Obat Tambahan untuk Hipertensi Resisten dengan Proteinuria
Pasien ini memerlukan penambahan spironolactone 25-50 mg sekali sehari sebagai obat keempat, karena ini adalah terapi berbasis bukti terkuat untuk hipertensi resisten dengan proteinuria dan penyakit ginjal kronik. 1
Analisis Situasi Klinis Saat Ini
Pasien laki-laki 50 tahun ini memiliki:
- Hipertensi tidak terkontrol (tekanan darah sistolik rata-rata 140 mmHg) meskipun sudah menggunakan 3 obat 1
- Proteinuria positif yang memerlukan perlindungan ginjal agresif 1
- Penyakit ginjal kronik stadium 2 (kreatinin 1,3 mg/dL) 1
- Regimen saat ini: Adalat Oros (nifedipine) 30 mg 2x1, Micardis (telmisartan) 80 mg, Nebilet (nebivolol) 5 mg
Ini memenuhi definisi hipertensi resisten karena tekanan darah tetap ≥140/90 mmHg meskipun menggunakan 3 obat antihipertensi dari kelas berbeda dengan dosis optimal. 1, 2
Rekomendasi Obat Tambahan: Spironolactone
Mengapa Spironolactone adalah Pilihan Terbaik
- Bukti terkuat: Studi PATHWAY-2 menunjukkan superioritas spironolactone dibanding pilihan obat keempat lainnya untuk hipertensi resisten 1
- Manfaat ganda: Menurunkan tekanan darah DAN mengurangi proteinuria secara independen 1
- Dosis yang direkomendasikan: Mulai dengan 25 mg sekali sehari, dapat ditingkatkan hingga 50 mg jika diperlukan 1, 3
Mekanisme Keuntungan Spesifik
- Mengatasi hiperaldosteronisme primer yang memiliki prevalensi ~20% pada hipertensi resisten 1
- Memberikan efek sinergis dengan ARB (telmisartan) yang sudah digunakan pasien 1
- Membantu mengatasi retensi cairan yang sering menjadi penyebab hipertensi resisten pada penyakit ginjal kronik 1
Optimasi Regimen yang Sudah Ada
Pertimbangan Diuretik Thiazide-Like
- Ganti atau tambahkan chlorthalidone atau indapamide sebagai pengganti atau tambahan terhadap regimen saat ini 1
- Diuretik thiazide-like lebih superior dibanding hydrochlorothiazide untuk hipertensi resisten 1
- Dosis: Chlorthalidone 12,5-25 mg sekali sehari atau Indapamide 1,5-2,5 mg sekali sehari 1
Maksimalkan Dosis Telmisartan
- Pasien sudah menggunakan dosis maksimal telmisartan (80 mg), yang tepat untuk proteinuria 1, 4
- Jangan kombinasikan dengan ACE inhibitor karena meningkatkan risiko hiperkalemia dan disfungsi ginjal tanpa manfaat tambahan 1
Target Tekanan Darah yang Tepat
- Target optimal: Tekanan darah sistolik <120-130 mmHg untuk pasien dengan proteinuria dan penyakit ginjal kronik 1, 5
- Target yang lebih rendah ini memberikan perlindungan ginjal tambahan pada pasien proteinuria 1, 5
- Tekanan darah saat ini (140 mmHg sistolik) masih di atas target optimal 1
Algoritma Penambahan Obat
- Langkah pertama: Tambahkan spironolactone 25 mg sekali sehari 1, 3
- Jika tekanan darah masih >130 mmHg setelah 4 minggu: Tingkatkan spironolactone menjadi 50 mg 1, 3
- Jika masih tidak terkontrol: Pertimbangkan mengganti atau menambahkan diuretik thiazide-like (chlorthalidone 12,5-25 mg) 1
- Jika masih resisten: Pertimbangkan alpha blocker (doxazosin) atau clonidine sebagai obat kelima 1, 2
Monitoring Kritis yang Wajib Dilakukan
Pemantauan Kalium Serum
- Risiko hiperkalemia tinggi karena kombinasi ARB + spironolactone + penyakit ginjal kronik 1, 3
- Periksa kalium serum dalam 1 minggu setelah memulai spironolactone, kemudian setiap 2-4 minggu selama 3 bulan pertama 1
- Hentikan spironolactone jika kalium >5 mEq/L atau gunakan potassium binder (patiromer) untuk memungkinkan penggunaan berkelanjutan 1
Pemantauan Fungsi Ginjal
- Periksa kreatinin serum bersamaan dengan kalium 1
- Terima peningkatan kreatinin hingga 30% setelah intensifikasi terapi—ini adalah efek hemodinamik yang diharapkan, bukan alasan untuk menghentikan terapi 1, 4
- Hentikan hanya jika fungsi ginjal terus memburuk >30% atau hiperkalemia refrakter 1, 4
Pemantauan Proteinuria
- Periksa rasio protein-kreatinin urin setiap 3 bulan 1, 5
- Target: Reduksi proteinuria hingga <1 g/hari 1, 4
- Reduksi proteinuria adalah penanda perlindungan ginjal jangka panjang 1, 4, 5
Modifikasi Gaya Hidup yang Wajib
Restriksi Natrium Ketat
- Batasi natrium hingga <2 gram/hari (<90 mmol/hari) 1, 4
- Restriksi natrium meningkatkan efek antihipertensi dan antiproteinurik dari ARB dan spironolactone 1, 4
- Ini adalah intervensi paling penting untuk meningkatkan respons terhadap terapi 1, 4
Edukasi Pasien tentang "Sick Day Rules"
- Instruksikan pasien untuk menghentikan sementara telmisartan, spironolactone, dan diuretik selama sakit dengan risiko deplesi volume (muntah, diare, demam) 1, 4
- Ini mencegah cedera ginjal akut dan hiperkalemia 1
Peringatan Penting dan Jebakan yang Harus Dihindari
Jangan Kombinasikan ARB dengan ACE Inhibitor
- Kontraindikasi absolut untuk menambahkan ACE inhibitor pada pasien yang sudah menggunakan ARB 1
- Kombinasi ini meningkatkan efek samping serius (hiperkalemia, penurunan fungsi ginjal) tanpa manfaat tambahan 1
Jangan Hentikan Terapi Terlalu Cepat
- Jangan hentikan spironolactone atau ARB karena peningkatan kreatinin yang sedang (<30%) 1, 4
- Peningkatan kreatinin awal adalah efek hemodinamik yang diharapkan dan menunjukkan perlindungan ginjal jangka panjang 1, 4
Pertimbangkan Screening Hiperaldosteronisme Primer
- Prevalensi hiperaldosteronisme primer adalah ~20% pada hipertensi resisten 1
- Periksa rasio aldosteron-renin (ARR) sebelum memulai spironolactone jika memungkinkan 1
- Jika ARR tinggi, pertimbangkan rujukan untuk evaluasi lebih lanjut 1
Hindari NSAID
- NSAID memperburuk kontrol tekanan darah dan meningkatkan risiko cedera ginjal 2
- Edukasikan pasien untuk menghindari NSAID over-the-counter 2
Pertimbangan Alternatif Jika Spironolactone Tidak Dapat Digunakan
Jika spironolactone kontraindikasi (hiperkalemia berat, ginekomastia):