Can flat foot (pes planus) cause inflammation and abscesses in the heel, especially in patients who are overweight, diabetic, or have a history of foot trauma?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: January 3, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Apakah Flat Foot Bisa Menyebabkan Inflamasi dan Abses di Tumit?

Flat foot (pes planus) sendiri tidak secara langsung menyebabkan abses di tumit, tetapi dapat menyebabkan inflamasi dan meningkatkan risiko ulserasi yang kemudian dapat berkembang menjadi infeksi dan abses, terutama pada pasien dengan diabetes, obesitas, atau neuropati perifer.

Mekanisme Flat Foot Menyebabkan Inflamasi

Flat foot menciptakan beban biomekanis abnormal yang dapat memicu proses inflamasi melalui beberapa jalur:

  • Tekanan plantar yang meningkat: Deformitas pes planus menyebabkan peningkatan tekanan pada midfoot dan tumit selama berjalan dan berdiri, yang mengakibatkan trauma berulang pada jaringan 1.

  • Pembentukan kalus dan perdarahan subkutan: Beban abnormal menyebabkan penebalan kulit (kalus) yang selanjutnya meningkatkan tekanan dan sering menyebabkan perdarahan subkutan 1, 2.

  • Inflamasi fascia plantaris: Pes planus adalah salah satu penyebab anatomis utama plantar fasciitis, yaitu inflamasi pada fascia plantar yang menyebabkan nyeri tumit 3.

Progres dari Inflamasi ke Abses

Pada pasien dengan faktor risiko tertentu, inflamasi dapat berkembang menjadi infeksi dan abses:

Pada Pasien Diabetes:

  • Neuropati perifer menyebabkan hilangnya sensasi protektif, sehingga pasien tidak merasakan trauma berulang dan terus berjalan pada kaki yang cedera 1, 2.

  • Ulserasi neuropatik: Kombinasi tekanan tinggi, deformitas kaki, dan hilangnya sensasi menyebabkan ulkus kronik yang kemudian terkolonisasi bakteri 1, 2.

  • Penyebaran infeksi: Mikroorganisme dapat menyebar secara kontinu ke jaringan subkutan, termasuk fascia, tendon, otot, sendi, dan tulang 1, 2.

  • Abses dalam: Anatomi kaki yang terbagi dalam beberapa kompartemen yang saling berhubungan memfasilitasi penyebaran infeksi proksimal dan pembentukan abses 1.

Pada Pasien Obesitas:

  • Beban berlebih pada arkus kaki: Peningkatan berat badan meningkatkan gaya yang meratakan arkus kaki, memperburuk deformitas pes planus 4.

  • Tekanan plantar yang lebih tinggi: Obesitas meningkatkan tekanan pada area tumit dan midfoot, meningkatkan risiko kerusakan jaringan 3, 4.

Faktor Risiko Kritis untuk Perkembangan Abses

Pasien dengan flat foot berisiko tinggi mengalami abses jika memiliki:

  • Diabetes dengan neuropati perifer - kehilangan sensasi protektif memungkinkan trauma berulang tanpa disadari 1, 5, 2

  • Penyakit arteri perifer (PAD) - mengganggu penyembuhan luka dan meningkatkan risiko infeksi 1, 5, 2

  • Riwayat ulkus atau trauma kaki - meningkatkan risiko infeksi hingga 30-40% dalam tahun pertama 1

  • Kontrol glikemik yang buruk - mengganggu fungsi neutrofil dan penyembuhan luka 2

  • Gagal ginjal kronik - meningkatkan risiko infeksi kaki 1, 2

Tanda Peringatan yang Memerlukan Evaluasi Segera

Pasien dengan flat foot harus segera dievaluasi jika mengalami:

  • Tanda inflamasi: eritema >2 cm, edema, nyeri, hangat, atau drainase purulen 5

  • Tanda infeksi dalam: krepitus, gas dalam jaringan, nekrosis ekstensif, atau bau busuk 5

  • Tanda sistemik: demam, takikardia, hiperglikemia berat, atau ketidakstabilan metabolik 1, 5

  • Probe-to-bone positif: jika probe dapat menyentuh tulang melalui ulkus, sangat sugestif osteomielitis 5

Pencegahan pada Pasien Berisiko Tinggi

Untuk Pasien Diabetes dengan Flat Foot:

  • Offloading yang tepat: Gunakan perangkat offloading seperti removable walker atau total contact cast untuk mengurangi tekanan plantar 1.

  • Alas kaki yang sesuai: Sepatu terapeutik yang dapat mengakomodasi deformitas dan mendistribusikan tekanan secara merata 1.

  • Inspeksi kaki harian: Periksa kulit untuk lesi pra-ulseratif, kalus, atau kerusakan kulit 1, 5.

  • Kontrol glikemik ketat: Mencegah komplikasi neuropati dan meningkatkan penyembuhan luka 1, 2.

Peringatan Penting:

  • Jangan mengabaikan nyeri tumit baru pada pasien diabetes dengan flat foot, bahkan jika tidak ada luka yang terlihat - ini bisa menandakan infeksi dalam atau Charcot neuro-osteoarthropathy 1.

  • Radiografi polos normal tidak menyingkirkan osteomielitis - MRI adalah modalitas pilihan jika dicurigai infeksi tulang 1, 5.

  • Jika terdapat tanda infeksi sedang hingga berat, segera rujuk untuk evaluasi bedah dan mulai antibiotik spektrum luas yang mencakup MRSA, bakteri Gram-negatif, dan anaerob 5.

References

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Guideline

Pathophysiology of Diabetic Foot Ulcers

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Research

Biomechanics and pathophysiology of flat foot.

Foot and ankle clinics, 2003

Guideline

Diagnosis and Management of Diabetic Foot Infections

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.