Dosis Klaritromisin untuk Pasien dengan Penyakit Jantung Reumatik
Klaritromisin TIDAK direkomendasikan sebagai pilihan utama untuk profilaksis sekunder demam reumatik pada pasien dengan penyakit jantung reumatik. Pedoman ACC/AHA dan American Heart Association secara konsisten merekomendasikan penisilin sebagai lini pertama, dengan makrolida (termasuk klaritromisin) hanya untuk pasien yang alergi terhadap penisilin DAN sulfadiazin 1.
Rekomendasi Profilaksis Sekunder Berdasarkan Pedoman
Pilihan Lini Pertama (Bukan Klaritromisin)
- Benzathine penicillin G: 1,2 juta unit intramuskular setiap 4 minggu (setiap 3 minggu untuk pasien risiko tinggi) 1
- Penicillin V potassium: 250 mg oral dua kali sehari 1
- Sulfadiazine: 1 g oral sekali sehari 1
Klaritromisin: Hanya untuk Pasien Alergi Ganda
Klaritromisin 250 mg oral dua kali sehari selama 10 hari adalah dosis yang direkomendasikan untuk pasien yang alergi terhadap BAIK penisilin MAUPUN sulfadiazin 1. Pedoman ACC/AHA 2020 dan 2021 menyatakan bahwa makrolida atau azalida dapat digunakan dengan dosis yang bervariasi, tetapi dengan peringatan penting 1.
Peringatan Kritis tentang Penggunaan Klaritromisin
Kontraindikasi Interaksi Obat
- Klaritromisin menghambat sitokrom P450 3A dan TIDAK boleh digunakan pada pasien yang mengonsumsi obat-obatan yang menghambat CYP3A 1
- Obat-obatan yang harus dihindari bersamaan: azole antifungal, HIV protease inhibitors, dan beberapa selective serotonin reuptake inhibitors 1
- Risiko interaksi serius dengan carbamazepine, cyclosporin, digoxin, theophylline, dan warfarin 2
Durasi Profilaksis
- Pasien dengan penyakit katup jantung yang terdokumentasi: ≥10 tahun ATAU sampai usia 40 tahun (mana yang lebih lama) 1
- Profilaksis seumur hidup dapat direkomendasikan jika pasien berisiko tinggi terpapar Streptococcus grup A 1
- Profilaksis tetap diperlukan bahkan setelah penggantian katup 1
Farmakokinetik Klaritromisin yang Relevan
- Bioavailabilitas oral: 52-55% dengan konsentrasi plasma puncak 1,01-2,85 mg/L tergantung dosis 2
- Waktu paruh eliminasi: 3-4,9 jam, memungkinkan pemberian dua kali sehari 2
- Metabolit aktif (14-hydroxyclarithromycin) berkontribusi pada aktivitas antibakteri 2, 3
- Penyesuaian dosis diperlukan pada pasien dengan gangguan ginjal berat (creatinine clearance <1,8 L/jam) 2
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
- Jangan menggunakan klaritromisin sebagai pilihan pertama - penisilin benzathine intramuskular tetap menjadi standar emas untuk kepatuhan dan efikasi 1
- Jangan mengabaikan riwayat obat pasien - interaksi CYP3A dapat menyebabkan toksisitas serius atau kegagalan terapi 1, 2
- Jangan menghentikan profilaksis terlalu dini - durasi minimal 10 tahun atau sampai usia 40 tahun diperlukan untuk mencegah rekurensi 1
- Jangan menggunakan azithromycin mingguan - penelitian menunjukkan azithromycin 500 mg sekali seminggu TIDAK efektif dibandingkan penisilin oral untuk mencegah infeksi streptokokus pada pasien dengan penyakit jantung reumatik 4
Bukti Efikasi Profilaksis Sekunder
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa profilaksis antibiotik sekunder (menggunakan benzathine penicillin G) mengurangi risiko progresi penyakit jantung reumatik laten secara signifikan - hanya 0,8% progresi pada kelompok profilaksis dibandingkan 8,2% pada kelompok kontrol (perbedaan risiko -7,5%, P<0,001) 5. Ini menekankan pentingnya kepatuhan terhadap profilaksis sekunder yang tepat.