From the Guidelines
Myelofibrosis dan gagal ginjal kronis (CKD) memiliki hubungan yang kompleks dan saling mempengaruhi, di mana kondisi satu dapat mempengaruhi kondisi lainnya. Myelofibrosis, sebuah kanker sumsum tulang langka yang ditandai dengan skar pada sumsum tulang dan produksi sel darah yang abnormal, dapat menyebabkan disfungsi ginjal melalui beberapa mekanisme. Produksi sitokin yang berlebihan pada myelofibrosis, terutama mediator inflamasi seperti TGF-beta, dapat secara langsung merusak jaringan ginjal dan mempromosikan fibrosis 1. Selain itu, keadaan hiperproliferasi pada myelofibrosis dapat menyebabkan hiperviskositas, pembentukan mikrotrombi, dan hematopoiesis ekstrameduler yang dapat mempengaruhi perfusi dan fungsi ginjal. Pasien dengan myelofibrosis sering mengalami hiperurisemia karena peningkatan turnover sel, yang dapat menyebabkan nefropati asam urat dan memperburuk progresi CKD. Sebaliknya, CKD dapat memperburuk myelofibrosis dengan memperburuk anemia melalui penurunan produksi eritropoietin, menciptakan siklus penyakit yang memburuk. Pengelolaan pasien dengan kedua kondisi ini memerlukan pemantauan yang cermat terhadap fungsi ginjal, penyesuaian dosis obat-obatan seperti ruxolitinib (sebuah inhibitor JAK yang umum digunakan untuk myelofibrosis), dan mengatasi komplikasi seperti hiperurisemia dengan allopurinol atau febuxostat. Evaluasi teratur terhadap kedua kondisi ini sangat penting karena penurunan pada satu kondisi sering kali menandakan memburuknya kondisi lainnya.
Beberapa poin penting yang perlu dipertimbangkan dalam mengelola pasien dengan myelofibrosis dan CKD adalah:
- Pemantauan fungsi ginjal yang cermat untuk mendeteksi perubahan pada fungsi ginjal sejak dini
- Penyesuaian dosis obat-obatan untuk menghindari efek sampingan yang dapat memperburuk CKD
- Pengelolaan komplikasi seperti hiperurisemia dan anemia untuk mencegah progresi CKD
- Evaluasi teratur terhadap kedua kondisi untuk mendeteksi perubahan pada fungsi ginjal dan sumsum tulang sejak dini.
From the Research
Hubungan Myelofibrosis dengan Gagal Ginjal Kronis
Hubungan antara myelofibrosis dan gagal ginjal kronis (CKD) telah dipelajari dalam beberapa penelitian. Berikut adalah beberapa poin penting yang menjelaskan hubungan tersebut:
- Myelofibrosis adalah suatu kondisi di mana sumsum tulang mengalami fibrosis, yang dapat menyebabkan penurunan fungsi sumsum tulang dan menghasilkan gejala-gejala seperti anemia, penurunan trombosit, dan peningkatan risiko trombosis 2.
- CKD adalah suatu kondisi di mana ginjal mengalami kerusakan progresif, yang dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal dan menghasilkan gejala-gejala seperti penurunan kemampuan untuk memfilter darah, peningkatan tekanan darah, dan peningkatan risiko komplikasi kardiovaskular 3.
- Penelitian telah menunjukkan bahwa myelofibrosis dapat meningkatkan risiko CKD, dan sebaliknya, CKD dapat meningkatkan risiko myelofibrosis 4.
- Mekanisme yang mendasari hubungan antara myelofibrosis dan CKD belum sepenuhnya dipahami, namun beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa inflamasi, fibrosis, dan perubahan metabolik dapat memainkan peran penting dalam proses tersebut 5, 6.
- Pengelolaan myelofibrosis dan CKD memerlukan pendekatan yang komprehensif, termasuk pengobatan gejala, pengelolaan komplikasi, dan upaya untuk memperlambat progresi penyakit 2, 3.
Faktor Risiko dan Mekanisme
Beberapa faktor risiko dan mekanisme yang dapat mempengaruhi hubungan antara myelofibrosis dan CKD adalah:
- Inflamasi dan fibrosis: Inflamasi dan fibrosis dapat memainkan peran penting dalam proses CKD, dan myelofibrosis dapat meningkatkan risiko inflamasi dan fibrosis 5, 6.
- Perubahan metabolik: Perubahan metabolik dapat mempengaruhi fungsi ginjal dan sumsum tulang, dan myelofibrosis dapat meningkatkan risiko perubahan metabolik 6.
- Trombosis: Myelofibrosis dapat meningkatkan risiko trombosis, yang dapat memperburuk CKD 2.
- Kerusakan ginjal: CKD dapat menyebabkan kerusakan ginjal, yang dapat memperburuk myelofibrosis 3.