Metronidazol untuk Cholangitis
Metronidazol bukan pilihan lini pertama untuk cholangitis, tetapi dapat digunakan sebagai terapi tambahan untuk cakupan anaerob pada kasus berat atau sebagai alternatif pada hepatic encephalopathy, meskipun harus digunakan dengan sangat hati-hati pada pasien dengan penyakit hati karena risiko toksisitas neurologis yang serius.
Rekomendasi Antibiotik Lini Pertama untuk Cholangitis
Pedoman internasional tidak merekomendasikan metronidazol sebagai agen tunggal untuk cholangitis:
- Fluoroquinolone (ciprofloxacin) adalah pilihan lini pertama untuk kasus ringan 1
- Cephalosporin generasi ketiga atau extended-spectrum penicillin dengan cakupan anaerob untuk kasus berat 1
- Organisme paling umum adalah E. coli, Klebsiella, Enterococcus, Clostridium, Streptococcus, Pseudomonas, dan Bacteroides 1
Peran Metronidazol dalam Cholangitis
Sebagai Terapi Tambahan (Bukan Monoterapi)
Metronidazol dapat ditambahkan untuk cakupan anaerob pada situasi tertentu:
- Infeksi polimikrobial dengan kecurigaan anaerob 1
- Cholangitis berat dengan sepsis atau syok - kombinasi dengan cephalosporin atau penicillin spektrum luas 1
- Pasien dengan striktur bilier kompleks atau instrumentasi sebelumnya 1
Bukti Klinis Terbatas
Studi menunjukkan metronidazol tidak meningkatkan outcome bila ditambahkan secara rutin:
- Penelitian prospektif dengan 676 pasien cholangitis akut berat menunjukkan tidak ada perbedaan dalam tingkat keberhasilan drainase bilier (93.2% vs 94.7%), waktu kontrol infeksi (10.4 vs 8.9 hari), atau mortalitas (1.2% vs 0.6%) antara kelompok dengan dan tanpa metronidazol 2
- Metronidazol dapat dikeluarkan dari regimen lini pertama jika drainase bilier emergensi dapat dilakukan secara efisien 2
Peringatan Kritis pada Pasien dengan Penyakit Hati
Risiko Toksisitas Neurologis yang Serius
Ini adalah pertimbangan paling penting untuk pasien dengan penyakit hati:
- Pasien dengan penyakit hati berat memetabolisme metronidazol secara lambat, menyebabkan akumulasi obat dan metabolitnya dalam plasma 3
- Dosis harus dikurangi di bawah rekomendasi standar dan diberikan dengan sangat hati-hati 3
- Sirosis hati menyebabkan konsentrasi metronidazol dan metabolitnya lebih tinggi dalam darah, membuat dosis kumulatif harus dijaga <20 gram 4
Metronidazole-Induced Encephalopathy (MIE)
Komplikasi yang mengancam jiwa pada pasien dengan penyakit hati:
- Ensefalopati dapat terjadi pada dosis kumulatif serendah 22 gram pada pasien dengan sirosis dekompensata 4
- Manifestasi klinis: ataksia serebelar akut, disartria, konfusi mental, dan penurunan kesadaran 4, 5
- MRI otak menunjukkan hiperintensitas bilateral pada dentate nuclei, corpus callosum, batang otak, dan substansia alba 4, 5
- Tidak selalu reversibel - kasus fatal dengan perdarahan petechial dan outcome buruk telah dilaporkan meskipun metronidazol dihentikan 5
Dilema Diagnostik pada Hepatic Encephalopathy
Peringatan khusus: Pasien dengan penyakit hati alkoholik yang mengalami ensefalopati menciptakan dilema diagnostik:
- Sulit membedakan antara hepatic encephalopathy (di mana metronidazol adalah alternatif terapi) versus MIE (di mana metronidazol harus segera dihentikan) 4
- Kegagalan menghentikan metronidazol tepat waktu dapat memperburuk hepatic encephalopathy 4
- Metronidazol memang merupakan pilihan alternatif untuk hepatic encephalopathy, tetapi bukan lini pertama dan memiliki efek samping signifikan termasuk malabsorpsi intestinal, nefrotoksisitas, ototoksisitas, dan neuropati perifer 1, 6
Algoritma Penggunaan Metronidazol pada Cholangitis dengan Penyakit Hati
Langkah 1: Evaluasi Keparahan
- Cholangitis ringan tanpa sepsis: Gunakan ciprofloxacin monoterapi, hindari metronidazol 1
- Cholangitis berat dengan sepsis/syok: Pertimbangkan cephalosporin atau extended-spectrum penicillin dengan cakupan anaerob 1
Langkah 2: Jika Metronidazol Dipertimbangkan
- Hanya jika ada indikasi kuat untuk cakupan anaerob (infeksi polimikrobial, striktur kompleks, instrumentasi sebelumnya) 1
- Kurangi dosis di bawah standar pada pasien dengan penyakit hati berat 3
- Batasi dosis kumulatif total <20 gram 4
- Durasi maksimal 7-14 hari, hindari penggunaan jangka panjang 1
Langkah 3: Monitoring Ketat
- Monitor tanda neurologis setiap hari: ataksia, disartria, konfusi, perubahan status mental 4, 5
- Hentikan segera jika ada tanda MIE 4, 5
- Pertimbangkan MRI otak jika ensefalopati berkembang 4, 5
Langkah 4: Drainase Bilier Emergensi
- Drainase bilier adalah kunci utama, bukan antibiotik saja 1
- ERCP atau drainase perkutan harus dilakukan segera pada cholangitis berat dengan striktur dominan 1
Alternatif yang Lebih Aman
Untuk pasien dengan penyakit hati dan cholangitis, prioritaskan:
- Ciprofloxacin monoterapi untuk kasus ringan-sedang 1, 7
- Cephalosporin generasi ketiga (ceftazidime, ceftriaxone) untuk kasus berat 1
- Drainase bilier emergensi sebagai terapi definitif 1
- Hindari metronidazol kecuali benar-benar diperlukan untuk cakupan anaerob spesifik 3, 4
Kesimpulan Praktis
Metronidazol dapat digunakan untuk cholangitis, tetapi bukan pilihan optimal, terutama pada pasien dengan penyakit hati. Risiko toksisitas neurologis yang serius dan potensi outcome fatal membuat metronidazol harus digunakan dengan sangat selektif, pada dosis rendah, durasi terbatas, dan dengan monitoring neurologis ketat. Prioritaskan fluoroquinolone atau cephalosporin dengan drainase bilier emergensi sebagai strategi utama.