Patofisiologi Bell's Palsy
Mekanisme Dasar Kerusakan Saraf
Bell's palsy terjadi akibat inflamasi dan edema nervus fasialis yang menyebabkan kompresi saraf di dalam kanalis tulang temporal yang sempit, mengakibatkan kerusakan saraf sementara atau permanen. 1
Proses Inflamasi dan Kompresi
- Nervus fasialis berjalan melalui kanalis tulang temporal yang sempit, sehingga pembengkakan saraf menyebabkan kompresi mekanis yang mengganggu fungsi saraf 1
- Inflamasi akut menyebabkan edema neural yang berkembang dalam waktu kurang dari 72 jam 1
- Kompresi ini menghambat konduksi impuls saraf ke otot-otot wajah, kelenjar lakrimal, kelenjar saliva, otot stapedius, serabut pengecap lidah anterior, dan serabut sensorik umum dari membran timpani dan kanalis auditorius posterior 1
Etiologi yang Dicurigai
- Meskipun etiologi viral (terutama herpes simplex virus tipe 1) dicurigai sebagai penyebab, mekanisme pasti Bell's palsy saat ini masih tidak diketahui 1
- American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery menegaskan bahwa tidak ada penyebab spesifik yang telah diidentifikasi untuk Bell's palsy 1
- Kondisi ini didiagnosis sebagai diagnosis eksklusi ketika tidak ada etiologi medis lain yang dapat diidentifikasi sebagai penyebab kelemahan wajah 1
Manifestasi Klinis Berdasarkan Patofisiologi
Gangguan Motorik
- Paresis atau paralisis otot wajah unilateral terjadi karena gangguan impuls motorik ke otot-otot ekspresi wajah 1
- Ketidakmampuan menutup kelopak mata (lagophthalmos) terjadi karena paralisis otot orbicularis oculi, yang dapat menyebabkan cedera kornea 1
- Inkompeten oral terjadi karena kelemahan otot perioral, menyebabkan kesulitan makan dan minum 1
Gangguan Otonom dan Sensorik
- Mata kering atau mulut kering terjadi karena gangguan serabut otonom yang menginervasi kelenjar lakrimal dan saliva 1
- Gangguan atau kehilangan pengecapan pada dua pertiga anterior lidah terjadi karena keterlibatan chorda tympani 1
- Hiperakusis (sensitivitas berlebihan terhadap suara) terjadi karena paralisis otot stapedius 1
- Nyeri ipsilateral di sekitar telinga atau wajah merupakan gejala presentasi yang tidak jarang, kemungkinan akibat inflamasi saraf 1
Faktor Risiko yang Meningkatkan Kerentanan
- Diabetes mellitus meningkatkan risiko Bell's palsy, kemungkinan melalui mekanisme iskemik dan neuropati 1
- Infeksi saluran pernapasan atas meningkatkan risiko, mendukung hipotesis etiologi viral 1
- Kehamilan meningkatkan kerentanan, terutama pada trimester ketiga 1
- Sistem imun yang terganggu meningkatkan risiko, konsisten dengan mekanisme inflamasi 1
- Usia 15-45 tahun merupakan puncak insidensi 1
Perjalanan Penyakit dan Prognosis
Timeline Kerusakan dan Pemulihan
- Onset akut terjadi dalam waktu kurang dari 72 jam, mencerminkan proses inflamasi akut 1
- Sebagian besar pasien (70%) dengan paralisis komplit akan pulih sepenuhnya dalam 6 bulan 2
- Pasien dengan paralisis inkomplit memiliki tingkat pemulihan lebih tinggi hingga 94% 2
- Tanda-tanda pemulihan biasanya mulai muncul dalam 2-3 minggu setelah onset gejala 2
Komplikasi Jangka Panjang
- Sekitar 30% pasien dapat mengalami kelemahan wajah permanen dengan kontraktur otot, menunjukkan kerusakan saraf ireversibel 2
- Kerusakan permanen terjadi ketika kompresi dan iskemia saraf menyebabkan degenerasi aksonal yang tidak dapat diperbaiki 1
Pertimbangan Penting dalam Praktik Klinis
- Bell's palsy adalah kondisi yang umumnya self-limited, mencerminkan kemampuan regenerasi saraf perifer 1
- Bilateral Bell's palsy sangat jarang dan harus menimbulkan kecurigaan terhadap diagnosis alternatif seperti sindrom Guillain-Barré atau sarkoidosis 1
- Kondisi lain yang dapat menyebabkan paralisis fasialis dan harus dieksklusi termasuk stroke, tumor otak, tumor kelenjar parotis atau fossa infratemporal, kanker yang melibatkan nervus fasialis, dan penyakit sistemik/infeksius seperti zoster, sarkoidosis, dan penyakit Lyme 1