Perbedaan Loperamide dan Attapulgite
Loperamide jauh lebih efektif daripada attapulgite untuk mengobati diare akut dan harus menjadi pilihan utama, karena loperamide bekerja lebih cepat, mengurangi frekuensi buang air besar lebih signifikan, dan memiliki mekanisme aksi yang lebih kuat. 1
Mekanisme Kerja
Loperamide
- Agonis reseptor opioid perifer yang menghambat peristaltik dan aktivitas sekresi, memperpanjang waktu transit usus tanpa menembus sawar darah-otak 2
- Memiliki efek antisekretori multipel, beberapa di antaranya tidak dimediasi oleh reseptor opioid 2, 3
- Pada dosis terapeutik (4 mg), tidak memperlambat transit orocecal secara signifikan pada orang dewat sehat, tetapi menormalkan transit pada kondisi diare 2, 3
- Meningkatkan tonus sfingter anal, yang dapat memperbaiki kontinensia feses 4
Attapulgite
- Adsorben (tanah liat teraktivasi) yang tidak diserap tetapi mengikat air, sehingga mengurangi air bebas dalam tinja 2
- Secara eksperimental dapat mengadsorpsi toksin, bakteri, dan rotavirus, serta memperkuat penghalang mukus 2
- Efek klinis minimal atau tidak ada pada diare dewasa akut berdasarkan studi terkontrol plasebo yang dirancang dengan baik 2
Perbandingan Efikasi Klinis
Studi Perbandingan Langsung
- Dalam studi acak terbuka pada pasien dewasa dengan diare akut, loperamide secara signifikan lebih efektif daripada attapulgite 1
- Loperamide mengurangi frekuensi buang air besar secara signifikan dibandingkan attapulgite, terutama dalam 12 jam pertama setelah memulai terapi 1
- Loperamide memperpendek waktu rata-rata hingga tinja terakhir yang tidak berbentuk (14,2 jam vs 19,5 jam untuk attapulgite) 1
- Evaluasi subjektif keparahan gejala enterik setara untuk kedua obat, tetapi perbedaan objektif jelas menguntungkan loperamide 1
Bukti Keseluruhan
- Studi terkontrol dengan baik mendukung loperamide dibandingkan adsorben seperti attapulgite 2
- Tidak ada bukti yang cukup untuk manfaat attapulgite pada diare akut dewasa, selain risiko rendah 2
- Loperamide lebih efektif daripada diphenoxylate (obat resep) dan bismuth subsalicylate 5
Ketersediaan dan Penggunaan Praktis
Loperamide
- Tersedia tanpa resep (over-the-counter) 3
- Dosis awal: 4 mg diikuti 2 mg setelah setiap tinja cair, tidak melebihi 16 mg dalam 24 jam 3, 6
- Efek terapeutik tercapai dalam 1-2 jam, sehingga dosis tambahan harus diberi jarak yang sesuai untuk menghindari konstipasi rebound 6
- Waktu paruh yang relatif panjang memungkinkan kontrol gejala efektif dengan dosis intermiten 6
Attapulgite
- Tersedia tanpa resep
- Efikasi klinis sangat terbatas berdasarkan bukti 2
Keamanan dan Kontraindikasi
Kedua Obat
- Tidak boleh digunakan pada pasien dengan disentri berat dengan demam tinggi atau darah dalam tinja 3
- Kontraindikasi pada anak di bawah 2 tahun karena risiko efek samping sentral dan perifer yang jarang 3
- Harus dihindari pada diare infeksi yang dicurigai atau dikonfirmasi disebabkan oleh organisme invasif seperti Shigella, Salmonella, atau STEC 3
Loperamide
- Umumnya ditoleransi dengan baik pada dosis yang direkomendasikan 4
- Efek samping paling umum terkait dampak pada motilitas usus (nyeri perut, distensi, kembung, mual, muntah, dan konstipasi) 4
- Tidak memiliki potensi penyalahgunaan karena absorpsi oral rendah dan tidak dapat menembus sawar darah-otak 7
- Tidak memiliki aktivitas analgesik yang signifikan secara klinis 7
Attapulgite
- Risiko rendah, tetapi manfaat klinis juga minimal 2
Rekomendasi Berdasarkan Pedoman
- American Gastroenterological Association merekomendasikan loperamide sebagai pengobatan lini pertama untuk diare akut 3
- Loperamide disarankan untuk digunakan pada pasien dengan IBS-D (sindrom iritasi usus dengan diare), meskipun mungkin tidak memperbaiki gejala global atau urgensi 2, 3
- Tidak ada rekomendasi pedoman yang mendukung penggunaan attapulgite sebagai terapi pilihan untuk diare akut