Kriteria PO2 untuk Ekstubasi Anak dengan Ventilator
Untuk ekstubasi anak dengan ventilator, tidak ada nilai PO2 spesifik yang ditetapkan sebagai kriteria mutlak, namun target saturasi oksigen (SpO2) ≥92-95% dengan FiO2 ≤0.50 dan PEEP ≤5-6 cmH2O merupakan parameter oksigenasi yang direkomendasikan dalam extubation readiness testing. 1
Parameter Oksigenasi untuk Ekstubasi
Target Saturasi Oksigen
- SpO2 ≥95% direkomendasikan untuk paru-paru yang sehat saat bernapas udara ruangan 1
- Untuk kondisi penyakit, target SpO2 ≤97% untuk menghindari hiperoksia 1
- Dalam konteks extubation readiness test, SpO2 yang adekuat dengan FiO2 0.50 dan PEEP 5 cmH2O menunjukkan kesiapan ekstubasi 2
Oxygenation Index sebagai Kriteria
- Oxygenation Index (OI) ≤6 merupakan threshold yang digunakan untuk memulai extubation readiness test 2
- OI dihitung sebagai: (Mean Airway Pressure × FiO2 × 100) / PaO2
- Studi menunjukkan bahwa anak dengan OI ≤6 yang lulus extubation readiness test memiliki positive predictive value 92-93% untuk ekstubasi sukses 2
Protokol Extubation Readiness Testing
Kriteria Awal Screening
Sebelum melakukan extubation readiness test, pastikan: 1, 2
- Oxygenation Index ≤6
- Anak bernapas spontan
- Tingkat kesadaran adekuat
- Tidak ada sedasi kontinyu
Parameter Ventilator untuk Testing
Saat melakukan extubation readiness test: 2
- FiO2 diturunkan menjadi 0.50
- PEEP diturunkan menjadi 5 cmH2O
- Pressure support minimal
- Observasi selama periode testing
Monitoring Selama Testing
Parameter yang harus dimonitor: 1
- SpO2 kontinyu - harus tetap ≥92-95%
- PaO2 arterial untuk penyakit sedang-berat
- pH dan laktat untuk penyakit sedang-berat
- Usaha napas dan tanda distres respirasi
Pertimbangan Penting Berdasarkan Kondisi Klinis
Untuk PARDS (Pediatric Acute Respiratory Distress Syndrome)
Target oksigenasi berbeda: 1
- SpO2 92-97% jika PEEP <10 cmH2O
- SpO2 88-92% jika PEEP ≥10 cmH2O
- Ini menunjukkan bahwa anak dengan PARDS memerlukan kriteria yang lebih ketat sebelum ekstubasi
Untuk Penyakit Paru Restriktif atau Obstruktif
- Pengukuran PaO2 arterial direkomendasikan untuk penyakit sedang-berat 1
- Target ventilasi dan oksigenasi harus disesuaikan dengan penyakit dasar
- Mean airway pressure dan FiO2 yang lebih tinggi mengindikasikan risiko kegagalan ekstubasi lebih tinggi 3
Prediktor Kegagalan Ekstubasi Terkait Oksigenasi
Parameter yang Meningkatkan Risiko Kegagalan
Berdasarkan penelitian prospektif pada 208 anak: 3
- FiO2 yang tinggi sebelum ekstubasi (p<0.05)
- Mean airway pressure yang tinggi (p<0.05)
- Oxygenation Index yang tinggi (p<0.05)
- Tidal volume rendah (<7.5 mL/kg) 4
Threshold Risiko
- Risiko rendah (<10%): OI ≤6, FiO2 rendah, mean airway pressure rendah 3, 2
- Risiko tinggi (≥25%): OI >6, FiO2 tinggi, mean airway pressure tinggi 3
Algoritma Praktis untuk Keputusan Ekstubasi
Langkah 1: Evaluasi Harian
- Lakukan daily extubation readiness testing segera setelah kondisi membaik 1
- Mulai weaning sesegera mungkin untuk meminimalkan durasi ventilasi 1
Langkah 2: Screening Oksigenasi
- Hitung Oxygenation Index
- Jika OI ≤6, lanjutkan ke extubation readiness test 2
- Jika OI >6, optimalisasi ventilasi dan oksigenasi terlebih dahulu
Langkah 3: Extubation Readiness Test
- Turunkan FiO2 ke 0.50 dan PEEP ke 5 cmH2O 2
- Monitor SpO2, usaha napas, dan tanda distres
- Jika SpO2 tetap ≥92-95% dengan parameter minimal ini, pertimbangkan ekstubasi 1, 2
Langkah 4: Timing Ekstubasi
- Anak yang lulus extubation readiness test sebaiknya diekstubasi dalam 10 jam 2
- Median waktu ekstubasi yang optimal adalah sekitar jam 12:15 siang 2
- Penundaan ekstubasi meningkatkan mortalitas dan lama rawat 5
Pitfall yang Harus Dihindari
Kesalahan Umum dalam Evaluasi Oksigenasi
- Menggunakan hanya SpO2 tanpa mempertimbangkan FiO2 dan PEEP - ini dapat memberikan false reassurance 3, 2
- Tidak menghitung Oxygenation Index - OI memberikan gambaran lebih komprehensif tentang status oksigenasi 3, 2
- Menunda ekstubasi pada anak yang sudah lulus testing - penundaan meningkatkan risiko komplikasi 5, 2
Monitoring yang Tidak Adekuat
- Tidak mengukur PaO2 arterial pada penyakit sedang-berat - SpO2 saja mungkin tidak cukup 1
- Tidak memonitor pH dan laktat - gangguan metabolik dapat mempengaruhi outcome 1
- Tidak menilai usaha napas - oksigenasi adekuat tidak menjamin ekstubasi sukses jika usaha napas berlebihan 6, 3