Kapan Bronkopneumonia Dapat Didiagnosis
Bronkopneumonia dapat didiagnosis ketika pasien dewasa dengan penyakit respirasi akut menunjukkan tanda-tanda klinis (batuk, demam, dispnea, produksi sputum, nyeri dada pleuritik) yang dikonfirmasi dengan foto rontgen dada posteroanterior (PA) dan lateral tegak, yang merupakan standar referensi untuk diagnosis pneumonia. 1
Kriteria Klinis untuk Mempertimbangkan Diagnosis
Diagnosis pneumonia yang didapat dari komunitas (termasuk bronkopneumonia) bergantung pada identifikasi gejala klinis yang didukung oleh temuan laboratorium dan pencitraan dada 1:
Gejala Klinis Utama:
- Batuk (dengan atau tanpa produksi sputum)
- Demam
- Dispnea (sesak napas)
- Nyeri dada pleuritik
- Produksi sputum 1
Temuan Laboratorium Pendukung:
- Leukositosis (pada pneumonia bakterial)
- Peningkatan prokalsitonin atau C-reactive protein (CRP) 1
Algoritma Diagnosis Berdasarkan Risiko
Pasien Risiko Tinggi (Memerlukan Foto Rontgen Segera):
Indikasi pencitraan segera pada pasien dengan 1:
- Pemeriksaan fisik abnormal (ronki, rhonki, suara napas menurun)
- Tanda vital abnormal (takikardia >100x/menit, demam ≥37.8°C, hipoksemia)
- Penyakit otak organik (stroke, delirium, demensia)
- Faktor risiko outcome buruk lainnya
Catatan penting: Pasien usia lanjut dapat memiliki pneumonia meskipun tanda vital dan pemeriksaan fisik normal, sehingga tetap memerlukan foto rontgen dada untuk menyingkirkan pneumonia 1.
Pasien Risiko Rendah (Pertimbangkan Biomarker):
Untuk pasien rawat jalan dengan batuk akut, kombinasi gejala klinis dengan CRP dapat membantu stratifikasi risiko 1:
- CRP <10 mg/L: Tidak ada pasien yang memiliki pneumonia 1
- CRP 11-50 mg/L tanpa dispnea dan demam harian: Tidak ada pneumonia 1
- CRP >30 mg/L: Meningkatkan area ROC dari 0.70 menjadi 0.77 untuk diagnosis pneumonia 1
Kombinasi prediksi klinis optimal mencakup 1:
- Tidak ada pilek
- Adanya dispnea
- Ronki dan suara napas menurun pada auskultasi
- Takikardia (>100x/menit)
- Demur (≥37.8°C)
Prokalsitonin tidak menambahkan informasi diagnostik yang relevan dibandingkan gejala dan tanda klinis 1.
Modalitas Pencitraan untuk Diagnosis
Foto Rontgen Dada (Modalitas Pilihan):
Foto rontgen dada PA dan lateral tegak adalah standar referensi untuk diagnosis pneumonia dan lebih disukai daripada foto AP portable 1. Pencitraan ini:
- Membantu memisahkan pasien yang memerlukan antibiotik dari yang tidak
- Membedakan pneumonia dari bronkitis akut
- Dapat menyarankan kategori luas agen etiologi 1
CT Scan Dada:
CT scan tidak direkomendasikan untuk pencitraan awal pada pasien imunokompetensi dengan probabilitas tinggi pneumonia 1. CT harus dicadangkan untuk:
- Pasien rawat inap dengan gejala
- Faktor risiko tinggi
- Komorbiditas meningkat
- Komplikasi yang dicurigai 1
Karakteristik Radiologis Bronkopneumonia
Bronkopneumonia menunjukkan pola pneumonia multifokal bronkopneumonia atau lobular pada pencitraan 2. Secara histologis, bronkopneumonia terdiri dari 3:
- Fokus infeksi yang tidak sistematis
- Terlokalisasi 90% di segmen posterior lobus paru bawah
- Fokus kecil tersebar di kedua paru
- Sering berada dalam area luas lesi paru non-infeksius
- Sering multimikrobial
Peringatan Penting
Diagnosis klinis dan radiologis tidak akurat pada >40% kasus 4, karena:
- Bronkogram aerik dan infiltrat alveolar sugestif tetapi tidak spesifik untuk pneumonia
- Demam, leukositosis, dan sputum purulen juga tidak spesifik 4
Pada pasien usia lanjut, gambaran klinis dan pemeriksaan fisik pneumonia dapat kurang atau berubah, sehingga foto rontgen dada sangat berguna untuk menegakkan diagnosis 1.
Untuk pasien dengan ventilasi mekanik, diagnosis bronkopneumonia nosokomial tetap tidak dapat diandalkan bahkan dengan teknik bronkoskopi yang tersedia 4.