Kriteria MRSA (Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus)
MRSA didiagnosis melalui kultur mikrobiologi yang menunjukkan Staphylococcus aureus yang resisten terhadap methicillin dan semua antibiotik beta-laktam lainnya, dikonfirmasi melalui uji kepekanan antimikroba atau deteksi gen mecA/SCCmec. 1
Kriteria Diagnostik Mikrobiologi
Metode Kultur Standar
- Isolasi S. aureus dari spesimen klinis (darah, pus, sputum, atau jaringan) yang menunjukkan resistensi terhadap methicillin pada uji kepekanan antibiotik merupakan standar emas diagnosis 2
- Resistensi methicillin mengindikasikan resistensi terhadap semua antibiotik beta-laktam termasuk penicillin, cephalosporin, dan carbapenem 3, 1
- Lebih dari 90% strain MRSA juga resisten terhadap ciprofloxacin, dan 50-60% resisten terhadap kelompok antibiotik lain (kecuali glycopeptide, quinupristin, dan linezolid) 3
Metode Deteksi Molekuler
- PCR untuk deteksi gen mecA atau SCCmec memberikan hasil cepat dalam beberapa jam dibandingkan kultur konvensional yang memerlukan 2-3 hari 4
- GeneXpert MRSA/SA assay pada spesimen respiratorik menunjukkan sensitivitas 83.3% dan spesifisitas 94.7% untuk deteksi MRSA 4
- Deteksi molekuler sangat berguna untuk pasien ventilator dengan suspek pneumonia untuk memfasilitasi stewardship antibiotik 4
Kriteria Klinis untuk Suspek MRSA
Faktor Risiko yang Meningkatkan Kecurigaan MRSA
- Riwayat hospitalisasi atau paparan fasilitas kesehatan merupakan faktor risiko utama 2, 1
- Kolonisasi nares anterior (lubang hidung) adalah reservoir utama MRSA 2
- Pasien di unit perawatan intensif, unit luka bakar, atau fasilitas perawatan jangka panjang 2
- Riwayat infeksi MRSA sebelumnya atau kontak dengan pasien MRSA 2
Indikasi Pengambilan Kultur
- Gram stain dan kultur dari pus atau eksudat direkomendasikan untuk abses dan karbunkel, terutama jika ada tanda SIRS (suhu >38°C atau <36°C, takikardia >90x/menit, takipnea >24x/menit, atau leukosit >12.000 atau <4.000 sel/µL) 5
- Kultur darah harus diambil pada pasien dengan demam yang tidak jelas penyebabnya dan murmur jantung patologis atau riwayat penyakit jantung 5
- Untuk infeksi kulit dan jaringan lunak purulen sedang hingga berat, kultur harus dilakukan sebelum memulai terapi antibiotik 5
Kriteria Berdasarkan Lokasi Infeksi
Infeksi Kulit dan Jaringan Lunak
- MRSA dicurigai pada infeksi purulen yang gagal dengan insisi-drainase plus antibiotik oral, atau pada pasien dengan tanda sistemik infeksi 5
- Pada impetigo atau ecthyma, MRSA dicurigai jika tidak respon terhadap dicloxacillin atau cephalexin 5
- Kultur dan sensitivitas harus dilakukan untuk memandu terapi definitif 5
Pneumonia Terkait Ventilator
- Gram stain menunjukkan bakteri Gram-positif dalam kelompok seperti anggur (grape-like clusters) mengarah ke Staphylococcus 5
- Kultur sputum atau spesimen respiratorik bawah positif untuk S. aureus dengan resistensi methicillin 5, 4
- PCR nasal dapat digunakan untuk deeskalasi atau konfirmasi kebutuhan terapi anti-MRSA 5
Bakteremia dan Endokarditis
- Kultur darah positif S. aureus merupakan kriteria mayor Duke untuk diagnosis endokarditis infektif 5
- Bakteremia S. aureus persisten setelah pencabutan kateter vena sentral meningkatkan kecurigaan MRSA 5
- Minimal 3 set kultur darah dari venipuncture terpisah harus diambil pada hari pertama 5
Pertimbangan Khusus
Pasien Neutropenia
- Pada pasien dengan demam dan neutropenia, kultur harus dilakukan dari lesi kulit yang mencurigakan, terutama jika ada ecthyma gangrenosum atau selulitis progresif 5
- Terapi empirik harus mencakup coverage MRSA jika ada temuan fisik yang mengarah ke inflamasi kulit dan jaringan lunak, atau pasien hemodinamik tidak stabil 5
Infeksi Luka Operasi
- Demam ≥38°C dengan eritema >5 cm dari insisi dengan indurasi atau nekrosis memerlukan kultur dan terapi empirik anti-MRSA 5
- Gram stain harus dilakukan untuk menyingkirkan streptococci dan clostridia 5
- Di area dengan tingkat infeksi MRSA tinggi, pertimbangkan vancomycin, daptomycin, atau linezolid sambil menunggu hasil kultur 5
Catatan Penting
- Virulensi MRSA tidak lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan S. aureus yang sensitif methicillin, tetapi pilihan terapi yang terbatas membuat outcome lebih buruk jika tidak ditangani dengan tepat 3
- Transmisi utama MRSA adalah melalui tangan tenaga kesehatan yang terkolonisasi sementara 2
- Kolonisasi MRSA mendahului infeksi, sehingga skrining kolonisasi dapat membantu identifikasi dini 2, 1