Tanda Primer Trauma Maksilofasial
Maloklusi (b) adalah tanda primer trauma maksilofasial yang paling spesifik di antara ketiga pilihan tersebut, karena secara langsung mencerminkan gangguan struktural skeletal wajah dan merupakan indikator kunci dalam evaluasi sekunder trauma wajah.
Rasional Berdasarkan Pedoman
Maloklusi sebagai Tanda Primer
Maloklusi merupakan penanda langsung cedera midface dan mandibula yang secara konsisten disebutkan dalam pedoman American College of Radiology sebagai tanda klinis utama yang harus dinilai dalam evaluasi sekunder trauma maksilofasial 1.
- Evaluasi sekunder wajah mencakup penilaian oklusi gigi sebagai komponen esensial setelah stabilisasi pasien, bersama dengan palpasi, inspeksi visual, dan evaluasi saraf kranial 1.
- Maloklusi adalah indikator spesifik untuk cedera midface yang melibatkan zygoma, maksila, dan mandibula, menunjukkan displacement atau fraktur struktur skeletal 1.
- Facial elongation atau malocclusion merupakan tanda klinis yang memicu kecurigaan cedera midface menurut American College of Radiology 2.
Mengapa Bukan Anisokor atau Diplopia
Anisokor dan diplopia adalah tanda sekunder atau komplikasi, bukan tanda primer trauma maksilofasial:
- Anisokor lebih mengarah pada cedera neurologis atau trauma kranial, bukan spesifik untuk trauma skeletal wajah 1.
- Diplopia adalah komplikasi dari fraktur orbital (blow-out fracture) akibat entrapment otot ekstraokular atau edema periorbital, bukan tanda primer skeletal 3.
- Diplopia terjadi pada hingga 37% pasien pasca-operasi fraktur orbital, menunjukkan bahwa ini adalah konsekuensi sekunder dari trauma, bukan penanda primer 3.
Signifikansi Klinis Maloklusi
Komplikasi Paling Umum
Maloklusi adalah komplikasi paling sering dari trauma maksilofasial yang tidak ditangani dengan baik 4:
- Maloklusi merupakan komplikasi paling umum dari fraktur maksilofasial yang malunion atau tidak direposisi dengan tepat, diikuti oleh deformitas wajah dan gangguan temporomandibular 4.
- Semua pasien dengan fraktur gigi, dislokasi, atau fraktur tulang alveolar yang tidak mendapat perawatan dental pre dan post-operatif mengalami komplikasi maloklusi 4.
Implikasi untuk Manajemen
Repositioning anatomis fraktur harus dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah maloklusi permanen 5:
- Pasien yang frakturnya ditangani dengan fiksasi maksilo-mandibular tanpa reduksi bedah memiliki kemungkinan lebih besar mengalami maloklusi dental dan skeletal yang lebih berat 5.
- Evaluasi hubungan oklusal pre-trauma sangat berguna meskipun tidak selalu memungkinkan 5.
Peringatan Penting
Hindari Ivy loops pada pasien yang ditangani dengan fiksasi maksilo-mandibular karena meningkatkan risiko maloklusi post-trauma 5.
Tujuan utama manajemen adalah memulihkan fungsi dan kosmetik, dan diagnosis akurat melalui penilaian oklusi membuat tujuan ini dapat tercapai 1.