Penggunaan PCR Multiplex untuk Infeksi Saluran Pernapasan
PCR multiplex harus digunakan dengan spesimen nasofaring untuk pasien rawat inap dengan pneumonia komunitas (CAP) yang dicurigai, tetapi tidak direkomendasikan secara rutin untuk pasien rawat jalan, kecuali pada populasi risiko tinggi atau untuk keperluan pengendalian infeksi. 1
Metodologi dan Jenis Tes yang Tersedia
PCR multiplex menggunakan berbagai metodologi deteksi, termasuk:
- Real-time RT-PCR
- Nested multiplex RT-PCR
- Amplifikasi asam nukleat isotermal
- RT-PCR diikuti hibridisasi microarray 1
Kategori Panel PCR Multiplex
Panel tersedia dalam lima kategori berdasarkan target patogen 1:
- Panel komprehensif (>4 target): Virus influenza, virus non-influenza, plus bakteri atipikal (contoh: FilmArray Pneumonia Panel, ePlex Respiratory Pathogen Panel)
- Panel virus saja (>4 target): Influenza dan virus respiratori non-influenza
- Panel terbatas (3 target): Influenza A/B plus RSV
- Panel non-influenza (2-3 target): Virus non-influenza saja
- Tes target tunggal: Untuk virus spesifik
Pengambilan Spesimen
Spesimen yang disetujui untuk pengujian 1:
- Paling umum: Swab nasofaring
- Alternatif: Swab nasal, aspirat nasal, bilasan nasal, swab tenggorokan
- Saluran napas bawah: Sebagian besar tes tidak disetujui untuk cairan BAL, kecuali panel tertentu (FilmArray Pneumonia Panel)
Peringatan Penting tentang Lokasi Pengambilan Spesimen
Tes saluran napas atas tidak cukup sensitif untuk menyingkirkan infeksi saluran napas bawah, terutama pada pasien kritis dan immunocompromised 1. Studi menunjukkan:
- Pada pasien immunocompromised dengan RSV: sensitivitas bilasan nasal hanya 15%, dibandingkan aspirat endotrakeal 71,4% dan BAL 88,9% 1
- Pada penerima transplantasi sel punca hematopoietik: diskordansi tinggi antara spesimen saluran napas atas dan bawah untuk adenovirus (100%), human metapneumovirus (44%), rhinovirus (34%), dan parainfluenza virus tipe 3 (28%) 1
Rekomendasi Berdasarkan Setting Klinis
Pasien Rawat Jalan dengan CAP yang Dicurigai
Rekomendasi: Tidak melakukan tes PCR multiplex secara rutin untuk virus non-influenza (rekomendasi kondisional, bukti kualitas sangat rendah) 1
Rasional:
- Bukti tidak mendukung hubungan signifikan antara tes virus non-influenza dengan perubahan penggunaan antimikroba pada pasien rawat jalan
- Sebagian besar pasien dengan hasil positif tetap menerima antibiotik 1
- Penggunaan antibiotik pada rawat jalan diasumsikan lebih rendah dibandingkan rawat inap
Pasien Rawat Inap dengan CAP yang Dicurigai
Rekomendasi: Lakukan tes PCR multiplex untuk virus non-influenza (rekomendasi kondisional, bukti kualitas sangat rendah) 1
Manfaat potensial:
- Dapat mengurangi durasi penggunaan antibiotik (median 7 hari vs 12 hari ketika klinisi diberitahu hasil positif virus) 1
- Membantu keputusan kohort pasien untuk pengendalian infeksi di rumah sakit dengan kapasitas tempat tidur terbatas 2
- Turnaround time cepat (median 1,5-1,7 jam) memungkinkan keputusan klinis lebih awal 3
Populasi Khusus yang Memerlukan Perhatian
Pasien immunocompromised dan kritis memerlukan pertimbangan khusus:
- Pertimbangkan pengambilan spesimen saluran napas bawah jika tes saluran napas atas negatif tetapi kecurigaan klinis tinggi 1
- Strain influenza tertentu (H1N1, H5N1) lebih sering menginfeksi saluran napas bawah dan dapat terlewat dengan tes saluran napas atas 1
Interpretasi Hasil dan Implikasi Klinis
Keterbatasan yang Harus Dipahami
Hasil positif tidak selalu berarti patogen penyebab:
- Panel multiplex tidak dapat membedakan antara kolonisasi dan infeksi aktif 4
- Nilai Ct (cycle threshold) dapat membantu menentukan dominansi patogen pada ko-deteksi 5
- Virus dengan Ct rendah (RSV, influenza) lebih mungkin sebagai patogen dominan dibandingkan virus dengan Ct tinggi (rhinovirus/enterovirus, adenovirus, bocavirus) 5
Dampak pada penggunaan antibiotik terbatas:
- Hanya 12,5-32% pasien dengan hasil virus positif/bakteri negatif yang antibiotiknya dihentikan 1
- Sebagian besar pasien (72-97,8%) tetap menerima antibiotik meskipun hanya virus yang terdeteksi 1
- Perubahan terapi antibiotik hanya terjadi pada 22% kasus 1
Algoritma Penggunaan Berdasarkan Risiko
Pendekatan berbasis risiko untuk menentukan pengujian 2:
Risiko Rendah (Rawat Jalan Sehat)
- Pengujian mungkin tidak diperlukan
- Pertimbangkan konsultasi klinisi untuk kasus individual
Risiko Tinggi (Rawat Inap, Immunocompromised, Komorbid)
- Pertimbangkan pengujian multiplex
- Gunakan panel komprehensif untuk pasien ICU
- Pertimbangkan spesimen saluran napas bawah jika tersedia dan kecurigaan klinis tinggi
Pertimbangan Praktis
Pemilihan Platform Tes
Random-access platforms: Untuk volume spesimen rendah-sedang, memberikan turnaround time cepat 2
Batched testing platforms: Untuk volume tinggi, lebih cost-effective 2
Algoritma bertingkat: Mulai dengan tes singleplex/duplex (influenza ± RSV) yang lebih murah, gunakan panel multiplex hanya jika negatif 2
Peringatan Umum
- Jangan mengandalkan hasil negatif saluran napas atas untuk menyingkirkan infeksi saluran napas bawah pada pasien kritis atau immunocompromised
- Jangan menghentikan antibiotik hanya berdasarkan hasil virus positif tanpa evaluasi klinis menyeluruh
- Pertimbangkan nilai Ct dalam interpretasi ko-deteksi untuk menentukan patogen dominan
- Koordinasi dengan tim pengendalian infeksi untuk optimalisasi kohort pasien dan isolasi
Akurasi Diagnostik
Panel multiplex menunjukkan akurasi diagnostik yang sangat baik 6:
- RSV: Sensitivitas 99%, spesifisitas 100%
- Influenza A: Sensitivitas 97%, spesifisitas 100%
- Influenza B: Sensitivitas 98%, spesifisitas 100%
Namun, performa komparator bervariasi, dan bukti berkualitas rendah 6.