Regimen TDCS untuk Perbaikan Mood Post Stroke
Berdasarkan pedoman terkini, tidak ada cukup bukti untuk merekomendasikan penggunaan transcranial direct current stimulation (tDCS) untuk perbaikan mood pada pasien post-stroke, dan pendekatan farmakologis dengan SSRI atau SNRI tetap menjadi terapi lini pertama yang direkomendasikan. 1
Posisi Pedoman Klinis Terkini
Pedoman VA/DoD 2024 dan American Heart Association/American Stroke Association 2022 secara eksplisit menyatakan bahwa bukti tidak cukup untuk merekomendasikan tDCS dalam rehabilitasi stroke, termasuk untuk gangguan mood. 1
- Pedoman VA/DoD 2024 memberikan rekomendasi "neither for nor against" untuk non-invasive brain stimulation (termasuk tDCS dan repetitive transcranial magnetic stimulation) pada pasien dalam rehabilitasi stroke 1
- Meskipun beberapa studi menunjukkan transcranial magnetic stimulation dapat mengurangi gejala depresi post-stroke, bukti untuk tDCS masih terbatas 1
Terapi Lini Pertama yang Direkomendasikan
Farmakologis
- SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor) atau SNRI (serotonin norepinephrine reuptake inhibitor) adalah terapi farmakologis lini pertama untuk depresi post-stroke 1, 2, 3
- Mulai dengan sertraline 50 mg per hari, titrasi hingga 100-200 mg per hari berdasarkan respons klinis selama 2-4 minggu 3
- Lanjutkan terapi minimal 6 minggu untuk menilai efek antidepresan penuh 3
Non-Farmakologis
- Cognitive behavioral therapy (CBT) direkomendasikan sebagai terapi efektif untuk depresi post-stroke 1, 2, 3
- Terapi mindfulness-based juga disarankan untuk pengobatan depresi setelah stroke 1, 3
- Program latihan fisik minimal 4 minggu dapat dipertimbangkan sebagai terapi komplementer 2, 4, 3
Bukti Penelitian tDCS (Tidak Cukup untuk Rekomendasi Klinis)
Meskipun pedoman tidak merekomendasikan tDCS, beberapa studi penelitian menunjukkan hasil yang menjanjikan:
Protokol yang Dipelajari dalam Penelitian
- Studi RCT terbesar (2017) menggunakan protokol: anodal tDCS 2 mA selama 30 menit, 12 sesi selama 6 minggu (setiap hari kerja selama 2 minggu, kemudian 1 sesi setiap 2 minggu) 5
- Lokasi stimulasi: anodal di dorsolateral prefrontal cortex (DLPFC) kiri, cathodal di DLPFC kanan 5, 6, 7
- Studi ini menunjukkan perbedaan rata-rata 4.7 poin pada Hamilton Depression Rating Scale (p<0.001), dengan tingkat respons 37.5% vs 4.1% pada kelompok sham 5
Keterbatasan Bukti
- Jumlah pasien dalam studi masih sangat terbatas (studi terbesar hanya 48 pasien) 5
- Tidak ada studi multi-senter berskala besar yang mengkonfirmasi temuan ini 1
- Durasi follow-up jangka panjang masih terbatas 6
Algoritma Penatalaksanaan yang Direkomendasikan
1. Skrining dan Diagnosis
- Gunakan alat skrining tervalidasi: Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9), Hamilton Depression Rating Scale, atau Beck Depression Inventory 1, 2
- Nilai kondisi psikiatrik yang menyertai: anxietas, gangguan bipolar, dan pathological affect 1, 2
2. Terapi Lini Pertama
- Untuk depresi sedang hingga berat: mulai SSRI (sertraline, citalopram, fluoxetine) atau SNRI (duloxetine, venlafaxine) 2, 4, 3
- Rujuk ke psikolog atau psikiater untuk CBT 1, 2
- Berikan edukasi pasien dan keluarga tentang dampak stroke 2, 3
3. Terapi Adjuvan
- Tambahkan program latihan fisik terstruktur minimal 4 minggu 2, 4
- Pertimbangkan mind-body exercise (tai chi, yoga, qigong) 1
4. Monitoring
- Evaluasi ulang gejala depresi dan anxietas secara periodik menggunakan inventori terstruktur 1, 2, 3
- Monitor efektivitas pengobatan minimal 6 minggu 3
Peringatan Penting
Kontraindikasi dan Perhatian Khusus
- Pada pasien dengan riwayat intracerebral hemorrhage (ICH), SSRI harus digunakan dengan hati-hati karena risiko kecil peningkatan perdarahan ulang 1
- Beberapa meta-analisis menunjukkan risiko kecil namun meningkat untuk ICH dengan penggunaan SSRI, terutama pada pasien yang menggunakan antikoagulasi 1
- Jangan gunakan antidepresan profilaksis pada pasien tanpa depresi karena risiko fraktur dan efek samping lain 1, 4, 3
Kapan Merujuk ke Spesialis
- Rujuk ke psikiater atau psikolog berpengalaman jika gangguan mood menyebabkan distress persisten atau memburuknya disabilitas 1, 2, 3
- Pertimbangkan konsultasi untuk pasien dengan depresi berat, ide bunuh diri, atau tidak respons terhadap terapi lini pertama 1
Kesimpulan Praktis
tDCS saat ini masih merupakan modalitas eksperimental untuk depresi post-stroke dan tidak boleh menggantikan terapi standar yang terbukti efektif. Fokus pada implementasi terapi berbasis bukti yang kuat: SSRI/SNRI, CBT, dan program latihan fisik terstruktur. 1, 2, 3