Penyebab dan Perkembangan Penyakit Ginjal Kronis (CKD)
Ya, berbagai kondisi dapat berkembang menjadi Penyakit Ginjal Kronis (CKD) jika tidak dikelola dengan baik, terutama diabetes dan hipertensi yang merupakan penyebab utama CKD di seluruh dunia. 1, 2
Kondisi yang Dapat Berkembang Menjadi CKD
Diabetes adalah penyebab utama CKD di banyak negara, termasuk Amerika Serikat, menyumbang 30-40% kasus CKD. Penyakit ginjal diabetik biasanya berkembang setelah durasi diabetes 10 tahun pada diabetes tipe 1, tetapi mungkin sudah ada saat diagnosis diabetes tipe 2. 1, 2
Hipertensi merupakan penyebab dan juga akibat dari kerusakan ginjal, menciptakan siklus berbahaya yang mempercepat penurunan fungsi ginjal jika tidak dikendalikan dengan baik. 2
Glomerulonefritis kronis adalah penyebab signifikan CKD di beberapa wilayah, dan bersama dengan diabetes menyumbang lebih dari 50% kasus CKD di beberapa negara. 2
Penyakit tubulointerstisial ginjal dominan autosomal dapat menyebabkan fibrosis tubulointerstisial progresif dan berkembang menjadi penyakit ginjal stadium akhir. 2
Diagnosis dan Deteksi CKD
CKD didiagnosis melalui peningkatan persisten ekskresi albumin urin (albuminuria), penurunan estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR), atau manifestasi kerusakan ginjal lainnya selama lebih dari 3 bulan. 1, 2
Skrining untuk albuminuria dapat dilakukan dengan mudah menggunakan rasio albumin-kreatinin urin (UACR) dalam sampel urin acak. 2
Nilai UACR normal didefinisikan sebagai <30 mg/g Cr, dan ekskresi albumin urin tinggi didefinisikan sebagai ≥30 mg/g Cr. 1
Faktor Risiko Progresivitas CKD
Kontrol glikemik yang buruk pada pasien diabetes mempercepat perkembangan menuju CKD. 1, 3
Tekanan darah yang tidak terkontrol dan variabilitas tekanan darah yang tinggi meningkatkan risiko atau mempercepat perkembangan CKD. 1
Albuminuria persisten ≥300 mg/g merupakan penanda risiko tinggi untuk progresivitas CKD. 1, 4
Penurunan eGFR yang cepat atau eGFR <30 mL/min/1.73 m² menunjukkan perkembangan CKD yang signifikan dan memerlukan rujukan ke nefrolog. 1, 5
Strategi Pencegahan dan Manajemen
Penggunaan penghambat ACE atau ARB direkomendasikan untuk pasien dengan diabetes dan hipertensi yang memiliki UACR 30-299 mg/g kreatinin, dan sangat direkomendasikan untuk mereka dengan UACR ≥300 mg/g kreatinin dan/atau eGFR <60 mL/min/1.73 m². 1
Pada pasien dengan CKD yang memiliki albuminuria ≥300 mg/g, pengurangan 30% atau lebih dalam albuminuria direkomendasikan untuk memperlambat perkembangan CKD. 1
Optimalisasi kontrol tekanan darah dan pengurangan variabilitas tekanan darah sangat penting untuk mengurangi risiko atau memperlambat perkembangan CKD. 1
Penghambat SGLT2 direkomendasikan untuk mengurangi perkembangan CKD dan kejadian kardiovaskular pada orang dengan diabetes dan CKD. 2, 6
Pantau kadar kreatinin serum dan kalium secara berkala untuk mendeteksi peningkatan kreatinin atau perubahan kalium saat menggunakan penghambat ACE, ARB, atau diuretik. 1, 5
Hal Penting yang Perlu Diperhatikan
Jangan menghentikan blokade sistem renin-angiotensin untuk peningkatan kecil kadar kreatinin serum (≤30%) tanpa adanya deplesi volume. 1
Hindari penggunaan obat nefrotoksik seperti NSAID pada pasien dengan risiko CKD atau CKD yang sudah ada. 5, 4
Pasien harus dirujuk untuk evaluasi oleh nefrolog jika mereka memiliki eGFR <30 mL/min/1.73 m². 1
Segera rujuk ke nefrolog jika ada ketidakpastian tentang etiologi penyakit ginjal, masalah pengelolaan yang sulit, atau penyakit ginjal yang berkembang pesat. 1
CKD yang tidak dikelola dengan baik dapat berkembang menjadi penyakit ginjal stadium akhir (ESRD) yang memerlukan dialisis atau transplantasi ginjal. 1, 7