Tatalaksana Infeksi Rubella
Infeksi rubella adalah penyakit yang self-limiting tanpa terapi spesifik antiviral - manajemen berfokus pada perawatan suportif untuk gejala dan isolasi ketat untuk mencegah penularan, terutama kepada wanita hamil.
Prinsip Manajemen Utama
Perawatan Suportif
Tidak ada terapi antiviral spesifik untuk rubella 1, 2. Manajemen terdiri dari:
- Istirahat yang cukup selama fase akut penyakit
- Antipiretik (acetaminophen/paracetamol) untuk demam dan ketidaknyamanan
- Analgesik untuk arthralgia/arthritis, terutama pada wanita dewasa yang mengalami manifestasi sendi hingga 70% kasus 2
- Hidrasi adekuat
- Observasi untuk komplikasi meskipun jarang terjadi
Isolasi dan Pencegahan Penularan
Isolasi adalah komponen kritis manajemen karena tujuan utama adalah mencegah paparan pada wanita hamil yang dapat menyebabkan Congenital Rubella Syndrome (CRS) 1, 3:
- Isolasi pasien dari kontak dengan wanita hamil dan individu rentan
- Pasien infeksius dari 7 hari sebelum hingga 7 hari setelah onset ruam
- Di fasilitas kesehatan: gunakan precautions droplet dan tempatkan di ruang isolasi 4
- Hanya staf yang imun yang boleh merawat pasien rubella 4, 5
Manajemen Berdasarkan Populasi
Anak-anak dan Dewasa Non-Hamil
- Perawatan suportif simptomatik
- Isolasi hingga 7 hari setelah onset ruam
- Monitor komplikasi jarang: ensefalitis (1:6,000 kasus pada dewasa) atau trombositopenia (1:3,000 kasus pada anak) 2
Wanita Hamil dengan Paparan/Infeksi Rubella
Ini adalah situasi paling kritis yang memerlukan manajemen khusus 6, 3:
Konfirmasi status imunitas segera melalui serologi IgG rubella
Jika terpapar dan tidak imun:
- Lakukan serologi IgM dan IgG rubella
- Ulangi testing 2-3 minggu kemudian jika awalnya negatif
- Tidak ada terapi profilaksis yang efektif tersedia 6
Jika infeksi maternal terkonfirmasi:
- Risiko CRS sangat tinggi pada trimester pertama: hingga 85% bayi terpengaruh jika infeksi terjadi pada 8 minggu pertama kehamilan 2
- Risiko menurun menjadi 52% pada minggu ke-9 hingga ke-12 2
- Jarang menyebabkan defek setelah minggu ke-20 2
- Konseling prenatal komprehensif wajib dilakukan 6
- Tawarkan diagnostik prenatal (invasif atau non-invasif) untuk mendeteksi infeksi dan kerusakan janin 6
- Infeksi maternal tidak selalu berarti transmisi vertikal 100% 6
Komplikasi yang Perlu Dimonitor
Pada Pasien dengan Infeksi Akut
- Arthritis/arthralgia: sangat umum pada wanita dewasa (hingga 70%), biasanya transien 1, 2
- Ensefalitis: 1:6,000 kasus, lebih sering pada dewasa 2
- Trombositopenia: 1:3,000 kasus, lebih sering pada anak 2
Congenital Rubella Syndrome (CRS)
Jika infeksi terjadi pada kehamilan, monitor untuk 2:
- Auditory: tuli sensorineural
- Ophthalmic: katarak, mikroftalmia, glaukoma, korioretinitis
- Cardiac: patent ductus arteriosus, stenosis arteri pulmonalis, defek septal
- Neurologic: mikrosefali, meningoensefalitis, retardasi mental
- Lainnya: retardasi pertumbuhan intrauterin dan postnatal, hepatosplenomegali, trombositopenia
Pencegahan Primer
Vaksinasi adalah satu-satunya strategi efektif untuk mencegah rubella dan CRS 1, 7:
- Vaksin MMR dua dosis untuk semua anak (dosis pertama usia 12-15 bulan) 2
- Screening dan vaksinasi wanita usia subur yang tidak imun sebelum kehamilan 3, 8
- Vaksinasi staf fasilitas kesehatan yang rentan 4, 5
- Kontraindikasi vaksinasi selama kehamilan - tunggu hingga postpartum 1
Peringatan Penting
- 30% infeksi rubella adalah subklinis, sehingga diagnosis klinis saja tidak dapat diandalkan 1, 2
- Konfirmasi laboratorium dengan serologi adalah wajib untuk diagnosis definitif 1
- Banyak penyakit eksantematosa lain (parvovirus, adenovirus, enterovirus) dapat menyerupai rubella 2
- Tidak ada terapi untuk mencegah CRS setelah infeksi maternal terjadi 6
- Infeksi maternal yang inapparent (subklinis) juga dapat menyebabkan malformasi kongenital 2