Dosis Suplementasi Magnesium pada Sindrom Bartter
Untuk pasien dengan sindrom Bartter yang memerlukan suplementasi magnesium, targetkan kadar magnesium plasma >0.6 mmol/L menggunakan garam magnesium organik (aspartat, sitrat, laktat) yang dibagi dalam dosis sekecil mungkin sepanjang hari. 1
Pemilihan Bentuk Magnesium
Gunakan garam magnesium organik (aspartat, sitrat, laktat) karena memiliki bioavailabilitas lebih tinggi dibandingkan magnesium oksida atau hidroksida. 1 Ini sangat penting karena pasien sindrom Bartter mengalami kehilangan magnesium urin yang terus-menerus. 1
Masalah dengan Antasida sebagai Sumber Magnesium
Antasida umumnya mengandung magnesium oksida atau hidroksida, yang memiliki bioavailabilitas rendah. 1 Jika hanya antasida yang tersedia di sistem kesehatan Anda, Anda akan memerlukan dosis yang jauh lebih tinggi untuk mencapai efek terapeutik yang sama, dan ini dapat menyebabkan diare yang memperburuk kehilangan elektrolit. 1
Target Kadar Magnesium
Targetkan kadar magnesium plasma >0.6 mmol/L (>1.5 mg/dL). 1 Target yang tepat untuk sindrom Bartter tidak diketahui secara pasti, tetapi level ini tampak wajar berdasarkan konsensus European Rare Kidney Disease Reference Network. 1
Strategi Pemberian Dosis
Bagi suplementasi magnesium menjadi sebanyak mungkin dosis yang dapat ditoleransi pasien sepanjang hari. 1 Karena kehilangan garam dan elektrolit urin bersifat kontinyu, suplementasi ideal harus sedekat mungkin dengan kontinyu. 1
Rasional Pembagian Dosis
Dosis besar yang jarang akan menyebabkan perubahan cepat dalam kadar darah tergantung pada waktu pengambilan sampel relatif terhadap dosis terakhir. 1 Variasi besar dalam kadar plasma mungkin lebih merugikan daripada kadar subnormal tetapi stabil. 1
Pertimbangan Khusus untuk Bayi
Pada bayi yang menerima feeding tube kontinyu, tambahkan suplemen ke dalam feeding. 1
Dosis Berdasarkan Data Penelitian
Studi kasus melaporkan penggunaan magnesium oksida 800 mg tiga kali sehari (total 2400 mg/hari) pada pasien dewasa dengan sindrom Bartter. 2 Namun, ini menggunakan magnesium oksida dengan bioavailabilitas rendah. 1
Studi kohort Korea melaporkan bahwa pasien sindrom Bartter memerlukan suplementasi kalium dosis besar (rata-rata 5.0 mEq/kg/hari untuk usia <18 tahun dan 2.1 mEq/kg/hari untuk usia ≥18 tahun) bersama dengan agen hemat kalium sepanjang hidup mereka. 3 Meskipun studi ini tidak memberikan dosis magnesium spesifik, ini menunjukkan kebutuhan suplementasi elektrolit jangka panjang yang substansial.
Koreksi Magnesium Penting untuk Manajemen Kalium
Hipomagnesemia adalah penyebab paling umum hipokalemia refrakter dan harus dikoreksi sebelum atau bersamaan dengan suplementasi kalium. 4 Defisiensi magnesium menyebabkan disfungsi sistem transport kalium dan meningkatkan ekskresi kalium renal. 5
Sekitar 40% pasien hipokalemik memiliki hipomagnesemia bersamaan. 4 Pada sindrom Bartter tipe 3 (mutasi CLCNKB), hipomagnesemia sangat umum dan memerlukan perhatian khusus. 1
Pemantauan
Periksa kadar magnesium serum secara teratur bersama dengan elektrolit lain (kalium, natrium, klorida, bikarbonat), fungsi ginjal, dan PTH. 1 Frekuensi pemantauan:
- Bayi dan anak kecil: setiap 3-6 bulan 1
- Anak yang lebih besar dengan terapi stabil: setiap 6-12 bulan 1
- Pasien dewasa: setiap 6-12 bulan 1
Peringatan Penting
Jangan pernah suplementasi kalium tanpa memeriksa dan mengoreksi magnesium terlebih dahulu—ini adalah alasan paling umum kegagalan pengobatan. 4 Pada pasien dengan gangguan ginjal signifikan (kreatinin clearance <20 mL/dL), hindari suplemen magnesium karena risiko hipermagnesemia meningkat dramatis karena regulasi sistemik bergantung pada ekskresi renal. 6
Jika hanya antasida yang tersedia, konsultasikan dengan apoteker atau pemasok medis untuk mencari alternatif garam magnesium organik, karena ini akan memberikan manajemen yang jauh lebih baik untuk pasien sindrom Bartter Anda.