Diagnosis TB Abdomen
Diagnosis TB abdomen memerlukan kombinasi kecurigaan klinis tinggi, pencitraan (CT scan sebagai modalitas pilihan), dan konfirmasi histopatologi atau mikrobiologi melalui biopsi endoskopi/laparoskopi, karena pemeriksaan mikrobiologi konvensional memiliki sensitivitas rendah. 1, 2, 3
Pendekatan Diagnostik Algoritmik
1. Evaluasi Klinis Awal
- Gejala kunci yang harus dicari: demam (70-84% kasus), nyeri abdomen (65-88%), penurunan berat badan (36-68%), dan keringat malam 1, 2
- Faktor risiko penting: riwayat imigrasi dari daerah endemik (Asia, Afrika), HIV/AIDS, atau imunosupresi 1, 3
- Temuan fisik: asites ditemukan pada 30-67% kasus 1
- Catatan penting: hingga 85% pasien TB abdomen tidak memiliki keterlibatan paru, sehingga tidak adanya penyakit paru tidak menyingkirkan diagnosis 1
2. Kategorisasi Berdasarkan Presentasi Klinis
Algoritma diagnostik bergantung pada kategorisasi temuan klinis dan radiologis ke dalam 5 kategori 2:
A. TB Gastrointestinal (58-60% kasus TB abdomen)
- Lokasi tersering: regio ileosekal dan ileum terminal (50-90% kasus TB gastrointestinal) 1, 2, 4
- Pendekatan diagnostik: kolonoskopi dengan biopsi multipel dari area yang terlibat 2, 3
- Temuan endoskopi: ulkus yang dilapisi histiosit, striktur, atau penyempitan ileosekal 3
B. Peritonitis Basah (Wet Peritonitis)
- Temuan: asites dengan atau tanpa lokulasi 1
- Pendekatan diagnostik: aspirasi asites dengan panduan USG untuk pemeriksaan adenosine deaminase (ADA) dan analisis cairan, diikuti laparoskopi jika diperlukan 2, 3
- Nilai diagnostik: ADA asites memiliki spesifisitas tinggi untuk TB peritoneal 3
C. Peritonitis Kering/Fiksasi (Dry/Fixed Peritonitis)
- Temuan: perlengketan, massa abdomen, atau penebalan peritoneum 2
- Pendekatan diagnostik: endoskopi atau laparoskopi untuk biopsi 2
D. Limfadenopati Mesenterika
- Pendekatan diagnostik: biopsi kelenjar limfe dengan panduan USG, diikuti laparoskopi jika aspirasi tidak diagnostik 2
- Catatan: kultur mikobakteri memiliki sensitivitas hanya 19-28.6% pada kelenjar limfe, tetapi harus tetap dilakukan untuk uji sensitivitas obat 5
E. Lesi Organ Solid
- Pendekatan diagnostik: aspirasi dengan panduan USG 2
3. Modalitas Pencitraan
CT Scan (Modalitas Pilihan)
- Indikasi: CT adalah modalitas pencitraan pilihan untuk deteksi dan penilaian TB abdomen (kecuali TB gastrointestinal) 6
- Temuan karakteristik pada CT:
Studi Barium
- Indikasi: superior untuk menunjukkan lesi mukosa intestinal 6
- Keterbatasan: dapat normal pada TB abdomen dini 4
USG Abdomen
- Temuan diagnostik: penebalan mesenterium ≥15 mm (normal 5-14 mm) dengan peningkatan ekogenisitas, dikombinasi dengan limfadenopati mesenterika 4
- Kegunaan: monitoring respons terapi 6
4. Konfirmasi Diagnostik
Histopatologi (Metode Preferensi)
- Sensitivitas: 69-97% untuk TB ekstrapulmoner 5
- Temuan kunci: granuloma, nekrosis kaseosa, ulkus yang dilapisi histiosit 3
- Prosedur: biopsi multipel dari berbagai lokasi dengan fiksasi segera dalam formalin 7, 2
Pemeriksaan Mikrobiologi
- BTA smear dan kultur: sensitivitas rendah karena sifat paucibacillary, tetapi wajib dilakukan untuk uji sensitivitas obat guna mencegah kegagalan terapi dan kematian pada TB resisten 5, 3, 8
- Xpert MTB/RIF: sensitivitas 85%, spesifisitas 98%, tetapi data terutama dari sampel respiratorik 5
- PCR: sensitivitas meningkat hingga 68% bila dikombinasi dengan metode konvensional, tetapi hasil negatif TIDAK dapat menyingkirkan TB abdomen (tingkat false negative 42-53%) 5
5. Strategi Bila Diagnosis Definitif Tidak Tercapai
- Diagnosis definitif hanya dapat dicapai pada 80% pasien 2
- Pada 20% sisanya: pertimbangkan diagnosis terapeutik (therapeutic trial) dengan ATT, terutama di daerah endemik TB 2, 3
- Kriteria evaluasi objektif wajib:
6. Kapan Mempertimbangkan Laparotomi Diagnostik
- Laparotomi diagnostik harus menjadi pilihan terakhir untuk mencapai diagnosis histologis 2
- Indikasi: ketidakpastian diagnostik setelah semua modalitas lain gagal, atau komplikasi akut (perforasi, obstruksi yang tidak responsif) 1, 2
Peringatan Penting
- Jangan menunda diagnosis: TB abdomen adalah "great mimicker" yang dapat menyerupai penyakit Crohn (terutama di regio ileosekal), keganasan peritoneal, atau sarkoidosis 2, 3, 8
- Pembeda dari Crohn's disease: keringat malam dan tes tuberkulin positif lebih sugestif TB 1
- Komplikasi keterlambatan diagnosis: adhesi, obstruksi, fistula, atau perdarahan masif 8