What is the next medication for atrial fibrillation with rapid ventricular response unresponsive to digoxin and bisoprolol?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: December 18, 2025View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Obat Lanjutan untuk Fibrilasi Atrial dengan Respons Ventrikel Cepat yang Tidak Responsif

Berikan diltiazem atau verapamil intravena sebagai pilihan utama berikutnya, atau pertimbangkan amiodaron intravena jika terdapat disfungsi ventrikel kiri atau gagal jantung. 1, 2

Pilihan Calcium Channel Blocker Non-Dihydropyridine

Diltiazem atau verapamil intravena adalah pilihan yang paling tepat untuk pasien ini:

  • Diltiazem IV: Berikan bolus 0,25 mg/kg (berat badan aktual) selama 2 menit, dapat diulang dengan 0,35 mg/kg setelah 2 menit jika respons tidak adekuat, kemudian infus kontinyu 5-15 mg/jam 1

  • Verapamil IV: Berikan 5-10 mg selama ≥2 menit (dapat diulang dua kali), kemudian infus kontinyu 5 mg/jam (maksimal 20 mg/jam) 1

  • Kedua obat ini efektif dalam situasi darurat dan superior dibandingkan digoxin untuk kontrol laju jantung, terutama selama aktivitas 1

  • Kombinasi diltiazem dengan digoxin telah terbukti meningkatkan kontrol laju jantung baik saat istirahat (67 ± beats/min) maupun saat latihan puncak (132 ± 32 beats/min) 3

Peringatan penting: Hindari calcium channel blocker pada pasien dengan gagal jantung dengan fraksi ejeksi rendah (LVEF <40%) atau disfungsi sistolik 1

Amiodaron sebagai Alternatif

Amiodaron intravena dapat dipertimbangkan dalam situasi khusus:

  • Indikasi: Pasien dengan instabilitas hemodinamik, LVEF yang sangat rendah, atau ketika agen lain gagal atau kontraindikasi 1, 2

  • Dosis: 150-300 mg IV selama 1 jam, kemudian 10-50 mg/jam selama 24 jam 1

  • Amiodaron memiliki sifat simpatolitik dan antagonis kalsium, efektif menekan konduksi AV 1

  • Kombinasi dengan digoxin memerlukan perhatian khusus: Dosis digoxin harus dikurangi sekitar 50% saat amiodaron dimulai, dengan monitoring ketat untuk bradikardia, blok jantung, dan toksisitas digoxin 2

Terapi Kombinasi

Jika agen tunggal tidak mencapai target laju jantung, terapi kombinasi harus dipertimbangkan:

  • Kombinasi beta-blocker (bisoprolol) dengan calcium channel blocker (diltiazem/verapamil) dapat efektif 1

  • Kombinasi digoxin dengan beta-blocker lebih disukai daripada kombinasi digoxin dengan amiodaron 2

  • Terapi kombinasi dengan berbagai agen kontrol laju harus dipertimbangkan jika agen tunggal tidak mencapai target laju jantung 1

Pertimbangan Khusus dan Peringatan

Evaluasi kondisi yang mendasari sebelum menambah obat:

  • Pastikan tidak ada sindrom pre-eksitasi (WPW), karena digoxin dan calcium channel blocker kontraindikasi absolut pada kondisi ini 1

  • Periksa fungsi ventrikel kiri - jika LVEF <40%, hindari calcium channel blocker dan pertimbangkan amiodaron 1

  • Monitor tekanan darah selama pemberian IV untuk mendeteksi hipotensi yang signifikan secara klinis 1

Jika kontrol laju tetap tidak adekuat meskipun dengan terapi kombinasi optimal, ablasi nodus AV dengan pemasangan pacu jantung mungkin lebih tepat daripada meningkatkan farmakoterapi lebih lanjut 2

Target Laju Jantung

  • Target awal kontrol laju jantung istirahat <110 bpm (kontrol laju lenient) harus dipertimbangkan 1

  • Evaluasi kecukupan kontrol laju jantung selama aktivitas fisik, bukan hanya saat istirahat 1

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.