Mekanisme Furosemid Menyebabkan Hipotensi
Furosemid dapat menyebabkan hipotensi melalui dua mekanisme utama: deplesi volume akibat diuresis dan efek vasodilatasi langsung, dengan deplesi volume menjadi mekanisme utama yang paling signifikan. 1
Mekanisme Utama
- Diuresis berlebihan menyebabkan deplesi volume darah dan penurunan volume sirkulasi yang dapat mengakibatkan kolaps sirkulasi, terutama pada pasien lanjut usia 2
- Penggunaan furosemid yang berlebihan dapat menurunkan tekanan darah, mengganggu fungsi ginjal, dan menurunkan toleransi latihan 1
- Penurunan tekanan pengisian ventrikel kanan akibat kehilangan cairan menyebabkan penurunan volume sekuncup dan aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS) serta sistem saraf simpatis 1
Efek Vasodilatasi
- Furosemid memiliki efek vasodilatasi langsung yang dimediasi oleh prostaglandin, meskipun efek ini kurang signifikan dibandingkan dengan efek diuretiknya 3
- Pemberian indomethacin (penghambat prostaglandin) dapat mencegah penurunan tekanan darah yang diinduksi furosemid pada tikus dengan ligasi ureter, menunjukkan peran prostaglandin dalam efek hipotensi 3
- Efek hipotensi awal furosemid bergantung pada diuresis, karena pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal berat tanpa diuresis, efek penurunan tekanan darah minimal 4
Faktor Risiko Hipotensi
- Pasien dengan hipotensi (tekanan darah sistolik < 90 mmHg), hiponatremia berat, atau asidosis kemungkinan tidak akan merespons pengobatan diuretik dan berisiko mengalami hipotensi lebih lanjut 1
- Hipotensi dan azotemia dapat terjadi sebagai akibat dari memburuknya gagal jantung, yang dapat diperburuk oleh upaya untuk mengurangi dosis diuretik 1
- Pasien dengan postur tegak dapat mengalami peningkatan renin plasma yang ditemukan pada pasien sirosis dengan asites, yang secara teoritis dapat meningkatkan retensi natrium dan memperburuk hipotensi 1
Elektrolit dan Hipotensi
- Furosemid dapat menyebabkan deplesi elektrolit penting (kalium dan magnesium), yang dapat memperburuk hipotensi 2
- Tanda-tanda ketidakseimbangan cairan atau elektrolit yang dapat berkontribusi pada hipotensi meliputi: mulut kering, haus, kelemahan, letargi, mengantuk, gelisah, nyeri otot atau kram, kelelahan otot, hipotensi, oliguria, takikardia, aritmia, atau gangguan gastrointestinal seperti mual dan muntah 2
- Hipotensi postural yang terkadang terjadi biasanya dapat diatasi dengan bangun secara perlahan 2
Interaksi Obat yang Memperburuk Hipotensi
- Furosemid yang dikombinasikan dengan penghambat enzim konversi angiotensin (ACE inhibitor) atau penghambat reseptor angiotensin II dapat menyebabkan hipotensi berat dan penurunan fungsi ginjal, termasuk gagal ginjal 2
- Potensiasi terjadi dengan obat-obatan yang memblokir ganglion atau adrenergik perifer. Furosemid dapat menurunkan respons arteri terhadap norepinefrin 2
- Penggunaan furosemid bersamaan dengan kloralhidrat dalam waktu 24 jam dapat menyebabkan kemerahan, serangan berkeringat, kegelisahan, mual, peningkatan tekanan darah, dan takikardia 2
Pencegahan dan Penanganan Hipotensi
- Jika tidak ada tanda-tanda retensi cairan, hipotensi dan azotemia kemungkinan terkait dengan deplesi volume dan dapat teratasi setelah pengurangan dosis diuretik 1
- Pemantauan elektrolit serum (terutama kalium), CO2, kreatinin, dan BUN harus dilakukan secara teratur selama terapi furosemid 2
- Pada pasien dengan gagal jantung, kombinasi furosemid dengan ACE inhibitor atau antagonis aldosteron dapat mencegah deplesi elektrolit dan membantu mengelola hipotensi 1
Kesimpulan Klinis
- Hipotensi yang disebabkan oleh furosemid terutama terjadi melalui mekanisme deplesi volume dan vasodilatasi yang dimediasi prostaglandin 3, 4
- Penggunaan furosemid harus hati-hati pada pasien dengan risiko hipotensi, dan dosis harus disesuaikan berdasarkan respons tekanan darah dan status volume 2
- Pemantauan elektrolit dan fungsi ginjal sangat penting untuk mencegah komplikasi hipotensi terkait furosemid 2