Efek Mycophenolate Mofetil pada Anestesia
Mycophenolate mofetil dapat menyebabkan leukopenia dan hipertensi yang relevan secara perioperatif, namun obat ini harus dilanjutkan hingga hari operasi dan tidak memerlukan penyesuaian dosis anestesi khusus. 1
Pertimbangan Perioperatif Utama
Status Pasien sebagai "Frail"
- Pasien yang mengonsumsi mycophenolate mofetil harus dianggap sebagai pasien "frail" dengan risiko komplikasi perioperatif yang meningkat 1
- Manajemen multidisiplin yang melibatkan ahli anestesi, ahli bedah, dan dokter yang meresepkan imunosupresan sangat penting 1, 2
Efek Samping Perioperatif yang Relevan
Berdasarkan pedoman WSES/GAIS 2021, mycophenolate mofetil memiliki profil efek samping spesifik yang harus diperhatikan selama periode perioperatif: 1
- Leukopenia (+): Dapat meningkatkan risiko infeksi perioperatif 1
- Hipertensi (+): Memerlukan monitoring hemodinamik yang ketat selama anestesia 1
Manajemen Obat Perioperatif
Kelanjutan Terapi
- Mycophenolate mofetil harus dilanjutkan pada dosis saat ini selama periode perioperatif 2
- Untuk pasien dengan lupus eritematosus sistemik berat atau kondisi autoimun lainnya, dosis mycophenolate mofetil, azathioprine, cyclosporine, atau tacrolimus saat ini harus dilanjutkan 2
- Dosis obat imunosupresan pada pasien transplantasi harus dilanjutkan pascaoperasi dengan monitoring kadar darah steady-state harian 1
Tidak Ada Interaksi Langsung dengan Obat Anestesi
- Tidak ada data definitif tentang efek obat anestesi terhadap sistem imun, namun ahli anestesi harus menyadari efek imunosupresif dari berbagai obat dan prosedur 1, 2
- Mycophenolate mofetil tidak memerlukan penyesuaian dosis pelemas otot non-depolarisasi (berbeda dengan cyclosporine yang memerlukan dosis lebih kecil) 1
Pemilihan Obat Anestesi yang Aman
Obat yang Dapat Digunakan dengan Aman
Meskipun tidak ada kontraindikasi khusus untuk mycophenolate mofetil, prinsip umum untuk pasien imunosupresi berlaku: 2
- Etomidate, atracurium, remifentanil, dan desflurane dapat digunakan dengan aman karena metabolismenya tidak bergantung pada enzim sitokrom P450 1, 2
- Untuk pelemas otot non-depolarisasi, lebih baik menggunakan agen yang tidak bergantung pada fungsi ginjal dan hati (cisatracurium, atracurium) atau yang memiliki obat reversal (sugammadex) 1
Evaluasi dan Monitoring Perioperatif
Penilaian Praoperasi Komprehensif
Bahkan dalam prosedur darurat, penilaian praoperasi lengkap sangat disarankan, meliputi: 1
- Status kardiopulmoner
- Laju filtrasi glomerulus (karena metabolit mycophenolate dapat terakumulasi pada gangguan ginjal) 3
- Fungsi hati
- Analisis gas darah
- Penilaian risiko perdarahan
- Monitoring elektrokardiografi sepanjang prosedur bedah
Monitoring Intraoperatif
- Hitung darah lengkap (CBC) harus diperiksa karena mycophenolate mofetil dapat menyebabkan leukopenia yang meningkatkan risiko infeksi 1, 3
- Monitoring tekanan darah ketat karena mycophenolate dapat menyebabkan hipertensi 1
- Monitoring suhu tubuh dan pencegahan hipotermia sangat penting karena hipotermia ringan dapat mengganggu koagulasi dan meningkatkan angka infeksi pascaoperasi 1
Pencegahan Infeksi
Tindakan Pencegahan Ketat
- Tindakan pencegahan infeksi yang ketat harus diterapkan karena mycophenolate mofetil meningkatkan kerentanan terhadap infeksi virus dan bakteri 1, 3
- Status sitomegalovirus harus diperiksa jika memungkinkan 1
- Pasien harus segera ditutup dan dihangatkan secara aktif saat tiba di ruang operasi 1
Peringatan Penting dan Jebakan Umum
Jangan Hentikan Obat
- Jangan menghentikan mycophenolate mofetil sebelum operasi karena dapat menyebabkan flare penyakit atau penolakan transplantasi 2, 4
- Berbeda dengan agen biologik yang harus dihentikan sebelum operasi elektif, mycophenolate mofetil harus dilanjutkan 2
Perhatian Khusus pada Gangguan Ginjal
- Pada pasien dengan gangguan ginjal, metabolit glukuronida (MPAG) dapat terakumulasi hingga lima kali lipat kadar normal pada penyakit ginjal stadium akhir, yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap berbagai efek samping 3