Kulit Menguning (Karotenemia)

Ya, mengonsumsi labu kuning dalam jumlah besar dapat menyebabkan kulit menguning, suatu kondisi jinak yang disebut karotenemia atau karotenodermia. Kondisi ini terjadi akibat penumpukan beta-karoten di lapisan epidermis kulit, terutama di telapak tangan dan kaki 1, 2.

Mekanisme dan Karakteristik Karotenemia

Karotenemia berkembang pada individu yang mengonsumsi makanan kaya karotenoid atau suplemen beta-karoten (>30 mg/hari) selama beberapa bulan 3. Labu kuning merupakan sumber beta-karoten yang sangat tinggi, dan konsumsi berlebihan dapat menyebabkan:

  • Perubahan warna kulit menjadi kuning hingga oranye, terutama pada area kulit yang tebal seperti telapak tangan dan telapak kaki 2
  • Diskolorisasi yang dapat berlangsung dari 14 hari hingga 4,5 tahun tergantung durasi dan jumlah konsumsi 2
  • Kondisi ini berbeda dengan jaundice (penyakit kuning) karena sklera mata tetap putih, tidak menguning 4

Perbedaan dengan Penyakit Hati

Penting untuk membedakan karotenemia dengan hiperbilirubinemia (jaundice sejati):

  • Pada karotenemia, kadar bilirubin dalam darah tetap normal, hanya kadar beta-karoten yang meningkat 1
  • Pada jaundice akibat penyakit hati, terjadi peningkatan bilirubin (baik terkonjugasi maupun tidak terkonjugasi) yang menyebabkan sklera mata juga menguning 5
  • Karotenemia tidak menyebabkan gangguan fungsi hati atau peningkatan enzim hati (AST/ALT) 4

Faktor Risiko Tambahan

Beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko karotenemia bahkan dengan asupan normal:

  • Hipotiroidisme dan diabetes melitus dapat menyebabkan karotenemia dengan asupan karotenoid normal karena gangguan konversi beta-karoten menjadi vitamin A 3
  • Defek genetik pada enzim 15-15'-carotenoid dioxygenase dapat menyebabkan karotenemia metabolik meskipun asupan rendah 3
  • Predisposisi genetik tampaknya berperan dalam perkembangan karotenemia pada beberapa individu 3

Penatalaksanaan

Karotenemia adalah kondisi jinak yang tidak memerlukan pengobatan medis, cukup dengan modifikasi diet 4:

  • Hentikan atau kurangi konsumsi labu kuning dan makanan kaya beta-karoten lainnya (wortel, pepaya, ubi jalar) 1, 4
  • Kadar beta-karoten serum akan menurun secara bertahap setelah penghentian konsumsi, sementara kadar vitamin A tetap terjaga 1
  • Diskolorisasi kulit akan menghilang dalam beberapa minggu hingga bulan setelah modifikasi diet 2, 4

Catatan Penting tentang Suplemen Beta-Karoten

Hindari suplemen beta-karoten dosis tinggi, terutama pada perokok, karena dapat meningkatkan risiko kanker paru 5, 6, 7. Pedoman American Cancer Society menyatakan bahwa:

  • Asupan beta-karoten dari buah dan sayuran dapat diterima dan aman 6, 7
  • Suplemen beta-karoten dosis tinggi harus dihindari pada perokok karena meningkatkan risiko kanker paru berdasarkan dua uji klinis besar 6
  • Lebih baik mendapatkan antioksidan dari sumber makanan utuh daripada suplemen 7

References

Research

Studies on hypercarotenemia due to excessive ingestion of carrot, pumpkin and papaw.

International journal of food sciences and nutrition, 2011

Research

Diet-induced carotenodermia: a literature review.

International journal of dermatology, 2024

Research

Insights of hypercarotenaemia: A brief review.

Clinical nutrition ESPEN, 2018

Research

Carotenemia.

Cutis, 2003

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Guideline

Beta‑Carotene Supplementation and Lung Cancer Risk in Smokers

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2026

Guideline

Cancer Prevention through Antioxidant Consumption

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2026

Related Questions

In a 19‑year‑old female with a three‑month history of progressive right‑temporal headache aggravated by coughing, cold exposure, bright light, and fan airflow, now accompanied by right‑sided painful ophthalmoplegia (intermittent diplopia that resolves when one eye is covered, medial deviation of the right eye, right upper‑eyelid ptosis, and retro‑orbital pain) and no fever or other systemic signs, what is the most likely diagnosis and what urgent investigations and initial management are recommended?
What is the next best step in evaluating a healthy 13-year-old with absent puberty, bone age of 11.5 years, and height 157 cm?
What are the possible causes and recommended work‑up for a 20‑year‑old experiencing recurrent 30‑minute rigors (shivering) episodes accompanied by headache?
In a 21-year-old female runner who developed leg pain and progressively spreading bruising, what urgent evaluation and management are indicated?
How should I manage a 23-year-old smoker with a 2‑day history of congestion, dry sore throat, and cough?
Which medications should be avoided when taking methotrexate?
What are the differential diagnoses for muscle twitching (fasciculations) in a woman during the early postpartum period?
Can type 2 diabetes be diagnosed in an asymptomatic 57‑year‑old patient with normal fasting glucose solely on the basis of an elevated hemoglobin A1c?
What is spondyloarthropathy and is it likely in a 54‑year‑old woman presenting with erythematous knuckles?
Do naproxen, benzonatate, levocetirizine, metformin, and tadalafil cause sleep disturbances?
Is mexiletine appropriate for managing atrial flutter?

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.