Evaluasi Proteinuria Masif pada Pasien Nefropati Diabetes
Pada pasien diabetes dengan proteinuria masif, sangat penting untuk mempertimbangkan kemungkinan penyakit ginjal non-diabetes (NDRD) atau sindroma nefrotik dari penyebab lain, terutama jika terdapat gambaran klinis yang atipikal, dan biopsi ginjal harus dipertimbangkan untuk membedakan nefropati diabetik murni dari NDRD atau kombinasi keduanya. 1
Prevalensi dan Pentingnya Diagnosis Banding
- Pada pasien diabetes tipe 2 dengan proteinuria berat yang menjalani biopsi ginjal, hanya 49,55% yang didiagnosis dengan nefropati diabetik murni, sementara 42,73% memiliki NDRD murni dan 7,73% memiliki kombinasi keduanya 1
- Prevalensi NDRD yang tinggi ini menunjukkan bahwa tidak semua proteinuria masif pada pasien diabetes disebabkan oleh nefropati diabetik 1
Indikator Klinis untuk Nefropati Diabetik vs NDRD
Faktor yang Mendukung Diagnosis Nefropati Diabetik:
- Retinopati diabetik merupakan prediktor terkuat dengan sensitivitas 78,9% dan spesifisitas 91,5% 1
- Durasi diabetes yang lebih lama (biasanya >5 tahun untuk diabetes tipe 1) 2, 1
- Usia yang lebih tua 1
- Tekanan darah sistolik yang lebih tinggi 1
- Kadar albumin serum yang lebih rendah 1
- Proteinuria 24 jam yang lebih tinggi 1
Kombinasi diagnosis dengan empat indikator (durasi diabetes, retinopati, tekanan darah sistolik, dan albumin serum) menunjukkan akurasi diagnostik yang sangat baik dengan sensitivitas 88,1% dan spesifisitas 87,2% 1
Indikasi Biopsi Ginjal
Biopsi ginjal harus dilakukan pada pasien diabetes dengan gambaran klinis atipikal, termasuk: 1
- Tidak adanya retinopati diabetik
- Durasi diabetes yang pendek (<5 tahun untuk tipe 1, atau baru terdiagnosis untuk tipe 2)
- Penurunan fungsi ginjal yang cepat
- Hematuria aktif dengan sel darah merah dismorfik
- Proteinuria onset mendadak
- Tanda-tanda penyakit sistemik lain (misalnya lupus nefritis)
Manajemen Awal Proteinuria Masif
Kontrol Tekanan Darah dan Proteinuria:
- Mulai terapi dengan ACE inhibitor atau ARB sebagai lini pertama untuk pasien dengan hipertensi dan proteinuria, ditingkatkan hingga dosis maksimal yang dapat ditoleransi 2
- Target tekanan darah sistolik <120 mmHg menggunakan pengukuran tekanan darah standar 2
- Untuk diabetes tipe 1 dengan albuminuria derajat apapun, ACE inhibitor terbukti menunda progresivitas nefropati 2
- Untuk diabetes tipe 2 dengan mikroalbuminuria atau makroalbuminuria, baik ACE inhibitor maupun ARB terbukti menunda progresivitas 2
Kontrol Glikemik:
- Optimalisasi kontrol glukosa darah untuk mengurangi risiko dan memperlambat progresivitas nefropati 2
Modifikasi Diet:
- Dengan onset nefropati yang nyata, mulai restriksi protein hingga 0,8 g/kg berat badan/hari (10% dari kalori harian) 2
- Restriksi natrium hingga <2,0 g/hari (<90 mmol/hari) 2
- Restriksi lebih lanjut mungkin bermanfaat untuk memperlambat penurunan GFR pada pasien tertentu 2
Monitoring:
- Monitor kadar kalium serum untuk perkembangan hiperkalemia jika menggunakan ACE inhibitor atau ARB 2
- Jangan menghentikan ACE inhibitor atau ARB dengan peningkatan kreatinin serum yang sedang dan stabil (hingga 30%) 2
- Hentikan ACE inhibitor atau ARB jika fungsi ginjal terus memburuk dan/atau terdapat hiperkalemia refrakter 2
Peringatan Penting
- Media kontras radiologi sangat nefrotoksik pada pasien dengan nefropati diabetik, dan pasien azotemia harus dihidrasi dengan hati-hati sebelum prosedur yang memerlukan kontras 2
- Rujuk ke dokter yang berpengalaman dalam perawatan penyakit ginjal diabetik ketika GFR turun hingga 60 ml/min/1,73 m² atau terdapat kesulitan dalam manajemen hipertensi atau hiperkalemia 2
- Jangan memulai ACE inhibitor/ARB pada pasien yang datang dengan onset sindroma nefrotik mendadak, karena obat ini dapat menyebabkan AKI terutama pada pasien dengan minimal change disease 2