Terapi Diabetes Insipidus pada Anak
Untuk diabetes insipidus sentral pada anak, mulai dengan desmopressin (DDAVP) oral 0,05 mg dua kali sehari dan titrasi hingga 0,1-0,8 mg/hari dalam dosis terbagi; untuk diabetes insipidus nefrogenik, mulai dengan kombinasi thiazide diuretik dan inhibitor sintesis prostaglandin (NSAID), ditambah pembatasan garam dan protein dalam diet. 1, 2
Diabetes Insipidus Sentral
Terapi Farmakologis dengan Desmopressin
Desmopressin adalah terapi pilihan untuk DI sentral pada anak. Protokol dosis yang direkomendasikan 1:
- Dosis awal: 0,05 mg (½ tablet 0,1 mg) dua kali sehari
- Titrasi: Sesuaikan setiap dosis secara individual untuk mencapai ritme diurnal yang adekuat
- Rentang dosis optimal: 0,1-0,8 mg/hari dalam dosis terbagi (kebanyakan pasien)
- Rentang maksimal: Hingga 1,2 mg/hari jika diperlukan
- Penyesuaian: Tingkatkan atau turunkan dalam kelipatan 0,1 mg berdasarkan respons
Studi klinis menunjukkan efektivitas tinggi dengan dosis rata-rata 474 ± 222 mcg/m²/hari 3. Untuk pasien yang sebelumnya menggunakan DDAVP intranasal, mulai terapi tablet 12 jam setelah dosis intranasal terakhir 1.
Monitoring dan Penyesuaian
Parameter yang harus dipantau 1:
- Durasi tidur yang adekuat
- Volume urin (water turnover yang adekuat, bukan berlebihan)
- Osmolalitas urin dan plasma
- Berat badan
Peringatan penting: Pembatasan cairan harus dipatuhi untuk mencegah intoksikasi air dan hiponatremia 1.
Diabetes Insipidus Nefrogenik
Terapi Farmakologis
Pada bayi dan anak dengan NDI simptomatik, mulai terapi dengan kombinasi thiazide diuretik dan inhibitor sintesis prostaglandin (COX inhibitor/NSAID). 2
Regimen Thiazide
Thiazide dapat mengurangi diuresis hingga 50% dalam jangka pendek ketika dikombinasikan dengan diet rendah garam 2. Mekanisme kerja melalui deplesi volume ringan yang meningkatkan reabsorpsi natrium dan air di tubulus proksimal 4.
Dosis dewasa: Hydrochlorothiazide 25 mg sekali atau dua kali sehari 2 Dosis anak: 3 mg/kg/hari dibagi tiga kali sehari 5
Amiloride sebagai Tambahan
Tambahkan amiloride pada pasien dengan hipokalemia akibat thiazide 2. Dosis: 0,3 mg/kg/hari oral tiga kali sehari 5. Kombinasi hydrochlorothiazide/amiloride lebih efektif dan lebih dapat ditoleransi dibanding hydrochlorothiazide saja, dengan efikasi serupa kombinasi hydrochlorothiazide/indometasin tetapi tanpa efek samping berat 5.
Inhibitor COX (NSAID)
Kombinasi dengan thiazide memberikan efek aditif dalam mengurangi output urin 2.
Peringatan penting: Hentikan COX inhibitor saat pasien mencapai usia dewasa (≥18 tahun) atau lebih awal jika kontinensia penuh tercapai, karena kekhawatiran nefrotoksisitas 2.
Manajemen Diet - Komponen Krusial
Setiap pasien NDI harus mendapat konseling diet dari ahli gizi berpengalaman dengan penyakit ini 2. Pembatasan garam dan protein mengurangi beban osmotik ginjal dan meminimalkan volume urin, tetapi pembatasan berlebihan dapat mengganggu pertumbuhan 2.
Rekomendasi Spesifik Garam dan Protein 2:
Usia 0-1 tahun:
- Garam: 1 g/hari (0,4 g natrium)
- Protein: 1,8 g/kg/hari (0-1 bulan), 1,4 g/kg/hari (2-4 bulan), 1,3 g/kg/hari (5-12 bulan)
Usia 1-3 tahun:
- Garam: 2 g/hari (0,8 g natrium)
- Protein: 1 g/kg/hari
Usia 4-6 tahun:
- Garam: 3 g/hari (1,2 g natrium)
- Protein: 0,95 g/kg/hari
Usia 7-10 tahun:
- Garam: 5 g/hari (2 g natrium)
- Protein: 0,95 g/kg/hari
Usia >11 tahun:
- Garam: <6 g/hari (2,4 g natrium)
- Protein: 0,85 g/kg/hari
Manajemen Cairan dan Nutrisi
Akses bebas ke cairan pada semua anak dengan NDI 2. Untuk bayi, berikan asupan susu sesuai usia (bukan air) untuk menjamin asupan kalori adekuat 2.
Pertimbangkan tube feeding pada bayi dan anak dengan 2:
- Episode berulang muntah dan dehidrasi
- Failure to thrive
Sekitar 20-30% anak dengan NDI memerlukan tube feeding pada suatu waktu, dengan ~25% memerlukan gastrostomi, jarang dilanjutkan melewati usia 4 tahun 2.
Monitoring Jangka Panjang
Evaluasi Efikasi Terapi
Parameter untuk menilai efikasi terapi 2:
- Osmolalitas urin
- Output urin
- Pertambahan berat badan
- Pertumbuhan
Monitoring ketat diperlukan saat memulai terapi, terutama pada bayi, karena ada laporan hiponatremia berat pada pasien yang mempertahankan asupan cairan tinggi setelah memulai terapi obat 2.
Follow-up Rutin
Lakukan USG ginjal minimal setiap 2 tahun untuk memantau dilatasi saluran kemih dan/atau disfungsi kandung kemih akibat poliuria 2. Hidronefrosis dilaporkan pada 34% kasus NDI 2.
Pasien NDI harus diikuti oleh tim multidisiplin yang mencakup nefrolog (pediatrik), ahli gizi, psikolog, pekerja sosial, dan urolog 2.
Penyesuaian Terapi Berkelanjutan
Terapi obat harus didasarkan pada keseimbangan efikasi yang tampak dan kekhawatiran terhadap perkembangan efek samping 2. Dalam studi multisenter, pengobatan dengan minimal satu obat menurun dari 85% pada masa kanak-kanak menjadi 56% pada masa dewasa 2.
Pertimbangan Khusus
Kasus NDI Parsial
Pada kasus NDI parsial dengan fungsi reseptor V2 residual, dosis tinggi DDAVP dapat efektif 6, 7. Pasien yang responsif terhadap DDAVP memiliki osmolalitas urin maksimal pada tes deprivasi air dan osmolalitas urin setelah injeksi vasopresin yang lebih tinggi (206 vs 106 mOsm/kg H₂O, 525 vs 140 mOsm/kg H₂O) 7.
Mutasi AVPR2 yang responsif terhadap DDAVP: p.Ala37Pro, p.Leu44Phe, p.Arg104Cys, p.Tyr128Ser 7.
Pitfall yang Harus Dihindari
- Jangan salah diagnosis NDI sebagai DI sentral - Respons parsial terhadap desmopressin dan temuan MRI dapat menyesatkan 8
- Jangan lupa pembatasan cairan pada terapi DDAVP - Risiko intoksikasi air 1
- Jangan membatasi garam/protein berlebihan - Dapat mengganggu pertumbuhan 2
- Jangan lanjutkan COX inhibitor hingga dewasa - Risiko nefrotoksisitas dan CKD 2
- Jangan abaikan monitoring elektrolit - Terutama kalium pada terapi thiazide 2