Terapi Peritonitis Tuberkulosis
Untuk peritonitis TB yang sensitif obat, gunakan regimen standar 6 bulan dengan rifampisin, isoniazid, pirazinamid, dan etambutol selama 2 bulan fase intensif, diikuti rifampisin dan isoniazid selama 4 bulan fase lanjutan. 1
Regimen Pengobatan Standar
Berdasarkan tinjauan sistematis dan pedoman terkini, terapi peritonitis TB mengikuti prinsip pengobatan TB ekstrapulmonal:
Fase Intensif (2 bulan pertama):
- Rifampisin
- Isoniazid
- Pirazinamid
- Etambutol
Fase Lanjutan (4 bulan berikutnya):
- Rifampisin
- Isoniazid
Total durasi: 6 bulan untuk kasus tanpa komplikasi 1, 2
Regimen 6 bulan ini telah terbukti adekuat untuk peritonitis TB yang tidak resisten obat, dengan tingkat kesembuhan yang baik dan angka relaps yang rendah 3, 1.
Pertimbangan Khusus untuk Pasien Dialisis Peritoneal
Jika peritonitis TB terjadi pada pasien yang menjalani dialisis peritoneal (CAPD/PD), terdapat dua pendekatan berbeda dalam literatur:
Pendekatan Konservatif (Mempertahankan Kateter):
- Beberapa studi menunjukkan CAPD dapat dilanjutkan dengan terapi antituberkulosis yang adekuat
- Dosis obat perlu disesuaikan untuk fungsi ginjal
- Pemantauan ketat diperlukan untuk respons klinis 3
- Ultrafiltrasi dan klirens solut dapat tetap memuaskan jika terapi dimulai dini 4
Pendekatan Agresif (Pencabutan Kateter):
- Data dari ANZDATA Registry menunjukkan tingkat pencabutan kateter mencapai 82% 5
- Pencabutan kateter direkomendasikan jika:
- Tidak ada respons terhadap terapi dalam 2-4 minggu
- Terdapat komplikasi seperti peritonitis berulang
- Dicurigai encapsulating peritoneal sclerosis (EPS) 6
- Transisi ke hemodialisis mungkin diperlukan 5
Rekomendasi praktis: Mulai terapi antituberkulosis segera, pertimbangkan pencabutan kateter jika tidak ada perbaikan klinis dalam 2-4 minggu atau jika terdapat komplikasi.
Penyesuaian untuk TB Resisten Obat
Jika terdapat resistensi rifampisin atau MDR-TB (sangat jarang pada peritonitis TB primer), ikuti pedoman TB resisten obat:
Untuk MDR/RR-TB:
- Fluorokuinolon generasi baru (levofloksasin atau moksifloksasin) - rekomendasi kuat 7, 8
- Bedaquiline - rekomendasi kuat 7, 8
- Linezolid - rekomendasi kuat 8
- Clofazimine - dapat dipertimbangkan 7, 8
- Cycloserine - dapat dipertimbangkan 7
Minimal 5 obat pada fase intensif, 4 obat pada fase lanjutan 7
Durasi total: 15-21 bulan setelah konversi kultur 7
Untuk kasus MDR-TB dengan fluorokuinolon sensitif pada remaja ≥14 tahun dan dewasa, regimen BPaLM (bedaquiline, pretomanid, linezolid, moxifloxacin) selama 6 bulan dapat dipertimbangkan 9.
Peran Kortikosteroid
Kortikosteroid TIDAK rutin direkomendasikan untuk peritonitis TB, berbeda dengan perikarditis TB atau meningitis TB 2. Perannya tetap kontroversial dan hanya dipertimbangkan pada kasus dengan:
- Peritonitis konstriktif berat
- Obstruksi intestinal akibat adhesi masif
- Respons inflamasi yang sangat berat
Pemantauan dan Komplikasi
Waspadai komplikasi yang memerlukan intervensi bedah:
- Perforasi usus
- Obstruksi intestinal dari adhesi
- Pembentukan fistula
- Perdarahan 10
Pitfall yang Harus Dihindari
Jangan menunda terapi sambil menunggu kultur (yang memerlukan beberapa minggu) - mulai terapi empiris jika kecurigaan klinis tinggi 1, 4
Jangan menggunakan regimen yang terlalu pendek - durasi minimal 6 bulan diperlukan, berbeda dengan peritonitis bakterial biasa
Jangan lupa sesuaikan dosis pada pasien dengan gangguan ginjal atau yang menjalani dialisis
Jangan abaikan kemungkinan TB resisten obat pada pasien dengan riwayat pengobatan TB sebelumnya atau yang berasal dari daerah endemis MDR-TB
Pada pasien dialisis peritoneal, jangan ragu untuk mencabut kateter jika tidak ada perbaikan klinis dalam 2-4 minggu - data menunjukkan tingkat kegagalan tinggi dengan pendekatan konservatif 5