Ampicillin-Sulbactam untuk Kolangitis dan Infeksi Gastrointestinal
Ampicillin-sulbactam efektif untuk kolangitis ringan yang didapat dari komunitas pada pasien tanpa penyakit hati berat, tetapi TIDAK direkomendasikan untuk kolangitis sedang hingga berat karena tingginya tingkat resistensi E. coli di komunitas. 1
Rekomendasi Berdasarkan Tingkat Keparahan Kolangitis
Kolangitis Ringan (Community-Acquired)
- Ampicillin-sulbactam merupakan pilihan lini pertama yang sesuai untuk kolangitis ringan yang didapat dari komunitas pada pasien yang tidak dalam kondisi kritis 1, 2
- Dosis yang digunakan dalam penelitian klinis adalah 3-9 g/hari (rasio sulbactam:ampicillin 1:2) secara intravena atau intramuskular, tergantung pada tingkat keparahan infeksi 3
- Efikasi klinis mencapai 85% pada pasien dengan kolangitis dalam studi prospektif 3
Kolangitis Sedang hingga Berat
- Ampicillin-sulbactam TIDAK direkomendasikan karena tingkat resistensi E. coli yang tinggi di komunitas 1
- Piperacillin-tazobactam adalah pilihan lini pertama yang lebih disukai untuk kolangitis sedang hingga berat 1, 2
- Alternatif lain termasuk carbapenem (meropenem, imipenem-cilastatin, atau ertapenem) 4, 1
Situasi Khusus yang Memerlukan Pertimbangan
Pasien dengan Penyakit Hati Kronis
- Ampicillin-sulbactam menunjukkan efikasi terapeutik yang baik (85% kesembuhan atau perbaikan) pada pasien dengan penyakit hati kronis yang mengalami infeksi saluran empedu 3
- Kontraindikasi absolut: Pasien dengan riwayat jaundice kolestatik atau disfungsi hepatik yang terkait dengan ampicillin-sulbactam sebelumnya 5
- Fungsi hati harus dipantau secara berkala karena risiko hepatotoksisitas, termasuk hepatitis dan jaundice kolestatik 5
Pasien dengan Anastomosis Bilier-Enterik
- Ampicillin-sulbactam memberikan cakupan anaerob yang memadai untuk pasien dengan anastomosis bilier-enterik 1
- Metronidazole harus ditambahkan jika menggunakan sefalosporin generasi ketiga, tetapi tidak diperlukan dengan ampicillin-sulbactam 1
Infeksi Terkait Layanan Kesehatan (Healthcare-Associated)
- Ampicillin-sulbactam tidak boleh digunakan untuk kolangitis terkait layanan kesehatan atau pada pasien dengan instrumentasi bilier sebelumnya (stenting, ENBD, PTBD) 1
- Sefalosporin generasi keempat atau piperacillin-tazobactam lebih disukai dalam situasi ini 4, 1
Penetrasi Bilier dan Farmakokinetik
- Konsentrasi puncak dalam empedu: sulbactam 19,4 mcg/ml dan ampicillin 471 mcg/ml terjadi 0,5-1 jam setelah pemberian 6
- Konsentrasi dalam dinding kandung empedu: sulbactam 6,3 mcg/g dan ampicillin 7 mcg/g 6
- Peringatan penting: Pada obstruksi bilier, penetrasi semua antibiotik termasuk ampicillin-sulbactam sangat terganggu 1
Prinsip Pengobatan yang Kritis
Drainase Bilier adalah Wajib
- Antibiotik saja tidak akan mensterilkan saluran empedu yang tersumbat 1, 2
- Dekompresi bilier darurat dalam 24 jam diperlukan untuk kolangitis berat 2
- Menunda drainase bilier sambil melanjutkan antibiotik saja merupakan kesalahan fatal 1
Durasi Terapi
- 4 hari tambahan setelah drainase bilier yang berhasil untuk kasus tanpa komplikasi 2
- 7-10 hari untuk sepsis berat atau pasien immunocompromised 2
- Terapi profilaksis jangka panjang (misalnya, co-trimoxazole) kadang-kadang diperlukan untuk kolangitis berulang karena penyakit intrahepatik kompleks, tetapi harus dibatasi karena masalah resistensi 1
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
- Jangan gunakan ampicillin-sulbactam untuk kolangitis sedang hingga berat karena tingkat resistensi yang tinggi 1
- Jangan menunda dekompresi bilier lebih dari 48 jam pada kolangitis sedang hingga berat 2
- Jangan gunakan pada pasien dengan riwayat jaundice kolestatik terkait ampicillin-sulbactam 5
- Jangan abaikan kebutuhan untuk memantau fungsi hati secara teratur pada pasien dengan gangguan hati 5
- Jangan gunakan untuk infeksi terkait layanan kesehatan atau pasien dengan instrumentasi bilier sebelumnya 4, 1
Efek Samping dan Keamanan
- Efek samping yang diamati dalam studi klinis: kandidiasis oral (7%), nyeri di tempat injeksi IM (7%) 3
- Tidak ada perubahan signifikan dalam tes kimia darah pada pasien dengan penyakit hati kronis 3
- Risiko reaksi hipersensitivitas serius termasuk anafilaksis dan Stevens-Johnson syndrome 5
- Risiko diare terkait Clostridium difficile (CDAD) 5