Perbedaan Temuan Autopsi Tenggelam Air Laut vs Air Tawar
Dalam praktik forensik modern, perbedaan utama antara tenggelam di air laut dan air tawar dapat diidentifikasi melalui analisis elektrolit cairan pleura dan densitas cairan sinus, meskipun pedoman internasional menekankan bahwa jenis air tidak memprediksi perjalanan klinis dan diagnosis tenggelam tetap sulit bahkan dengan berbagai metode diagnostik.
Metode Diagnostik Utama
Analisis Elektrolit Cairan Pleura
Metode paling valid: Penjumlahan kadar natrium (Na+), kalium (K+), dan klorida (Cl-) dalam cairan pleura - disebut SUM(Na+K+Cl) - memberikan diferensiasi yang lebih jelas dibanding analisis elektrolit individual 1
Nilai cut-off diagnostik 1:
- Air tawar: SUM(Na+K+Cl) <195.9 mEq/L (sensitivitas 71%)
- Air laut: SUM(Na+K+Cl) >282.7 mEq/L (sensitivitas 91%)
- Non-tenggelam: Rata-rata 239.3±21.7 mEq/L
Metode ini sangat berguna untuk kasus yang ditemukan >2 hari setelah kematian atau dengan efusi pleura substansial (>100 mL) 1
Analisis CT Post-Mortem Cairan Sinus
Densitas cairan sinus menunjukkan perbedaan signifikan antara air laut dan air tawar 2:
- Air laut: Rata-rata 47.28 HU (rentang 14.26-75.98)
- Air tawar: Rata-rata 32.56 HU (rentang -14.38 hingga 77.43)
- Cut-off value: 37.77 HU dengan sensitivitas 77%, spesifisitas 72%, NPV 91% 2
Volume cairan sinus tidak berbeda signifikan antara kedua jenis tenggelam (p=0.6000) 2
Ekspresi Aquaporin-5 (AQP5)
Tenggelam air tawar: Ekspresi AQP5 intrapulmoner dan renal secara signifikan tersupresi dibanding air laut dan kontrol 3
Tenggelam air laut: Tidak ada perbedaan signifikan ekspresi AQP5 dibanding kontrol 3
Mekanisme: Air hipotonik menekan ekspresi AQP5 di sel alveolar untuk mencegah hemodilusi sebagai reaksi vital 3
Temuan Autopsi Klasik
Temuan Eksternal
- Cutis anserina (bulu kuduk berdiri) dapat diamati pada kulit 4
- Washerwoman skin (kerutan pada telapak tangan dan kaki) terjadi setelah perendaman lama, menunjukkan tubuh berada di air 4
Temuan Internal
- Dilatasi jantung kanan dapat diamati 4
- Perubahan terjadi pada paru-paru, cairan tubuh, gas darah, keseimbangan asam-basa, dan konsentrasi elektrolit yang bergantung pada komposisi dan volume cairan yang diaspirasi serta durasi submersion 5
Keterbatasan dan Peringatan Penting
Konsensus Pedoman Internasional
Pedoman Utstein Style (Circulation 2003) menyatakan bahwa jenis air (tawar vs laut) adalah data suplementer, bukan data inti, karena tidak memprediksi perjalanan klinis tenggelam 5
Air yang terkontaminasi berat atau mengandung bahan kimia mungkin memiliki reperkusi klinis yang berbeda 5
Tantangan Diagnostik
Diagnosis tenggelam tetap sulit bahkan dengan berbagai metode 6
Tes diatom masih dianggap sebagai "golden standard" 6
Kombinasi temuan autopsi dan tes diatom merupakan kompromi terbaik saat ini 6
Ahli patologi forensik tidak boleh bergantung eksklusif pada temuan kimia dan harus mempertimbangkan indikator patologis khas tenggelam 1
Faktor Perancu
Kejadian pencetus seperti sinkop, kejang, gangguan akibat obat/alkohol/hipotermia, trauma, dan kejadian kardiak harus dicatat karena dapat mengacaukan diagnosis 4
Durasi submersion adalah faktor penting untuk didokumentasikan 4
Diferensiasi antara tenggelam dan penyebab kematian lain sangat penting, terutama pada kasus dengan bukti trauma atau kondisi medis yang sudah ada sebelumnya 4
Algoritma Praktis Pemeriksaan Forensik
Pemeriksaan eksternal: Cari cutis anserina dan washerwoman skin 4
Pemeriksaan internal: Evaluasi dilatasi jantung kanan dan temuan paru 4
Analisis cairan pleura: Hitung SUM(Na+K+Cl) - nilai <195.9 mEq/L menunjukkan air tawar, >282.7 mEq/L menunjukkan air laut 1
CT post-mortem (jika tersedia): Ukur densitas cairan sinus - nilai >37.77 HU menunjukkan air laut 2
Imunohistokimia AQP5 (jika tersedia): Supresi ekspresi menunjukkan air tawar 3
Tes diatom: Tetap merupakan standar emas 6
Evaluasi komprehensif: Gabungkan semua temuan dengan konteks kasus 1, 6