Perkembangan Terbaru dalam Pengelolaan Acute Heart Failure dalam 5 Tahun Terakhir
Perkembangan terpenting dalam pengelolaan acute heart failure (AHF) selama 5 tahun terakhir meliputi terapi dekongesti kombinasi, implementasi cepat terapi medis berbasis bukti sebelum pemulangan, peran penting inhibitor SGLT2, dan suplementasi besi intravena untuk pasien dengan defisiensi besi. 1
Terapi Dekongesti
- Diuretik loop intravena tetap menjadi andalan terapi awal untuk AHF dengan dosis awal yang direkomendasikan 20-40 mg furosemide IV untuk pasien baru, atau setidaknya setara dengan dosis oral untuk pasien yang sudah mendapat terapi diuretik kronis 2
- Bukti terbaru mendukung konsep terapi diuretik kombinasi dini, dengan penambahan asetazolamid (500 mg IV sekali sehari) yang telah terbukti meningkatkan efektivitas dekongesti pada pasien dengan kadar bikarbonat dasar ≥27 mmol/L 1, 2
- Ketika diuresis tidak adekuat untuk meredakan kongesti, rejimen diuretik harus diintensifkan menggunakan dosis loop diuretik yang lebih tinggi atau penambahan diuretik kedua (seperti metolazone, spironolakton, atau klorotiazid intravena) 1
Terapi Medis Berbasis Bukti (GDMT)
- Strategi intensif inisiasi dan titrasi cepat GDMT sebelum pemulangan dan selama kunjungan tindak lanjut yang sering dalam 6 minggu pertama setelah hospitalisasi direkomendasikan untuk mengurangi risiko rehospitalisasi atau kematian (Kelas I, Level B) 1, 2
- Tiga kunjungan tindak lanjut dalam 6 minggu pertama direkomendasikan, termasuk pemeriksaan klinis dan biologis (NT-proBNP, kalium, eGFR) 2
- Inisiasi ARNi atau ACEi dengan dosis setengah sebelum pemulangan, dengan titrasi ke dosis penuh selama kunjungan tindak lanjut 2
Peran Inhibitor SGLT2
- Gliflozin (SGLT2i) sekarang direkomendasikan untuk semua pasien HF terlepas dari LVEF, menjadi bagian penting dari arsenal terapeutik pasien AHF 1, 2
- Peran utama SGLT2i tidak lagi diperdebatkan dan harus menjadi bagian dari arsenal terapeutik pasien AHF 1
Suplementasi Besi
- Suplementasi besi intravena direkomendasikan pada pasien simtomatik dengan HF dan defisiensi besi (Kelas I, Level A) untuk mengurangi risiko hospitalisasi HF 1, 2
- Defisiensi besi mempengaruhi lebih dari 50% pasien AHF dan dikaitkan dengan hasil yang buruk, meningkatkan risiko rehospitalisasi dan kematian 1
Pemantauan dan Evaluasi
- Penggunaan ultrasonografi paru untuk menilai kongesti pulmoner dengan sensitivitas 94% dan spesifisitas 92% telah menjadi alat penting dalam evaluasi pasien AHF 2
- Perubahan dalam skor kongesti ultrasonografi paru pada pasien AHF kongestif dikaitkan dengan kelangsungan hidup bebas readmisi 2
- Pemantauan peptida natriuretik selama rawat inap dapat membantu perencanaan pemulangan, dengan penurunan konsentrasi NP selama rawat inap dikaitkan dengan mortalitas kardiovaskular dan tingkat readmisi yang lebih rendah pada 6 bulan 2
Pengelolaan Syok Kardiogenik
- Syok kardiogenik, bentuk paling parah dari AHF, didefinisikan sebagai keadaan output jantung rendah akibat disfungsi jantung dengan perfusi organ akhir yang rendah 1
- Prognosis syok kardiogenik telah sangat membaik dengan penggunaan rutin revaskularisasi dini dan peningkatan perangkat mekanis 1
- Semua pasien dengan syok kardiogenik harus segera dipindahkan ke pusat perawatan tersier yang memiliki layanan kateterisasi jantung 24/7 dan ICU/CCU khusus dengan ketersediaan dukungan sirkulasi mekanis jangka pendek 2
Pendekatan Multidisiplin
- Pendekatan multidisiplin, termasuk anestesiologis/intensivis, ahli bedah, dan kardiologis selalu diperlukan, terutama untuk pasien AHF yang memerlukan prosedur bedah 1, 2
- Pasien dengan HF direkomendasikan untuk terdaftar dalam program manajemen perawatan multidisiplin untuk mengurangi risiko hospitalisasi HF dan mortalitas 2
Kriteria Pemulangan dan Tindak Lanjut
- Pasien dianggap siap untuk dipulangkan ketika hemodinamik stabil, euvolemik, sudah mendapatkan pengobatan oral berbasis bukti, dan fungsi ginjal stabil setidaknya selama 24 jam sebelum pemulangan 2
- Pasien harus diperiksa oleh dokter umum dalam 1 minggu setelah pemulangan dan oleh tim kardiologi rumah sakit dalam 2 minggu setelah pemulangan jika memungkinkan 2
Terapi Vasodilator
- Hasil tentang manfaat infus intravena vasodilator pada hasil jangka panjang tidak konklusif meskipun ada bukti klinis perbaikan hemodinamik dan klinis 1
- Pedoman ESC terbaru merekomendasikan penggunaan vasodilator intravena (misalnya nitrogliserin 1-2 mg bolus) pada kasus tekanan darah sistolik tinggi (>110 mmHg), dimulai dengan dosis rendah dan dititrasi untuk mencapai perbaikan klinis dan kontrol tekanan darah (Kelas IIb, Level B) 1