Kriteria Diagnosis Morfologi Terbaru untuk CMML
Kriteria diagnosis morfologi terbaru untuk CMML mencakup monosit persisten dalam darah perifer (>1×10^9/L), displasia pada satu atau lebih garis sel mieloid, <20% sel blas di darah perifer dan sumsum tulang, tidak adanya kromosom Philadelphia atau gen fusi BCR-ABL1, serta tidak adanya rearrangement PDGFRA atau PDGFRB. 1
Kriteria Diagnostik Komprehensif
Menurut klasifikasi WHO 2008 yang masih digunakan, diagnosis CMML memerlukan:
- Monosit persisten dalam darah perifer (>1×10^9/L) 1
- Tidak adanya kromosom Philadelphia atau gen fusi BCR-ABL1 1
- Tidak adanya rearrangement PDGFRA atau PDGFRB (harus dieksklusi terutama pada kasus dengan eosinofilia) 1
- Kurang dari 20% sel blas di darah perifer dan sumsum tulang (termasuk mieloblast, monoblast, dan promonosit) 1
- Minimal satu dari kriteria berikut:
Klasifikasi Berdasarkan Jumlah Blas
Klasifikasi terbaru (2016) membagi CMML menjadi tiga kelompok berdasarkan jumlah sel blas:
- CMML-0: <2% blas di darah perifer dan <5% blas di sumsum tulang 1
- CMML-1: 2-4% blas di darah perifer dan/atau 5-9% blas di sumsum tulang 1
- CMML-2: 5-19% blas di darah perifer, 10-19% blas di sumsum tulang, dan/atau adanya batang Auer 1
Klasifikasi Berdasarkan Karakteristik Klinis
CMML juga dibagi menjadi dua subtipe berdasarkan karakteristik klinis:
- CMML tipe mielodisplastik (MD-CMML): jumlah leukosit <13×10^9/L 1
- CMML tipe mieloproliferatif (MP-CMML): jumlah leukosit ≥13×10^9/L 1
Penting untuk mempertahankan pembagian ini dalam evaluasi diagnostik karena berimplikasi pada pilihan terapi yang berbeda 1.
Pemeriksaan Diagnostik yang Diperlukan
Darah Perifer
Aspirasi Sumsum Tulang
- Adanya displasia pada satu atau lebih garis sel mieloid 1
- Hiperplasia granulosit 1
- Persentase blas (termasuk mieloblast, monoblast, dan promonosit) 1
Biopsi Sumsum Tulang
- Pewarnaan hematoxylin-eosin atau setara 1
- Imunostaining untuk sel CD34+ dan sel monositik (CD68R dan CD163) 1
- Impregnasi perak Gomori untuk fibrosis 1
- Informasi diagnostik yang berguna: selularitas sumsum tulang, displasia dan hiperplasia kompartemen megakariosit, hitung blas, dan fibrosis sumsum tulang 1
Analisis Sitogenetik dan Molekuler
- Analisis sitogenetik konvensional untuk mendeteksi abnormalitas kromosom klonal dan mengeksklusi translokasi t(9;22) dan t(5;12) 1
- Pemeriksaan molekuler untuk mengeksklusi gen fusi bcr/abl 1
- Pada kasus dengan eosinofilia dan t(5;12) negatif, perlu dilakukan pemeriksaan rearrangement PDGFRA dan PDGFRB 1
Profil Mutasi Molekuler
Meskipun belum menjadi kriteria diagnostik rutin, mutasi pada gen berikut sering ditemukan pada CMML dan dapat membantu diagnosis:
Mutasi ASXL1 dan DNMT3A serta tidak adanya mutasi TET2 berdampak negatif pada kelangsungan hidup 2, 3.
Catatan Penting dan Pitfall
- Pastikan untuk mengeksklusi penyebab monosit reaktif seperti infeksi dan tumor solid 1
- Perhatikan bahwa CMML dengan eosinofilia yang memiliki rearrangement PDGFRA atau PDGFRB diklasifikasikan sebagai entitas terpisah dalam klasifikasi WHO 2008 1
- Diagnosis CMML memerlukan pemantauan monosit persisten selama minimal 3 bulan jika tidak ditemukan displasia atau abnormalitas sitogenetik/molekuler 1
- Batang Auer pada sel mieloid tidak ditemukan pada CMML 1
- Pemeriksaan imunofenotip dengan flow cytometry dapat membantu diagnosis tetapi tidak spesifik untuk CMML 4, 5