What is involved in a neurological physical examination?

Medical Advisory BoardAll articles are reviewed for accuracy by our Medical Advisory Board
Educational purpose only • Exercise caution as content is pending human review
Article Review Status
Submitted
Under Review
Approved

Last updated: January 11, 2026View editorial policy

Personalize

Help us tailor your experience

Which best describes you? Your choice helps us use language that's most understandable for you.

Pemeriksaan Fisik Neurologis

Pemeriksaan fisik neurologis harus dilakukan secara sistematis menggunakan pendekatan terstandarisasi yang mencakup enam domain inti: status mental, saraf kranial, fungsi motorik, fungsi sensorik, fungsi serebelar, dan refleks, dengan dokumentasi menggunakan skala validasi seperti NIH Stroke Scale bila diperlukan. 1

Komponen Pemeriksaan Status Mental

Evaluasi kesadaran dan fungsi kognitif merupakan langkah awal yang krusial:

  • Tingkat kesadaran dinilai menggunakan Glasgow Coma Scale dengan kategori: alert (sadar penuh), drowsy (mengantuk), obtunded (stupor), atau coma/unresponsive (koma/tidak responsif) 2, 1
  • Orientasi diperiksa dengan mengajukan dua pertanyaan orientasi (orang, tempat, waktu) dan mendokumentasikan jumlah jawaban yang benar 1
  • Kemampuan mengikuti perintah diuji dengan dua perintah sederhana 1
  • Skrining kognitif mencakup penilaian memori, atensi, fungsi eksekutif, dan bahasa menggunakan instrumen terstandarisasi 1

Pemeriksaan Saraf Kranial

Pemeriksaan saraf kranial harus dilakukan secara komprehensif dan sistematis:

Saraf Kranial II-III (Penglihatan dan Pupil)

  • Lapang pandang diperiksa dengan teknik konfrontasi visual 2, 1
  • Reaktivitas pupil terhadap cahaya harus didokumentasikan 2, 1
  • Refleks merah harus dapat terdeteksi dan simetris pada pemeriksaan funduskopi 2, 1

Saraf Kranial III, IV, VI (Gerakan Mata)

  • Gerakan bola mata dinilai untuk mendeteksi palsi tatapan (gaze palsy): normal, palsi parsial, atau palsi komplit 2, 1
  • Hemianopsia dikategorikan sebagai tidak ada defek, hemianopsia parsial, hemianopsia komplit, atau hemianopsia bilateral 2

Saraf Kranial V dan VII (Wajah)

  • Gerakan wajah termasuk senyum, menangis, membuka/menutup mata dinilai dan dikategorikan sebagai: normal, kelemahan minor, kelemahan parsial, atau palsi unilateral komplit 2, 1
  • Ekspresi wajah harus diobservasi secara menyeluruh 2, 1

Saraf Kranial IX, X (Orofaring)

  • Gerakan oromotor termasuk gerakan palatum dan lidah 2, 1
  • Kemampuan menelan harus dievaluasi 1

Saraf Kranial XI dan XII

  • Kualitas angkat bahu untuk menilai fungsi saraf aksesori 2, 1
  • Gerakan lidah dengan observasi adanya fasikulasi 2, 1

Evaluasi Sistem Motorik

Pemeriksaan motorik dilakukan melalui observasi fungsional dan pengujian spesifik:

Kekuatan dan Tonus

  • Penilaian kekuatan dilakukan melalui observasi fungsional gerakan antigravitasi, postur, dan kualitas gerakan 2, 1
  • Tes drift lengan dengan sistem skoring: tidak ada drift, drift sebelum 5 detik, jatuh sebelum 10 detik, tidak ada usaha melawan gravitasi, atau tidak ada gerakan (dinilai untuk kedua sisi) 2, 1
  • Tes drift tungkai menggunakan skala penilaian yang sama 2, 1
  • Bulk dan tekstur otot harus dinilai untuk mendeteksi atrofi 2, 1

Observasi Fungsional Khusus

  • Manuver Gower (ketidakmampuan bangkit dari lantai tanpa mendorong dengan tangan) menunjukkan kelemahan proksimal 2, 1
  • Tonus postural pada bayi dinilai dengan ventral suspension dan posisi truncal saat duduk/berdiri 2
  • Scarf sign pada bayi dan sudut popliteal setelah usia 1 tahun untuk menilai tonus ekstremitas 2

Koordinasi

  • Ataksia ekstremitas dikategorikan sebagai: tidak ada ataksia, ataksia pada 1 ekstremitas, atau ataksia pada 2 ekstremitas 2, 1
  • Gerakan abnormal termasuk gerakan involunter, tremor, rigiditas, dan bradikinesia harus didokumentasikan 1

Pemeriksaan Sistem Sensorik

Evaluasi sensorik mencakup berbagai modalitas:

  • Defisit sensorik dikategorikan sebagai: tidak ada kehilangan sensorik, kehilangan sensorik ringan, atau kehilangan sensorik berat 2, 1
  • Atensi visual dan lapang pandang harus diperiksa secara menyeluruh 1
  • Ekstinksi atau inatensi dinilai dan dikategorikan sebagai: tidak ada, kehilangan ringan pada 1 modalitas sensorik, atau kehilangan berat pada 2 modalitas 2, 1
  • Sensasi sentuhan dan nyeri harus diuji pada anak yang lebih besar 2

Pemeriksaan Bahasa dan Bicara

Fungsi komunikasi merupakan komponen penting:

  • Fungsi bahasa didokumentasikan sebagai: normal, afasia ringan, afasia berat, atau mute/afasia global 2, 1
  • Artikulasi dinilai sebagai: normal, disartria ringan, atau disartria berat 2, 1

Pemeriksaan Refleks

Evaluasi refleks memberikan informasi lokalisasi penting:

  • Refleks tendon dalam harus diperiksa untuk mendeteksi disfungsi motor neuron atas (refleks meningkat) atau bawah (refleks menurun/hilang) 2
  • Refleks plantar abnormal menunjukkan disfungsi motor neuron atas 2
  • Refleks primitif yang persisten dan asimetri atau tidak adanya refleks protektif menunjukkan disfungsi neuromotor 2

Sistem Skoring Terstandarisasi

NIH Stroke Scale (NIHSS)

NIH Stroke Scale adalah standar emas untuk mengkuantifikasi defisit neurologis dalam setting stroke akut, dengan skor berkisar 0-42 poin mencakup 11 domain. 2, 1

Komponen NIHSS mencakup:

  • Tingkat kesadaran (1A-1C): alert hingga koma, orientasi, respons terhadap perintah 2
  • Tatapan mata: gerakan horizontal normal hingga palsi komplit 2
  • Lapang pandang: normal hingga hemianopsia bilateral 2
  • Gerakan wajah: normal hingga palsi unilateral komplit 2
  • Fungsi motorik lengan dan tungkai (kiri dan kanan): tidak ada drift hingga tidak ada gerakan 2
  • Ataksia ekstremitas: tidak ada hingga 2 ekstremitas 2
  • Sensorik: tidak ada kehilangan hingga kehilangan berat 2
  • Bahasa: normal hingga mute/afasia global 2
  • Artikulasi: normal hingga disartria berat 2
  • Ekstinksi/inatensi: tidak ada hingga kehilangan berat pada 2 modalitas 2

NIHSS harus dilakukan pada interval terdefinisi: segera pasca-intervensi, 24 jam, 72 jam, 7-10 hari, 30 hari, dan 90 hari, serta saat terjadi perburukan neurologis (peningkatan 4 poin). 1

Keterbatasan NIHSS

  • NIHSS dapat meremehkan stroke sirkulasi posterior karena tidak menilai vertigo dan disfagia 1
  • Sertifikasi dan pelatihan yang tepat diperlukan untuk mengurangi variabilitas antar-pengamat 1

Temuan Fisik Tambahan

Pemeriksaan sistemik mendukung evaluasi neurologis:

  • Tanda vital termasuk tekanan darah, denyut jantung, saturasi oksigen, dan suhu tubuh 2, 1
  • Parameter pertumbuhan pada anak mencakup lingkar kepala, berat badan, tinggi/panjang badan dengan interpretasi persentil untuk mendeteksi mikrosefali, makrosefali, atau gangguan pertumbuhan 2, 1
  • Tanda parkinsonisme bila relevan: bradikinesia, rigiditas, abnormalitas gait, tremor 1
  • Skrining penglihatan dan pendengaran 2, 1

Pertimbangan Khusus Pediatrik

Pemeriksaan neurologis anak memerlukan modifikasi sesuai usia:

  • Riwayat milestone motorik dengan pertanyaan: "Apakah ada sesuatu yang tidak dapat dilakukan anak Anda yang menurut Anda seharusnya bisa dilakukan?" 2, 1
  • Regresi keterampilan: "Apakah ada sesuatu yang dulu bisa dilakukan anak Anda tetapi sekarang tidak bisa lagi?" 2, 1
  • Milestone aberan seperti berguling supine ke prone sebelum prone ke supine, propping asimetris 1
  • Anak harus beristirahat dengan baik dan nyaman untuk pemeriksaan neuromotor optimal, namun informasi diagnostik penting masih dapat diperoleh melalui observasi kualitas dan kuantitas gerakan pada anak yang tidak kooperatif 2

Peringatan Penting dalam Praktik Klinis

  • Tidak ada tanda pemeriksaan fisik atau studi diagnostik yang dapat memprediksi outcome buruk pada survivor cardiac arrest koma dalam 24 jam pertama setelah ROSC 2
  • Setelah 72 jam pada pasien koma tanpa hipotermia, tidak adanya refleks cahaya pupil dan refleks kornea memprediksi outcome buruk dengan reliabilitas tinggi 2
  • Faktor perancu seperti hipotensi, kejang, sedatif, atau blokade neuromuskular harus tidak ada untuk prognostikasi yang akurat 2
  • Pemeriksaan neurologis memerlukan keterampilan yang dipelajari, disempurnakan, dan dipraktikkan sepanjang karir, dengan modifikasi spesifik sesuai usia dan ekspektasi perkembangan 3
  • Hipotonia, respons plantar ekstensor, dan kurangnya fiksasi visual mungkin normal pada bayi preterm tetapi abnormal pada usia beberapa bulan 3

Struktur Dokumentasi

Dokumentasi yang komprehensif harus mencakup:

  • Onset dan progresivitas gejala: timing, kualitas, dan evolusi gejala neurologis 1
  • Faktor risiko: hipertensi, hiperlipidemia, diabetes, merokok, penggunaan alkohol 1
  • Riwayat penyakit dahulu: stroke sebelumnya, TIA, infark miokard, fibrilasi atrial, penyakit arteri perifer 1
  • Medikasi: semua obat termasuk sediaan over-the-counter dalam 48 jam 1
  • Riwayat keluarga: stroke, penyakit vaskular, atau demensia pada kerabat tingkat pertama 1

References

Guideline

Neurological Examination in Clinical Practice

Praxis Medical Insights: Practical Summaries of Clinical Guidelines, 2025

Guideline

Guideline Directed Topic Overview

Dr.Oracle Medical Advisory Board & Editors, 2025

Research

Clinical neurological examination of infants and children.

Handbook of clinical neurology, 2013

Professional Medical Disclaimer

This information is intended for healthcare professionals. Any medical decision-making should rely on clinical judgment and independently verified information. The content provided herein does not replace professional discretion and should be considered supplementary to established clinical guidelines. Healthcare providers should verify all information against primary literature and current practice standards before application in patient care. Dr.Oracle assumes no liability for clinical decisions based on this content.

Have a follow-up question?

Our Medical A.I. is used by practicing medical doctors at top research institutions around the world. Ask any follow up question and get world-class guideline-backed answers instantly.