Dosis Azitromisin untuk Pertusis
Azitromisin adalah agen lini pertama untuk pengobatan pertusis dengan dosis yang bervariasi berdasarkan usia: untuk bayi <6 bulan gunakan 10 mg/kg/hari selama 5 hari, untuk anak ≥6 bulan gunakan 10 mg/kg (maksimum 500 mg) pada hari 1 diikuti 5 mg/kg/hari (maksimum 250 mg) pada hari 2-5, dan untuk dewasa gunakan 500 mg pada hari 1 diikuti 250 mg/hari pada hari 2-5. 1, 2, 3
Dosis Berdasarkan Kelompok Usia
Bayi <6 Bulan
- 10 mg/kg per hari selama 5 hari (dosis tunggal harian) 1, 2, 3
- Azitromisin adalah pilihan yang disukai dibandingkan eritromisin pada kelompok usia ini karena risiko stenosis pilorus hipertrofik infantil (IHPS) yang jauh lebih rendah 3, 4
- Untuk bayi <1 bulan (neonatus), azitromisin adalah makrolida yang direkomendasikan karena profil keamanan yang lebih baik 1, 3
Anak ≥6 Bulan dan Remaja
- 10 mg/kg (maksimum 500 mg) pada hari 1 1, 2, 3
- 5 mg/kg per hari (maksimum 250 mg) pada hari 2-5 1, 2, 3
- Regimen 5 hari ini telah terbukti sama efektifnya dengan eritromisin 14 hari dalam mengeradikasi B. pertussis 5, 6
Dewasa
Keunggulan Azitromisin
Efikasi
- Azitromisin memiliki efikasi mikrobiologis yang sama dengan eritromisin, dengan tingkat eradikasi bakteri 100% pada akhir terapi 6
- Tidak ada kekambuhan bakteriologis yang dilaporkan setelah penyelesaian terapi azitromisin 6
- Studi menunjukkan kultur negatif pada 94,3% pasien pada hari ke-7 dan 100% pada hari ke-14 setelah memulai terapi 7
Tolerabilitas dan Kepatuhan
- Efek samping gastrointestinal jauh lebih rendah dengan azitromisin (18,8%) dibandingkan eritromisin estolat (41,2%) 6
- Tingkat kepatuhan secara signifikan lebih tinggi: 90-93% pasien menyelesaikan seluruh kursus azitromisin dibandingkan hanya 55-57% dengan eritromisin 6, 8
- Regimen dosis tunggal harian selama 5 hari lebih mudah diikuti dibandingkan eritromisin yang memerlukan dosis terbagi selama 14 hari 1, 6
Pertimbangan Penting dalam Pemberian
Waktu Pemberian
- Jangan berikan azitromisin bersamaan dengan antasida yang mengandung aluminium atau magnesium karena mengurangi absorpsi obat; pisahkan pemberian minimal 2 jam 1, 3
- Berikan sebagai dosis tunggal harian, dapat diberikan dengan atau tanpa makanan 1
Pemantauan Keamanan
- Pada bayi <6 bulan yang menerima makrolida, pantau tanda-tanda IHPS (muntah proyektil, massa olive-shaped di epigastrium) meskipun risiko dengan azitromisin jauh lebih rendah 1, 4
- Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan fungsi hati 1, 3
- Pertimbangkan pemantauan EKG pada pasien yang menggunakan obat yang memperpanjang interval QTc (misalnya citalopram) 3
Interaksi Obat
- Pantau pasien yang menggunakan obat yang dimetabolisme oleh sistem enzim sitokrom P450 (misalnya digoksin, triazolam, alkaloid ergot) 1, 3
- Tidak seperti eritromisin dan klaritromisin, azitromisin bukan inhibitor kuat P450 sehingga memiliki profil interaksi obat yang lebih baik 3
Waktu Optimal Pengobatan
- Pengobatan paling efektif bila dimulai pada fase kataral (2 minggu pertama) ketika dapat mengurangi durasi dan keparahan gejala 3, 4
- Pengobatan pada fase paroksismal (>3 minggu) memiliki manfaat klinis terbatas tetapi tetap diindikasikan untuk mencegah transmisi 3, 4
- Mulai antibiotik segera setelah kecurigaan klinis tanpa menunggu konfirmasi kultur karena pengobatan dini dengan cepat membersihkan B. pertussis dari nasofaring 3
Profilaksis Pasca-Pajanan
- Gunakan regimen dosis yang sama seperti untuk pengobatan 1, 3
- Prioritaskan profilaksis untuk semua kontak rumah tangga, terutama bayi <12 bulan dan wanita hamil trimester ketiga 1, 3
- Isolasi pasien di rumah selama 5 hari setelah memulai antibiotik untuk mencegah transmisi 3, 4
Peringatan Penting
- Antibiotik mengeliminasi B. pertussis dari nasofaring tetapi tidak mengubah perjalanan klinis batuk paroksismal yang sudah terjadi 4
- Batuk paroksismal akan berlanjut selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan meskipun terapi antibiotik yang tepat ("batuk 100 hari") 4
- Jangan gunakan penekan batuk, kortikosteroid, β-agonis kerja panjang, antihistamin, atau imunoglobulin pertusis karena tidak terbukti bermanfaat dalam mengendalikan paroksisme batuk 3, 4
- Efek samping umum azitromisin termasuk ketidaknyamanan perut, diare, mual, muntah, sakit kepala, dan pusing 1