Tren Terbaru dalam Tata Laksana Acute Heart Failure
Strategi terbaru dalam tata laksana acute heart failure (AHF) berfokus pada inisiasi cepat dan titrasi terapi medis berbasis bukti sebelum pasien dipulangkan, disertai kunjungan tindak lanjut yang sering dan cermat dalam 6 minggu pertama setelah hospitalisasi untuk mengurangi risiko rehospitalisasi dan kematian. 1
Penilaian Awal dan Stabilisasi
- Penilaian kestabilan kardiopulmoner merupakan langkah kritis pertama, dengan pasien yang mengalami gagal napas atau gangguan hemodinamik harus segera ditangani di lokasi yang dapat memberikan dukungan pernapasan dan kardiovaskular 1, 2
- Monitoring terus-menerus termasuk oksimetri nadi, tekanan darah, laju pernapasan, dan EKG kontinu harus dimulai dalam hitungan menit setelah kontak dengan pasien 1, 2
- Pengukuran kadar peptida natriuretik plasma (BNP, NT-proBNP atau MR-proANP) direkomendasikan pada semua pasien dengan dispnea akut dan dugaan AHF untuk membantu membedakan AHF dari penyebab non-kardiak dispnea akut 1
- Status mental harus dinilai menggunakan mnemonic AVPU (alert, visual, pain, atau unresponsive) sebagai indikator hipoperfusi 1, 2
Terapi Farmakologis Terbaru
Diuretik dan Dekongesti
- Diuretik loop intravena tetap menjadi andalan terapi awal untuk AHF dengan dosis awal yang direkomendasikan 20-40 mg furosemide IV untuk pasien baru, atau setidaknya setara dengan dosis oral untuk pasien yang sudah mendapat terapi diuretik kronis 1, 3
- Waktu pemberian diuretik sejak kedatangan (door-to-diuretic time) sebaiknya tidak melebihi 60 menit, meskipun meta-analisis terbaru menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dalam mortalitas atau lama rawat inap 3, 4
- Pemantauan respons dalam jam-jam pertama sangat penting: setelah 2 jam, natrium urin spot harus ≥50-70 mmol/L, dan setelah 6 jam, output urin harus ≥100-150 mL/jam 3
- Bukti terbaru mendukung konsep terapi diuretik kombinasi dini, dengan menambahkan asetazolamid (500 mg IV sekali sehari) atau hidroklorotiazid, terutama pada pasien dengan kadar bikarbonat dasar ≥27 mmol/L 1, 3
Terapi Medis Berbasis Bukti
- Strategi intensif inisiasi dan titrasi cepat terapi medis berbasis bukti (GDMT) sebelum pemulangan dan selama kunjungan tindak lanjut yang sering dan cermat dalam 6 minggu pertama setelah hospitalisasi direkomendasikan untuk mengurangi risiko rehospitalisasi atau kematian 1
- Gliflozin (SGLT2i) direkomendasikan untuk semua pasien HF terlepas dari LVEF 1
- Inisiasi ARNi atau ACEi dengan dosis setengah sebelum pemulangan, dengan titrasi dosis penuh selama kunjungan tindak lanjut 1
- Suplementasi besi intravena direkomendasikan pada pasien simtomatik dengan HF dan defisiensi besi untuk mengurangi risiko hospitalisasi HF 1
Pemantauan dan Evaluasi
- Pemantauan rutin gejala, output urin, fungsi ginjal, dan elektrolit sangat penting selama penggunaan diuretik intravena 1
- Penggunaan alat pencitraan seperti ultrasonografi paru untuk menilai kongesti pulmoner dengan sensitivitas 94% dan spesifisitas 92% 1
- Perubahan dalam skor kongesti ultrasonografi paru pada pasien AHF kongestif dikaitkan dengan kelangsungan hidup bebas readmisi 1
- Pemantauan peptida natriuretik selama rawat inap dapat membantu perencanaan pemulangan, dengan penurunan konsentrasi NP selama rawat inap dikaitkan dengan mortalitas kardiovaskular dan tingkat readmisi yang lebih rendah pada 6 bulan 1
Kriteria Pemulangan dan Tindak Lanjut
- Pasien dianggap siap untuk dipulangkan ketika hemodinamik stabil, euvolemik, sudah mendapatkan pengobatan oral berbasis bukti, dan fungsi ginjal stabil setidaknya selama 24 jam sebelum pemulangan 1
- Pasien sebaiknya tidak meninggalkan rumah sakit ketika masih mengalami kongesti dan/atau sebelum terapi medis berbasis bukti jangka panjang yang dioptimalkan telah dimulai 3
- Pasien harus diperiksa oleh dokter umum dalam 1 minggu setelah pemulangan dan oleh tim kardiologi rumah sakit dalam 2 minggu setelah pemulangan jika memungkinkan 1
- Tiga kunjungan tindak lanjut dalam 6 minggu pertama direkomendasikan, termasuk pemeriksaan klinis dan biologis (NT-proBNP, kalium, eGFR) 1
Dukungan Sirkulasi Mekanis
- Untuk pasien dengan AHF atau syok kardiogenik yang tidak dapat distabilkan dengan terapi medis, sistem dukungan sirkulasi mekanis (MCS) dapat digunakan 1
- Semua pasien dengan syok kardiogenik harus segera dipindahkan ke pusat perawatan tersier yang memiliki layanan kateterisasi jantung 24/7 dan ICU/CCU khusus dengan ketersediaan dukungan sirkulasi mekanis jangka pendek 1
Pendekatan Multidisiplin
- Pendekatan multidisiplin, termasuk anestesiologis/intensivis, ahli bedah, dan kardiologis selalu diperlukan, terutama untuk pasien AHF yang memerlukan prosedur bedah 1
- Pasien dengan HF direkomendasikan untuk terdaftar dalam program manajemen perawatan multidisiplin untuk mengurangi risiko hospitalisasi HF dan mortalitas 1
- Latihan aerobik teratur dianjurkan pada pasien dengan HF untuk meningkatkan kapasitas fungsional dan gejala, serta mengurangi risiko hospitalisasi HF 1
Tata laksana AHF telah berkembang dari pendekatan yang berfokus pada gejala menjadi strategi komprehensif yang mencakup dekongesti cepat, inisiasi dan titrasi terapi berbasis bukti, serta tindak lanjut terstruktur untuk meningkatkan hasil jangka pendek dan jangka panjang.