Kriteria WHO 2022 untuk CMML (Chronic Myelomonocytic Leukemia)
Berdasarkan kriteria WHO 2022, diagnosis CMML memerlukan adanya monosistosis persisten dalam darah perifer (≥0,5 × 10^9/L dengan monosit ≥10% dari jumlah leukosit) yang bertahan selama minimal 3 bulan, morfologi sumsum tulang yang konsisten, <20% blas di sumsum tulang atau darah perifer, dan bukti klonalitas dari pemeriksaan sitogenetik atau molekuler. 1
Kriteria Diagnostik Utama
- Monosistosis persisten dalam darah perifer (≥0,5 × 10^9/L dengan monosit ≥10% dari jumlah leukosit) selama minimal 3 bulan 2, 1
- Jumlah blas dalam darah perifer dan sumsum tulang <20% (termasuk mieloblas, monoblas, dan promonosit) 3, 2
- Tidak ada kromosom Philadelphia atau fusi gen BCR-ABL1 3, 2
- Tidak ada rearrangement PDGFRA atau PDGFRB (harus dieksklusi terutama pada kasus dengan eosinofilia) 3, 2
- Minimal satu dari kriteria berikut: 3, 2
- Displasia pada satu atau lebih lini sel mieloid
- Abnormalitas sitogenetik klonal atau abnormalitas genetik molekuler pada sel hematopoietik
- Monosistosis persisten selama minimal 3 bulan tanpa bukti penyebab monosistosis lainnya (seperti infeksi, inflamasi, atau keganasan)
Klasifikasi CMML Berdasarkan Jumlah Blas
WHO 2022 membagi CMML menjadi tiga subkelompok berdasarkan jumlah blas: 2, 1
- CMML-0: <2% blas dalam darah perifer dan <5% blas dalam sumsum tulang
- CMML-1: 2-4% blas dalam darah perifer dan/atau 5-9% blas dalam sumsum tulang
- CMML-2: 5-19% blas dalam darah perifer, 10-19% blas dalam sumsum tulang, dan/atau adanya batang Auer
Klasifikasi CMML Berdasarkan Karakteristik Klinis
CMML juga dibagi menjadi dua subtipe berdasarkan karakteristik klinis: 3, 2, 1
- CMML tipe mielodisplastik (MD-CMML): jumlah leukosit <13×10^9/L
- CMML tipe mieloproliferatif (MP-CMML): jumlah leukosit ≥13×10^9/L
Pemeriksaan Diagnostik yang Diperlukan
- Pemeriksaan darah perifer lengkap dengan hitung jenis leukosit 2, 4
- Pemeriksaan aspirasi dan biopsi sumsum tulang, termasuk penilaian jumlah monosit, displasia, dan persentase blas 2, 5
- Analisis sitogenetik untuk mengeksklusi abnormalitas klonal dan mengidentifikasi abnormalitas kromosom spesifik 3, 2
- Analisis molekuler untuk mendeteksi mutasi gen yang sering terjadi pada CMML, seperti TET2 (
60%), SRSF2 (50%), ASXL1 (40%), dan jalur RAS (30%) 1, 6 - Eksklusi fusi gen BCR-ABL1 untuk membedakan dari leukemia mieloid kronik 3
- Pemeriksaan rearrangement PDGFRA atau PDGFRB, terutama pada kasus dengan eosinofilia 3, 2
Catatan Penting dan Pitfall
- Penting untuk mengeksklusi monosistosis reaktif yang disebabkan oleh infeksi atau tumor solid 2, 4
- CMML dengan eosinofilia dan rearrangement PDGFRA atau PDGFRB diklasifikasikan sebagai entitas terpisah dalam klasifikasi WHO 3, 2
- Diagnosis CMML memerlukan evaluasi dan pemantauan yang cermat terhadap jumlah monosit dan kriteria diagnostik lainnya untuk memastikan diagnosis dan pengobatan yang akurat 2, 5
- Adanya mutasi ASXL1 dan DNMT3A serta tidak adanya mutasi TET2 berdampak negatif pada kelangsungan hidup secara keseluruhan (genotipe ASXL1WT/TET2MT lebih menguntungkan) 1, 6
Stratifikasi Risiko
Mayo Molecular Model (MMM) mengidentifikasi faktor risiko berikut: 1, 6
- Adanya mutasi ASXL1 tipe truncating
- Jumlah monosit absolut >10 × 10^9/L
- Hemoglobin <10 g/dL
- Jumlah trombosit <100 × 10^9/L
- Adanya sel mieloid imatur dalam sirkulasi
Berdasarkan faktor-faktor ini, CMML dapat dikategorikan menjadi empat kelompok risiko: 1, 6
- Risiko tinggi (≥3 faktor risiko): median survival 16 bulan
- Risiko menengah-2 (2 faktor risiko): median survival 31 bulan
- Risiko menengah-1 (1 faktor risiko): median survival 59 bulan
- Risiko rendah (tidak ada faktor risiko): median survival 97 bulan