From the Guidelines
Evaluasi pemeriksaan post kemoterapi pasien dengan multiple myeloma harus mencakup pemeriksaan lengkap darah, panel metabolik komprehensif, elektroforesis protein serum, pengukuran rantai ringan bebas serum, dan elektroforesis protein urin 24 jam. Pemeriksaan ini membantu memantau respons penyakit dan mendeteksi potensi kekambuhan. Studi terbaru dari 1 menunjukkan bahwa penggunaan citra lanjutan (seperti whole-body FDG-PET/CT, scan CT dosis rendah, atau whole-body MRI tanpa kontras) sangat disarankan untuk pemantauan pasien multiple myeloma setelah pengobatan primer. Beberapa pemeriksaan yang perlu dilakukan secara berkala antara lain:
- Pemeriksaan darah lengkap
- Panel metabolik komprehensif
- Elektroforesis protein serum
- Pengukuran rantai ringan bebas serum
- Elektroforesis protein urin 24 jam
- Citra lanjutan (seperti whole-body FDG-PET/CT, scan CT dosis rendah, atau whole-body MRI tanpa kontras) Pemeriksaan ini harus disesuaikan dengan respons individual pasien dan stabilitas penyakit. Selain itu, pasien juga harus dipantau untuk efek sampingan pengobatan, seperti neuropati perifer, mielosupresi, dan komplikasi kardiovaskuler. Dengan pendekatan pemantauan yang komprehensif ini, pasien multiple myeloma dapat dioptimalkan pengelolaannya setelah kemoterapi. Penggunaan citra lanjutan dan pemeriksaan laboratorium yang tepat waktu dapat membantu mendeteksi kekambuhan penyakit dan memulai pengobatan yang tepat, sehingga dapat memperbaiki hasil pengobatan dan kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, penggunaan citra lanjutan dan pemeriksaan laboratorium yang tepat waktu sangat penting dalam evaluasi pemeriksaan post kemoterapi pasien dengan multiple myeloma.
From the FDA Drug Label
Patients in the study had received a median of 2 prior lines of therapy. Seventy-three percent (73%) of patients had received prior ASCT. All patients received prior bortezomib, and 95% of patients received prior lenalidomide. Efficacy results were based on overall response rate using IMWG criteria. The median time to response was 0.95 months (range: 0.9,14.3). The median duration of response was 28 months (95% CI: 20. 5, not estimable) Efficacy results were based on overall response rate as determined by Independent Review Committee using IMWG criteria. The median time to response was 1 month (range: 0.9 to 2.8 months). The median duration of response was 13.6 months (range: 0.9+ to 14. 6+ months). Efficacy results were based on overall response rate as determined by the Independent Review Committee assessment using IMWG criteria. The median time to response was 1 month (range: 0.9 to 5.6 months). The median duration of response was 7. 4 months (range: 1.2 to 13. 1+ months). Overall response rate was 36% (95% CI: 21.6,52.0%) with 1 CR and 3 VGPR. The median time to response was 1 month (range: 0.5 to 3. 2 months).
Evaluasi pemeriksaan post kemoterapi pasien dengan multiple myeloma
- Waktu rata-rata untuk respon: 0,95 bulan (kisaran: 0,9,14,3) dan 1 bulan (kisaran: 0,9 to 2,8 bulan) dan 1 bulan (kisaran: 0,9 to 5,6 bulan) dan 1 bulan (kisaran: 0,5 to 3,2 bulan)
- Durasi rata-rata respon: 28 bulan (95% CI: 20,5, tidak dapat diperkirakan) dan 13,6 bulan (kisaran: 0,9+ to 14,6+ bulan) dan 7,4 bulan (kisaran: 1,2 to 13,1+ bulan) 2
From the Research
Evaluasi Pemeriksaan Post Kemoterapi Pasien dengan Multiple Myeloma
Evaluasi pemeriksaan post kemoterapi pasien dengan multiple myeloma melibatkan beberapa tahap dan pemeriksaan untuk menentukan efektivitas pengobatan dan memantau kemajuan penyakit. Berikut adalah beberapa poin penting yang perlu dipertimbangkan:
- Pemeriksaan laboratorium: Pemeriksaan laboratorium seperti protein electrophoresis, serum free light chain, dan cytogenetic testing sangat penting dalam diagnosis dan pengelolaan multiple myeloma 3.
- Pemeriksaan radiologi: Pemeriksaan radiologi seperti computed tomography (CT), positron emission tomography (PET), atau magnetic resonance imaging (MRI) dapat membantu menentukan luasnya penyakit dan memantau respons terhadap pengobatan 4.
- Pemeriksaan klinis: Pemeriksaan klinis seperti penilaian gejala, pemeriksaan fisik, dan penilaian fungsi organ sangat penting dalam menentukan efektivitas pengobatan dan memantau kemajuan penyakit 5.
- Pengobatan: Pengobatan multiple myeloma dapat melibatkan kemoterapi, terapi target, dan transplantasi stem cell. Pemeriksaan post kemoterapi dapat membantu menentukan efektivitas pengobatan dan memantau kemajuan penyakit 4, 5.
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium sangat penting dalam diagnosis dan pengelolaan multiple myeloma. Beberapa pemeriksaan laboratorium yang umum digunakan meliputi:
- Protein electrophoresis: Pemeriksaan ini dapat membantu menentukan adanya monoclonal protein dalam serum atau urine 3.
- Serum free light chain: Pemeriksaan ini dapat membantu menentukan adanya abnormalitas dalam produksi immunoglobulin 3.
- Cytogenetic testing: Pemeriksaan ini dapat membantu menentukan adanya abnormalitas genetik dalam sel plasma 3.
Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi sangat penting dalam menentukan luasnya penyakit dan memantau respons terhadap pengobatan. Beberapa pemeriksaan radiologi yang umum digunakan meliputi:
- Computed tomography (CT): Pemeriksaan ini dapat membantu menentukan adanya lesi tulang atau organ lain yang terkena 4.
- Positron emission tomography (PET): Pemeriksaan ini dapat membantu menentukan adanya aktivitas metabolik dalam sel tumor 4.
- Magnetic resonance imaging (MRI): Pemeriksaan ini dapat membantu menentukan adanya lesi tulang atau organ lain yang terkena 4.