Temuan Bakteri Banyak pada Pemeriksaan Feses Rutin Pasien Kolitis
Temuan bakteri yang banyak pada pemeriksaan feses rutin pasien kolitis menunjukkan kemungkinan kolitis infeksius yang memerlukan kultur spesifik dan pemeriksaan toksin, bukan hanya pemeriksaan mikroskopis rutin, karena pemeriksaan feses standar tidak dapat membedakan antara kolitis infeksius dan kolitis ulseratif (inflammatory bowel disease). 1
Interpretasi Klinis Temuan Bakteri
Pada Kolitis Infeksius
- Kultur feses spesifik harus dilakukan untuk mengidentifikasi patogen invasif seperti Shigella, Salmonella, Campylobacter, E. coli penghasil Shiga toxin (STEC), dan Clostridium difficile 1, 2
- Pemeriksaan toksin C. difficile wajib dilakukan pada semua pasien dengan kolitis, terutama yang memiliki riwayat penggunaan antibiotik atau imunosupresan 1
- Jumlah leukosit total dan hitung jenis dapat meningkat pada patogen bakteri invasif, dengan predominan neutrofil 1
Pada Kolitis Ulseratif (IBD)
- Infeksi bakteri enterik jarang ditemukan pada pasien kolitis ulseratif aktif - hanya 1 dari 64 pasien yang ditemukan patogen pada studi prospektif 3
- Namun, perubahan flora mukosa dapat terjadi, dengan peningkatan jumlah aerob dan anaerob, terutama Bacteroides vulgatus 4, 5
- Kolonisasi bakteri oportunistik (Streptococcus beta-hemolitik, Staphylococcus aureus, Candida, C. difficile) dapat terjadi sebagai akibat hilangnya resistensi kolonisasi akibat pengobatan 3
Pendekatan Diagnostik yang Tepat
Pemeriksaan Wajib
- Kultur feses standar untuk patogen invasif (Shigella, Salmonella, Campylobacter) 1, 2
- Tes toksin C. difficile - pasien IBD memiliki risiko lebih tinggi untuk infeksi C. difficile dan risiko kolektomi berikutnya 1
- Tes Shiga toxin langsung jika dicurigai STEC, terutama bila demam rendah atau tidak ada demam dengan disentri akut 1, 2
- Biomarker inflamasi feses (kalprotektin, laktoferrin) untuk membedakan kolitis inflamatorik dari non-inflamatorik 1
Pemeriksaan Tambahan Berdasarkan Konteks
- PCR untuk virus dan parasit tergantung setting klinis 1
- Pemeriksaan CMV pada pasien dengan imunosupresi 1
- Kultur darah jika ada tanda sepsis 1
Diferensiasi Kolitis Infeksius vs IBD
Indikator Kolitis Infeksius
- Onset mendadak dengan demam dan disentri 2
- Riwayat perjalanan internasional, konsumsi makanan laut, atau paparan epidemiologis lain 1
- Leukositosis dengan predominan neutrofil 1
- Kultur positif untuk patogen spesifik 1, 2
Indikator IBD (Kolitis Ulseratif)
- Gejala kronik (≥14 hari) tanpa identifikasi sumber infeksi 1
- Kultur feses negatif untuk patogen standar 3
- Perubahan arsitektur mukosa pada histopatologi 1
- Respons antibodi tinggi terhadap flora mukosa normal (terutama B. vulgatus) 4
Peringatan Penting dan Pitfall
Jangan Mengabaikan Superinfeksi
- Pasien IBD dengan penggunaan kortikosteroid memiliki risiko independen untuk kolitis infeksius 1
- Infeksi C. difficile pada pasien IBD sering tidak menunjukkan pseudomembran klasik (hanya 13% vs 50% pada non-IBD) 1
- Superinfeksi dapat memicu flare IBD dan memperburuk gambaran klinis 1
Keterbatasan Pemeriksaan Rutin
- Pemeriksaan mikroskopis feses rutin tidak cukup untuk diagnosis - kultur spesifik dan tes toksin diperlukan 1, 6
- Kultur spesimen biopsi menambah nilai diagnostik minimal dibanding kultur cairan intraluminal atau feses 6
- Histologi bukan alat yang baik untuk mengidentifikasi infeksi bakteri, terutama C. difficile 1
Kapan Mempertimbangkan Endoskopi
- Sigmoidoskopi fleksibel dapat dilakukan untuk konfirmasi diagnosis kolitis berat dan menyingkirkan infeksi, terutama CMV 1, 7
- Kolonoskopi lengkap tidak direkomendasikan pada kolitis akut berat karena risiko perforasi 1, 7
- Visualisasi pseudomembran endoskopik dapat cukup untuk diagnosis C. difficile tanpa penyebab lain yang jelas 7, 8
Implikasi Prognostik
Pada Kolitis Infeksius
- Terapi antimikroba spesifik harus dimulai untuk semua bentuk kolitis infeksius kecuali STEC 2
- Azitromisin 1000mg dosis tunggal dapat diberikan secara empiris untuk diare disentri febris 2
Pada IBD dengan Perubahan Flora
- Perubahan flora mukosa dan respons antibodi terhadap B. vulgatus dapat berperan dalam patogenesis kolitis ulseratif 4, 5
- Monitoring ketat diperlukan untuk deteksi kolonisasi bakteri oportunistik akibat terapi 3
- Kondisi non-infeksius termasuk IBD dan post-IBS harus dipertimbangkan pada gejala ≥14 hari tanpa sumber teridentifikasi 1