Terapi Influenza, Diagnosis, dan Gambaran Foto Toraks
Untuk influenza berat, berikan oseltamivir dalam 48 jam onset gejala; untuk kasus non-berat dengan risiko tinggi progresivitas, berikan baloxavir dalam 48 jam; diagnosis terbaik menggunakan NAAT (PCR), dan foto toraks menunjukkan ground-glass opacities bilateral dan konsolidasi multifokal terutama di zona tengah dan atas paru.
Terapi Antiviral
Influenza Berat
- Oseltamivir adalah pilihan utama untuk influenza berat 1, 2
- Mulai dalam 48 jam onset gejala untuk efektivitas maksimal
- Rekomendasi ini berlaku untuk influenza musiman dan zoonosis (novel influenza A)
Influenza Non-Berat dengan Risiko Tinggi
- Baloxavir direkomendasikan secara kondisional untuk pasien risiko tinggi progresivitas dalam 2 hari onset gejala 1, 2
- Faktor risiko tinggi meliputi: usia lanjut, komorbid, immunocompromised, infeksi virus influenza A zoonosis 2
Influenza Non-Berat Tanpa Risiko Tinggi
- Baloxavir TIDAK direkomendasikan 2
- Antiviral lain (oseltamivir, laninamivir, peramivir, zanamivir, favipiravir, arbidol) juga tidak direkomendasikan 2
Catatan Penting
- Amantadine dan rimantadine dianggap lebih berbahaya dibanding oseltamivir dan zanamivir 3
- Terapi antiviral dalam 48 jam dapat mengurangi penggunaan antibiotik dan hospitalisasi 3
Profilaksis Pasca-Pajanan
Influenza Zoonosis
- Berikan profilaksis untuk SEMUA yang terpajan menggunakan baloxavir, oseltamivir, laninamivir, atau zanamivir 1, 2
Influenza Musiman
- Profilaksis direkomendasikan kondisional hanya untuk individu dengan risiko hospitalisasi sangat tinggi pasca-pajanan 1, 2
- Profilaksis tidak menggantikan vaksinasi 2
Terapi Adjuvan - TIDAK DIREKOMENDASIKAN
Influenza Non-Berat
Influenza Berat
- Rekomendasi kondisional MENENTANG 1, 2:
- Kortikosteroid
- Makrolida
- mTOR inhibitor
- NSAID
- Terapi imun pasif (plasma konvalesen)
- Antibiotik hanya jika ada bukti ko-infeksi bakteri 2
Diagnosis
Influenza Berat (Tersangka)
- NAAT (Nucleic Acid Amplification Test/PCR) adalah gold standard 2
- Tes sensitivitas dan spesifisitas tinggi diperlukan
- Mulai terapi antiviral SEBELUM hasil tes tersedia jika kecurigaan klinis tinggi 2
Influenza Non-Berat Risiko Tinggi
- Digital immunoassay (DIA) atau NAAT 2
- Rapid testing dianjurkan, diikuti terapi antiviral jika positif 2
Keterbatasan Klinis
- Sulit membedakan influenza dari pneumonia bakterial secara klinis 4
- PCR sangat memfasilitasi identifikasi virus respiratori dengan implikasi penting untuk kontrol infeksi 4
Gambaran Foto Toraks (CXR)
Temuan Radiologis Khas
- Ground-glass opacities bilateral dan multifokal (84.5% kasus) 5
- Konsolidasi dengan predominasi peribronchovascular dan subpleural 5
- Distribusi terutama di zona tengah dan atas paru 5
- Opasitas retikular pada ~20% kasus 5
Pola Distribusi
- Konsolidasi alveolar basal dan aksial 5
- Opasitas multifokal bilateral berkorelasi dengan keparahan penyakit 5
Skor Keparahan
- Jumlah lobus terlibat dan skor CXR berkorelasi ketat dengan:
- Kebutuhan ventilasi mekanik
- Keparahan penyakit secara keseluruhan 5
Catatan Penting
- Foto toraks influenza tidak dapat dibedakan dari COVID-19 di setting gawat darurat 6
- Mayoritas pasien (38-39%) memiliki foto toraks normal saat presentasi di IGD 6
- 28-29% mildly abnormal, 21-22% moderately abnormal, 11-12% severely abnormal 6
- Temuan radiologis bersifat non-spesifik dan tidak dapat membedakan viral dari bakterial pneumonia 4
Peringatan Klinis
Jendela Terapi
- 48 jam dari onset gejala adalah kritis untuk efektivitas antiviral maksimal 3, 2
- Untuk kasus berat tersangka, jangan tunda terapi menunggu hasil laboratorium 2
Antimicrobial Stewardship
- Hindari antibiotik empiris tanpa bukti infeksi bakteri 1, 2
- Terapi antiviral dini dapat mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak perlu 3