Metronidazol Plus Levofloxacin untuk Kolitis dengan Infeksi Sekunder
Kombinasi metronidazol plus levofloxacin tidak direkomendasikan untuk kolitis ulseratif dengan atau tanpa infeksi sekunder, karena pedoman terkini secara tegas menyatakan tidak ada regimen antibiotik yang dapat direkomendasikan untuk penyakit aktif maupun pemeliharaan remisi pada kolitis ulseratif. 1
Rekomendasi Berdasarkan Pedoman Terkini
Untuk Kolitis Ulseratif (Ulcerative Colitis)
- ESPEN 2023 memberikan rekomendasi Grade 0 yang menyatakan tidak ada regimen antibiotik yang dapat direkomendasikan untuk kolitis ulseratif, baik untuk penyakit aktif (termasuk kolitis akut berat) maupun untuk pemeliharaan remisi 1
- Metronidazol sebagai agen tunggal terbukti tidak efektif untuk kolitis ulseratif aktif dalam uji klinis terkontrol 1, 2
- Ciprofloxacin (bukan levofloxacin) sebagai agen tunggal juga tidak menunjukkan manfaat dan bahkan inferior dibandingkan plasebo dalam beberapa studi 1
- Kombinasi tobramycin dan metronidazol tidak efektif sebagai terapi adjuvan pada kolitis akut berat 1, 3
Pengecualian Penting: Pouchitis
- Ciprofloxacin adalah pilihan pertama untuk pouchitis akut pada pasien yang telah menjalani operasi ileoanal pouch untuk kolitis ulseratif, dengan metronidazol sebagai alternatif 1, 4
- Untuk pouchitis kronik refrakter, kombinasi ciprofloxacin dengan metronidazol atau tinidazole menunjukkan tingkat remisi 82-87.5% 1
- Dosis yang direkomendasikan: ciprofloxacin 1 g/hari dan metronidazol 800 mg-1 g/hari selama 28 hari 1
Konteks Infeksi Sekunder yang Sebenarnya
Jika "Infeksi Sekunder" Berarti Infeksi Intra-Abdominal Kompleks
- Untuk infeksi intra-abdominal kompleks yang memerlukan cakupan spektrum luas terhadap bakteri gram-negatif dan anaerob, kombinasi ciprofloxacin plus metronidazol adalah pilihan yang tepat 1, 4
- Namun ini berbeda dengan pengobatan kolitis ulseratif itu sendiri 1
Jika "Infeksi Sekunder" Berarti Superinfeksi Bakterial pada IBD
- Antibiotik hanya diindikasikan untuk komplikasi infeksi yang terdokumentasi (seperti abses, C. difficile, atau CMV), bukan untuk mengobati kolitis ulseratif itu sendiri 1, 5
- Penggunaan antibiotik spektrum luas yang tidak tepat meningkatkan risiko infeksi C. difficile dan resistensi antibiotik 4, 5
Peringatan Penting dan Kesalahan Umum
Resistensi dan Efek Samping
- Resistensi ciprofloxacin meningkat, terutama pada Shigella species, dan harus dihindari jika MIC ciprofloxacin ≥0.12 μg/mL meskipun dilaporkan sensitif 4
- FDA memperingatkan efek samping serius fluoroquinolone (termasuk levofloxacin dan ciprofloxacin) seperti ruptur tendon, neuropati perifer, dan efek SSP 4
- Metronidazol menyebabkan lebih banyak efek samping dibandingkan ciprofloxacin, termasuk rasa metalik, neuropati dengan penggunaan jangka panjang, dan intoleransi alkohol 4
Kesalahan Konsep yang Harus Dihindari
- Jangan menggunakan antibiotik untuk "mengobati" kolitis ulseratif aktif dengan harapan memperbaiki peradangan usus - bukti menunjukkan ini tidak efektif 1
- Jangan menggunakan metronidazol sebagai terapi lini pertama untuk infeksi C. difficile jika dicurigai - gunakan vancomycin oral atau fidaxomicin 4
- Jangan menggunakan regimen spektrum luas untuk infeksi ringan-sedang yang didapat dari komunitas karena meningkatkan risiko toksisitas dan organisme resisten 1
Algoritma Pengambilan Keputusan
Langkah 1: Identifikasi jenis kolitis yang tepat
- Kolitis ulseratif aktif tanpa komplikasi → Tidak ada indikasi antibiotik 1
- Pouchitis akut pasca-operasi → Ciprofloxacin 1 g/hari 1, 4
- Pouchitis kronik refrakter → Ciprofloxacin 1 g/hari + metronidazol 800 mg-1 g/hari 1
Langkah 2: Cari komplikasi infeksi yang terdokumentasi
- Abses intra-abdominal → Drainase + antibiotik spektrum luas 1, 5
- C. difficile → Vancomycin oral atau fidaxomicin (bukan metronidazol) 4
- Superinfeksi bakterial terdokumentasi → Antibiotik sesuai kultur dan sensitivitas 1
Langkah 3: Jika tidak ada indikasi di atas
- Jangan berikan antibiotik - fokus pada terapi imunosupresan standar untuk IBD 1